Sunday, June 20, 2010

Hari Ayah


Dear Langit,

Kemarin adalah hari ayah. Ah, aku sendiri baru tahu kemarin adalah hari ayah ketika malam sudah menjelang. Dan ayah sudah tidur. Aku tak sempat mengucapkan selamat padanya.

Ayah...

Langit, kau tahu ayahku? Jika kau mengenalnya, kau pasti akan menyukainya. Ya, ayahku orang yang mudah disukai. Dia humoris, santai, dan merupakan sesosok orang yang menyenangkan.

Kadang aku heran. Dengan jabatan ayah di salah satu departemen yang berada di bawah naungan departemen keuangan, beliau bisa sangat sederhana. Padahal aku tau, jika ia mau, ia bisa hidup dengan cara semewah seperti teman-teman yang berada di posisi yang sama dengannya. Beliau sebenarnya bisa saja mempunyai sopir seperti kebanyakan teman-temannya. Tapi beliau tidak menginginkannya. Katanya "Kasian ah sopirnya. Lagian ayah masih bisa nyetir sendiri." Ya, Langit. Itulah Ayahku.

Langit, tahukah kau bahwa hampir setiap minggunya, ayahku mengerjakan pekerjaan yang kebanyakan orang lain malas mengerjakannya? Ayahku masih naik genteng untuk memperbaiki genteng yang bocor. Ayahku masih mencuci mobilnya sendiri, walaupun aku tahu dia bisa membayar orang untuk melakukannya. Ayahku lebih memilih memakai celana pendek dan kaos oblong sambil menaiki sepedanya untuk keluar rumah dibanding keluar dengan membawa mobilnya.

Ayahku juga pandai memasak. Tinggal selama 2 tahun di US sana ketika ayahku mengambil S2 dulu, membuat ayahku mau tak mau belajar masak. Dan kebiasaan itu dibawanya sampai saat ini. Setiap minggu, ayahku biasanya berkutat di dapur. Mengerjakan tugas-tugas yang biasanya dikerjakan mama.

Ayahku ketika S2 dulu, itu dari beasiswa yang diterimanya. Dan tahukah kau Langit, untuk mendapat beasiswa itu, orang-orang yang dipilih hanyalah orang-orang dengan nilai TOEFL 500 kalau tidak salah. Ayahku, yang tidak pernah sekalipun seumur hidupnya les bahasa inggris, berhasil mendapat nilai diatas 500. Tahukah kau apa yang dilakukan ayahku, Langit? Dia menerjemahkan satu kata persatu kata dalam buku text booknya yang semuanya berbahasa inggris dengan kamusnya. Ya, Langit. Dengan tekun, ditelusurinya satu kata per satu kata, satu baris per satu baris, satu halaman per satu halaman, dan kemudian diterjemahkannya dengan satu kamus besar yang dimilikinya. Dan kemudian, berangkatlah ia ke US sana. Ayah mengambil S2 di salah satu universitas disana. Illinois. Luar biasa ya? Ayah, yang hanya menerjemahkan kata perkata, bisa mendapat beasiswa S2 ke amerika mengalahkan teman-temannya yang kebanyakan adalah lulusan LIA, IEC, EF, dan tempat kursus bahasa Inggris lainnya!

Oya Langit, kau tau kantor ayahku? Sini kuceritakan. Pernah satu kali aku masuk ke dalam kantor ayahku. Saat itu kantor ayahku dan kampusku berdekatan. Jadi aku bisa sekalian pulang bersamanya. Dan ketika itu, aku pulang agak cepat. Jadi aku harus menunggu sebentar di kantor ayahku.

Tahukah kau Langit, bahwa orang-orang disana setiap bertemu ayahku sedikit menundukan kepala dan tersenyum? Aku kaget melihatnya. Dan ketika kami melewati beberapa anak buah ayahku yang sedang bekerja, mereka menadahkan muka dari komputer masing-masing dan kemudian tersenyum. Aku bingung, Langit. Karena di mataku, dia tetap hanyalah seorang ayah dengan kaos oblong dan celana pendeknya yang suka naik genteng untuk memperbaiki genteng yang bocor.

Ah Langit, ternyata aku baru tahu. Bahwa apa yang di dapat ayahku sekarang, bukanlah tanpa perjuangan. Kemarin, aku, ayahku, dan mamaku bercerita di dalam mobil. Ketika kami dalam perjalanan ke PRJ. Ya, di malam minggu kemarin, kami bertiga ke PRJ. Demi memuaskan Mama yang entah kenapa ingin sekali ke PRJ.

Mama bercerita tentang masa-masa susah dahulu. Ketika air di rumah kami waktu di Semarang, sangat susah didapat. Dimana kami selalu membeli air keliling dan hanya mendapat satu drum kecil. Ketika ayah harus bolak balik dari Bandung ke Jakarta, dan Jakarta ke Bandung dengan bis malam. Ya Langit, sejak kecil aku dan seluruh keluargaku harus pindah dari satu kota ke kota yang lain. Waktu SD saja, selama 6 tahun, aku sudah pindah sebanyak 5 kali. Orang bilang jika dibiasakan untuk pindah-pindah, maka ketika besar nanti, orang itu akan mudah bergaul dan bisa cepat beradaptasi dengan suasana baru. Sayang Langit, teori itu memang mudah. Mereka tak tahu jika sering pindah, sang anak stres luar biasa. Tapi sudahlah, kali ini aku tidak ingin berbicara tentang aku. Aku ingin berbicara tentang ayahku, orang yang paling kuhormati.

Ya Langit, masa-masa susah itu dulu kami lewati. Sayang, aku tak begitu ingat. Jika aku ingat, mungkin aku bisa lebih menghargai apa yang kupunya saat ini. Dan bukannya terus-terusan merengek minta dibelikan laptop atau gadget lainnya seperti yang kulakukan dari kemarin-kemarin.

Pengalaman-pengalaman masa lalu itulah yang akhirnya membuat Ayah menjadi sosok seperti sekarang ini, Langit. Sungguh Langit, luar biasa mempunyai orang tua seperti mereka. Ayah dan Mama. Tak pernah aku berhenti bersyukur karena Allah telah menakdirkan Ayah dan Mama menjadi orang tuaku. Tapi sayang, gengsi ini kadang luar biasa tinggi. Aku sering malu untuk mengucapkan "aku sayang ayah" atau "aku sayang mama" dan kemudian mengecup mereka. Entahlah Langit... lebih mudah bagiku mengucapkan kata sayang itu lewat media seperti ini. Bodoh ya?

Tapi tenanglah Langit, barusan aku sudah menyampaikan rasa itu :)

Oya Langit, mudah-mudahan ini bukan postingan riya ya. Karena sungguh, aku hanya ingin berbagi tentang betapa luar biasanya ayahku. Bangga menjadi salah satu anaknya :D


Selamat hari Ayah, yah...

Aku bersyukur punya orang tua seperti Ayah dan Mama...

*eh tapi ini judulnya hari ayah ya? Ah sudahlah.. tak mengurangi rasa bersyukurku memiliki orang tua seperti mereka*

2 comments:

Nury said...

So sweet... seandainya bokap lw baca, dy pasti bangga punya anak kya lw met...

satu hal yang lupa lw tulis... Ayah lw tampan dan gagah.... hoakakakkakaa

Poooffy said...

Nury : heaaaa.. gua mah masih ngerasa belom bisa ngebuat bangga bokap gw. Hahahaha...

Komen buat paragraf lo yang kedua : ya ampun -_-"