Wednesday, June 2, 2010

Please go... (1)

Kamu merasa kalau kamu ditolak, itu adalah hal yang paling membuat sakit hati?

Kamu merasa hidupmu hancur berkeping-keping ketika kamu ditolak?

Sini saya beritahu satu hal

Itu bukan hal terburuk

Menurut saya saat ini, hal terburuk adalah ketika kamu berhadapan dengan situasi dimana kamu mau tak mau, berada di posisi sebagai orang yang menolak

Karena ini menyangkut perasaan orang lain

Yang dengan sangat sangat menyesal, tak bisa kita balas

Rasa bersalah itu datang menerjang dengan hebatnya

Rasa bersalah yang sangat kuat, sampai kadang terus membayangi kita sampai bertahun-tahun kemudian

Dan ketika kita perlahan sudah mulai bisa menghilangkan rasa bersalah itu,

tiba-tiba dia kembali datang dengan nama persahabatan

Dan kita pun memulai dari awal

Tapi kamu sedikit menjaga jarak

Karena tidak ingin hal yang lalu kembali terulang

Karena kamu tak sanggup harus melihat rasa pedih di matanya walau selebar apapun senyumannya

Karena kamu tak sanggup melihat dia harus jatuh lagi

Namun sekeras apapun kamu mencoba untuk menjauh, tetap tak bisa merubah apa-apa

Garis Tuhan sejak awal sudah menentukan bahwa ini semua akan terulang kembali

Dan kita tidak bisa apa-apa selain menerima


Ya, dia kembali menawarkan rasa itu

Dan kemudian, rasa bersalah itu datang kembali. Dua kali lipat lebih hebat dari yang pertama. Karena kita tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tapi kali ini, kamu menimbang terlebih dahulu. Kamu memikirkan semuanya dengan baik-baik.

Karena kamu tak mampu melihat dia seperti waktu itu

Yang terlihat rapuh dan terluka hanya karena kamu

Kemudian kamu bertanya pada dirimu sendiri "Apa bagusnya saya sampai dia harus kembali lagi? Sungguh. Saya ini hanya seorang saya! Yang tak punya kelebihan apa-apa. Tak bisakah dia mencari pengganti yang lain? Tak bisakah dia melupakan saya?"

Kemudian kamu kembali bertanya : "Kenapa saya menolaknya?" dan kemudian kamu terdiam. Memikirkan semua jawaban dari pertanyaanmu sendiri.

Jauh di dalam sana, hati kecil kamu pasti berkata : "Saya akan dicintai orang ini sepenuh hati. Karena setelah penolakan selama ini, dia masih tetap kembali"

Tapi kemudian, hati kamu yang lain berkata : "Saya tidak bisa memaksakan rasa ini. Saya tidak bisa membohonginya dan berpura-pura memiliki rasa yang sama. Dia terlalu baik untuk kebohongan seperti itu"

Dan kemudian, dengan tarikan nafas panjang, untuk yang kedua kalinya, kamu menolaknya. Dengan kata sehalus mungkin, dengan cara penyampaian sebaik mungkin.

Tapi mau bagaimanapun halusnya kata-kata dan baiknya cara penyampaiannya, rasa sakit itu pasti akan tumbuh di dirinya. Pasti. Dan kamu juga mengetahui itu. Dan rasa sakit itu pun kembali menjalari hatimu. Dan kamu akan kembali merasa bersalah. Sangat bersalah karena telah menghancurkan hati yang baik itu. Lagi.

Kemudian dia menghubungimu. Tapi kamu pura-pura acuh. Kamu berusaha untuk tidak mempedulikannya. Karena kamu pikir yang terbaik untuknya adalah jika kamu pergi dari hidupnya.
Betapapun kamu merindukannya sebagai sahabatmu, betapapun kamu merasa bahwa ini semua salah. Tapi kamu tidak sanggup lagi membuatnya merasa terluka. Dan karena itu, kamu pun menghilang dari hidupnya. Berharap luka itu akan sedikit menghilang dari dirinya.

Percayalah, rasa menolak tidak jauh lebih ringan dibanding ditolak. Karena kamu, harus menghancurkan hati yang baik itu.


"Kalau saat ini saya meminta kamu untuk pergi menjauh dari saya agar saya tak menyakiti hatimu lagi untuk yang kedua kalinya, maukah kamu pergi?" Bisikmu pelan.

No comments: