kadang sendiri itu menyenangkan
kadang sendiri itu menenangkan
kadang sendiri itu indah
kadang sendiri itu anugerah
sayang...
seringkali sendiri itu
adalah disaat kita kecewa
adalah disaat kita merana
padahal, mungkin saja
kekasih sejati kita, adalah kesunyian
*hanya beberapa kalimat yang saya kopi paste dari suatu website*
Saturday, April 24, 2010
Friday, April 23, 2010
Apakah hamba baru bisa mengingat-Mu ketika hamba merasa berada di masa-masa sulit, Ya Rabb?
Apakah hamba baru bisa merasakan kehadiran-Mu, Ya Rabb, ketika hamba telah merasakan sakit?
Apakah hamba baru sadar untuk mendekat kepada-Mu, Ya Rabb, ketika cobaan itu datang?
dengan kepala tertunduk dan hati yang kotor, hamba mengakui bahwa itu semua benar...
Apakah hamba baru bisa merasakan kehadiran-Mu, Ya Rabb, ketika hamba telah merasakan sakit?
Apakah hamba baru sadar untuk mendekat kepada-Mu, Ya Rabb, ketika cobaan itu datang?
dengan kepala tertunduk dan hati yang kotor, hamba mengakui bahwa itu semua benar...
Tuesday, April 20, 2010
Dia istimewa!
"Aahh... rasanya gue jatuh cinta..." katanya dengan senyum merekah. Tak pernah selama ini dia terlihat begitu bersinar.
"Ha? Sama siapa?"
"Dia... selalu dia..." katanya lagi sambil mendesah.
"Dia siapa?"
"Dia!" Jawabnya bersikeras.
"Iya dia siapa?"
"Dia yang selalu berada di samping gue.. Dia yang selalu bisa menenangkan gue.. Dia yang selalu bisa bikin gue ketawa abis nangis..." dia kemudian tertawa kecil mengingat semua kejadian itu.
"Ya ampun... elo beneran jatuh cinta yaa??"
"Err... what did i just tell you? Kan gue udah bilang dari awal kalo gue lagi jatuh cintaaaa!!" ujarnya sambil tersenyum lebar. Tapi kemudian senyum itu lenyap.
"Loh, kenapa?"
"Rasanya.. rasanya nggak mungkin..." Senyum itu menghilang. Kepalanya menunduk lesu.
"Kenapa?"
Dia tidak menjawab. Hanya menggeleng.
"Cerita dong sama gue. Ada apa? Dia cowok orang?"
Dia menggeleng
"Dia suami orang?"
Dia kembali menggeleng.
"Dia..." kemudian dia kembali terdiam dan menghela nafas panjang. Setelah itu dia mendongak sambil tersenyum simpul.
"Dia lagi melayang di belakang lo sekarang..."
"Ha? Sama siapa?"
"Dia... selalu dia..." katanya lagi sambil mendesah.
"Dia siapa?"
"Dia!" Jawabnya bersikeras.
"Iya dia siapa?"
"Dia yang selalu berada di samping gue.. Dia yang selalu bisa menenangkan gue.. Dia yang selalu bisa bikin gue ketawa abis nangis..." dia kemudian tertawa kecil mengingat semua kejadian itu.
"Ya ampun... elo beneran jatuh cinta yaa??"
"Err... what did i just tell you? Kan gue udah bilang dari awal kalo gue lagi jatuh cintaaaa!!" ujarnya sambil tersenyum lebar. Tapi kemudian senyum itu lenyap.
"Loh, kenapa?"
"Rasanya.. rasanya nggak mungkin..." Senyum itu menghilang. Kepalanya menunduk lesu.
"Kenapa?"
Dia tidak menjawab. Hanya menggeleng.
"Cerita dong sama gue. Ada apa? Dia cowok orang?"
Dia menggeleng
"Dia suami orang?"
Dia kembali menggeleng.
"Dia..." kemudian dia kembali terdiam dan menghela nafas panjang. Setelah itu dia mendongak sambil tersenyum simpul.
"Dia lagi melayang di belakang lo sekarang..."
Sunday, April 18, 2010
Ending yang nggak cangcing

Pernah ngerasa bete pas baca buku karena ending buku yang kerasa kurang greget?
Dari awal sampe pertengahan, kita ngerasa excited banget pas baca buku karena imajinasi yang kita buat berdasarkan cerita di buku itu, menggila.
Tapi pas ending, mood langsung drop total gara-gara ending yang disajikan kurang maknyos?
Pernah ngerasa gitu?
Ya. Gue lagi ngerasain ini sekarang.
Gue ini pecinta buku dengan genre yang bisa di bilang fantasi yang dibumbui cerita cinta (blush). Entah itu tentang suatu kerajaan, peri, iblis, malaikat, monster, penyihir, manusia serigala, vampir, elf, fey, minotaur, warlock, dan lain sebagainya. Genre ini adalah genre buku yang puaalliiinng gue suka. Banget! *mungkin karena ini pula gue adalah tipe penghayal tingkat tinggi*
Anyway, waktu hari Jumat kemaren, gue sengaja melipir ke Gramedia demi beli buku buat gue hajar pas wiken ini. Dan yak, gue dapet 2 novel dengan genre kesukaan gue ini. Seneng banget dan nggak sabar baca novel ini. Karena novel terakhir bergenre ini yang gue beli sekitar sebulan lalu. Dan gue udah haus banget sama bacaan baru.
Buku pertama, gue baca tanpa berhenti selama beberapa belas jam. Intinya, gue ngabisin buku itu sampe nggak tidur semalaman. Yah, emang karena insomnia kampret ini kembali menerjang gue, dan buku itu emang keren. Bikin gue nggak mau nutup buku itu sebelum gue selesai baca keseluruhannya.
Bisa kebayang nggak, gue baca itu novel sampe gue nggak tidur dan pas pagi hari gue mendapati bahwa dua tokoh utama yang jatuh cinta di novel itu ternyata sebenarnya adalah adik kakak? Dem! Serius, gue sampe gregetan sendiri mukul-mukul tu novel ke kasur gue sangking nggak terimanya sama ending buku itu. Itu yang pertama. Abis itu gue tidur.
Pas bangun, gue beresin rumah sebentar, trus kembali masuk kamar dan berkutat sama novel yang satu lagi.
Ending buku kedua ini, ga semenyebalkan yang pertama. Mereka bukan adik kakak *thank god* Tapi sayang, pas ending, si tokoh lelakinya meninggal aja gitu. Bah!
Oke. Mood wiken gue ancur gara-gara ending 2 novel ini nggak semenyenangkan yang gue kira. Meh!
*waktunya nonton New Moon lagi untuk bikin mood gue kembali baik*
Dari awal sampe pertengahan, kita ngerasa excited banget pas baca buku karena imajinasi yang kita buat berdasarkan cerita di buku itu, menggila.
Tapi pas ending, mood langsung drop total gara-gara ending yang disajikan kurang maknyos?
Pernah ngerasa gitu?
Ya. Gue lagi ngerasain ini sekarang.
Gue ini pecinta buku dengan genre yang bisa di bilang fantasi yang dibumbui cerita cinta (blush). Entah itu tentang suatu kerajaan, peri, iblis, malaikat, monster, penyihir, manusia serigala, vampir, elf, fey, minotaur, warlock, dan lain sebagainya. Genre ini adalah genre buku yang puaalliiinng gue suka. Banget! *mungkin karena ini pula gue adalah tipe penghayal tingkat tinggi*
Anyway, waktu hari Jumat kemaren, gue sengaja melipir ke Gramedia demi beli buku buat gue hajar pas wiken ini. Dan yak, gue dapet 2 novel dengan genre kesukaan gue ini. Seneng banget dan nggak sabar baca novel ini. Karena novel terakhir bergenre ini yang gue beli sekitar sebulan lalu. Dan gue udah haus banget sama bacaan baru.
Buku pertama, gue baca tanpa berhenti selama beberapa belas jam. Intinya, gue ngabisin buku itu sampe nggak tidur semalaman. Yah, emang karena insomnia kampret ini kembali menerjang gue, dan buku itu emang keren. Bikin gue nggak mau nutup buku itu sebelum gue selesai baca keseluruhannya.
Bisa kebayang nggak, gue baca itu novel sampe gue nggak tidur dan pas pagi hari gue mendapati bahwa dua tokoh utama yang jatuh cinta di novel itu ternyata sebenarnya adalah adik kakak? Dem! Serius, gue sampe gregetan sendiri mukul-mukul tu novel ke kasur gue sangking nggak terimanya sama ending buku itu. Itu yang pertama. Abis itu gue tidur.
Pas bangun, gue beresin rumah sebentar, trus kembali masuk kamar dan berkutat sama novel yang satu lagi.
Ending buku kedua ini, ga semenyebalkan yang pertama. Mereka bukan adik kakak *thank god* Tapi sayang, pas ending, si tokoh lelakinya meninggal aja gitu. Bah!
Oke. Mood wiken gue ancur gara-gara ending 2 novel ini nggak semenyenangkan yang gue kira. Meh!
*waktunya nonton New Moon lagi untuk bikin mood gue kembali baik*
Friday, April 16, 2010
New Moon

Oke. Gue akan mengaku.

Selama seminggu ini,
setiap harinya
gue
selalu
nonton
New Moon
There! I've said it!
Dan maksud gue setiap harinya, bener-bener setiap harinya. 7 hari seminggu, 7 kali pula gue nontonin tu dvd bajakan yang gambarnya udah cangcing abeeesss!!!
Dan setelah gue selesai nonton, pasti gue deg-degan dan ngelus dada dan bilang : "Tuhan Yang Maha Besar... Terima kasih telah menciptakan wajah setampan itu" sambil mandangin Edward yang lagi gue pause.
Pertama gue nonton film ini di bioskop dan premiere pulak, Thanks to Nury dan temannya Lidya, gue ngerasa ga dapet banget feelnya. Film ini gregetnya kurang banget menurut gue. Padahal gue udah menanti-nantikan banget film ini, secara directornya aja Chris Weitz yang bikin film Golden Compass yang gue sukaaa banget sama tu film. Dan gue yakin, adegan action dengan efek komputernya bakalan cangcing. Well, emang udah terbukti kok di film Golden Compass. Sayang aja tu film ga tau bakalan berlanjut apa nggak. Padahal gue nungguin banget sekuelnya. Cih!
Anyway, yes, saat itu gue amat sangat nggak puas dengan film ini. Entah apa karena gue nonton pas pulang kantor dengan kepala pusing dan mata kuyu gara-gara kerjaan ngebludak makanya gue ngerasa New Moon ini bener-bener nggak bikin gue jejingkrakan kayak Twilight dulu. *yes. Gue kerja di hari sabtu. Mantafs!*
Dan dibanding Twilight, gue lebih prefer Twilight kemana-mana.
Sangking betenya gue sama film ini waktu itu, gue males banget banget bangeeettt googling-googling lagi tentang Twilight saga *Damn! I'm freak!*
Beberapa waktu lalu yang memang udah beberapa bulan dari New Moon ini di puter di Indonesia, akhirnya gue beli dvdnya. Sebenernya karena gue bosen aja gitu nontonin Twilight terus-terusan. Gue butuh asupan wajah Edward yang lebih banyak lagi buat ngebangkitin mood gue. Dan akhirnya, gue pun beli dvd New Moon ini.
Dan ketika gue nonton film ini di rumah, sumpah, gue jatuh cinta banget sama film ini. Gue nggak tau, apa mungkin karena gue emang lagi rileks dan kepala gue nggak lagi kayak mau mleduk kayak waktu itu atau gimana, tapi gue sangat sangat sangat menikmati film ini.
Dan akhirnya gue mengakui, bahwa gue jaaauuuhhhhh menyukai film ini dibanding Twilight. Selain gambarnya yang jauh lebih bagus, actionnya yang juga oke, dan yang paling penting adalah, mata gue dimanjakan dengan hadirnya para tokoh-tokoh nan rupawan yang bikin jantung gue berdegup kencang *pipi merona*
Dan Edward terlihat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat tampaaaaaannnn di film ini! Jauh lebih tampan dibanding Twilight yang dia masih keliatan banget Robert Pattinsonnya *halah*
Jadi begitulah review gue tentang film ini yang amat sangat tidak obyektif. Sabodo teuing! Pokoke Team Edwaaaarrrrrdddd!!!!

Oiya. Dan gue menyadari bahwa di film ini, baju yang dipake Edward cuman beberapa doang. Kaos plus kemeja yang dia pake waktu pas awal-awal film yang di sekolah dan dia ngucapin dialog Romeo *kipas-kipas*, yang kedua pas ultah Bella dan dia pake baju yang diatas ini. Kemeja biru plus jas. Dan bayangannya yang muncul terus, bajunya tetep sama kayak ini.
Abis itu pas di volterra, dia pake kemeja item sampe akhirnya di buka dan kemudian diganti sama jubah warna merah. Terakhir, dia tetep pake jas, cuman dia nggak pake kemeja tapi pake kayak sweater yang fit di badan.
Buat pakaian? Gue jauuuhh lebih suka Edward yang di New Moon karena sebagian besar, dia selalu pake jas. Ya, gimana lagi? Gue selalu jatuh cinta sama cowok yang pake jas *ngelap iler*

Haduh... Bisa gilak ini gue lama-lama kalo tiap ending film New Moon yang pas Edward bilang "Marry me, Bella.." dan gue selalu tereak "I DOOOOOOO!!!!" Meh.
Astaga...
gue
semakin
mengerikan!
*geleng-geleng kepala*
Thursday, April 15, 2010
Iseng-iseng masuk ke www.ramalannama.com
Kocak abis!
Gue : Sudah Sesuai Dengan Keinginan
Ade gue : Instruktur Topeng Monyet *yang ini gue ngakak ampe keselek ludah sendiri*
Bokap gue : Penata Rambut
Nyokap gue : Pengusaha
Kocak abis!
Gue : Sudah Sesuai Dengan Keinginan
Ade gue : Instruktur Topeng Monyet *yang ini gue ngakak ampe keselek ludah sendiri*
Bokap gue : Penata Rambut
Nyokap gue : Pengusaha
Wednesday, April 14, 2010
"You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb into his skin and walk around in it."
-Harper Lee, To Kill a Mockingbird-
-Harper Lee, To Kill a Mockingbird-
Kadang kita langsung menjugde orang yang melakukan hal yang buruk, pasti adalah orang yang buruk tanpa mengetahui apa alasan dibalik itu semua sampai-sampai dia melakukan hal tersebut.
Kadang kita memandang tidak suka kepada orang yang telah melakukan hal buruk pada kita kemudian menjauhinya dan tidak mau berdekatan lagi dengannya, tanpa memberinya kesempatan untuk menjelaskan.
Namun sebenarnya, dalam suatu kondisi kita harus mencoba untuk bisa melihat dari dua sisi. Sehingga pada akhirnya, kita bisa melihat dan memahami kondisi tersebut secara keseluruhan.
Dan itu yang sedang saya coba pelajari saat ini :D
*lagi nasehatin diri sendiri*
Kadang kita memandang tidak suka kepada orang yang telah melakukan hal buruk pada kita kemudian menjauhinya dan tidak mau berdekatan lagi dengannya, tanpa memberinya kesempatan untuk menjelaskan.
Namun sebenarnya, dalam suatu kondisi kita harus mencoba untuk bisa melihat dari dua sisi. Sehingga pada akhirnya, kita bisa melihat dan memahami kondisi tersebut secara keseluruhan.
Dan itu yang sedang saya coba pelajari saat ini :D
*lagi nasehatin diri sendiri*
Monday, April 12, 2010
postingan ga penting
Oke, akhir-akhir ini selaluuu aja selalu nemuin hal-hal yang berhubungan sama pernikahan.
Artis banyak yang nikah,
Tetangga beberapa ada yang nikah,
Temen ada yang nikah,
Dengerin curhatan seseorang yang udah ngebet nikah, *lirik oknum sambil cengar-cengir*
Sodara ada yang baru melahirkan.. *eh, beda konteks deng*
Dan sempet terlintas di pikiran gue, seandainya waktu itu gue jawab "Iya"
Mungkin saat ini nyokap gue kesepian ga ada gue, dan gue udah jadi TKW disono kali ye... Muahahahahahahaha... *ngakak*
Duh Gusti Allah Yang Maha Tahu...
cuman ngebayangin doang kok. Beneran deh ;p
Artis banyak yang nikah,
Tetangga beberapa ada yang nikah,
Temen ada yang nikah,
Dengerin curhatan seseorang yang udah ngebet nikah, *lirik oknum sambil cengar-cengir*
Sodara ada yang baru melahirkan.. *eh, beda konteks deng*
Dan sempet terlintas di pikiran gue, seandainya waktu itu gue jawab "Iya"
Mungkin saat ini nyokap gue kesepian ga ada gue, dan gue udah jadi TKW disono kali ye... Muahahahahahahaha... *ngakak*
Duh Gusti Allah Yang Maha Tahu...
cuman ngebayangin doang kok. Beneran deh ;p
Wednesday, April 7, 2010
Dan pada akhirnya.... (3)
Stasiun sore itu terlihat ramai. Banyak orang berlalu-lalang disana, sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Beberapa penjual makanan dan majalah sedang asik ngobrol, seorang ibu terlihat dengan lelahnya membawa belanjaannya sambil menunggu kereta jurusannya, beberapa orang berpakaian rapi, lengkap dengan kemeja, jas, dan dasi terlihat menenteng tas laptopnya sambil membaca koran. Stasiun sore hari itu, terlihat sama seperti biasanya, dengan kegiatan orang-orang di dalamnya.
Seorang lelaki dengan tergopoh-gopoh, terlihat keluar dari salah satu gerbong kereta yang baru saja berhenti di salah satu peron. Kepalanya berputar ke semua arah. Matanya mencari-cari seseorang yang selama ini sudah di carinya. Seorang gadis yang tanpa sengaja, bertabrakan dengannya beberapa hari lalu di stasiun ini.
Matanya yang sedang mencari-cari, kemudian terpaku pada satu orang gadis yang baru saja keluar dari gerbong kereta. Gerbong kereta yang baru saja dinaikinya. Lelaki itu menatap sang gadis yang terlihat sibuk dengan telepon genggamnya. Rambut sang gadis yang sebahu ikal, terlihat tersapu angin. Dan jantung lelaki itu berdebar kencang. Setelah sekian lama… akhirnya..
Sang gadis itu mendongak setelah memasukan telepon genggamnya ke dalam tasnya. Mata sipitnya membulat menemukan sosok yang dilihatnya di stasiun sore itu. Nafasnya tercekat, degup jantungnya berdebar lebih kencang dibanding biasanya. Dia menelan ludah dengan susah payah.
“Akhirnya…” gumamnya pelan.
Lelaki itu tanpa ragu, melangkahkan kakinya mendekati sang gadis. Senyum bahagia menghiasi wajahnya. Sang gadis pun tersenyum. Dia berjalan mendekati lelaki yang sedang berjalan menuju ke arahnya.
”Mas?” Langkah lelaki itu terhenti. Dengan muka kaget, dia berbalik. Seorang wanita dengan pakaian kerja dan perut membesar terlihat kaget. ”Kok ada disini? Kamu jemput aku?” tanyanya lagi sambil berjalan ke arah lelaki itu sambil tersenyum dan kemudian memeluknya.
Lelaki itu tidak menjawab. Matanya langsung beralih ke sang gadis, yang menatapnya dengan tatapan kaget. Jantung yang berdebar itu, kemudian semakin berdebar kencang. Hanya saja, debarannya terasa berbeda. Tak ada rasa bahagia sama sekali.
”Aku laper nih. Kita makan dulu ya sebelum pulang?” bujuk wanita itu sambil menggandeng suaminya. Lelaki itu tidak menjawab. Kedua matanya kembali menatap sang gadis yang berdiri kaku di sana. Menatap pasangan itu dengan sorot mata yang gelap. Binar matanya yang tadi dilihat lelaki itu, hilang tak berbekas.
Lelaki itu kembali berbalik sambil memeluk istrinya yang sedang hamil tua. Dia merasa bersalah. Dia merasa bersalah, karena untuk sesaat, dia merasa telah mengkhianati wanitanya. Dan dia pun merasa bersalah karena meninggalkan gadis itu dengan kenyataan pahit yang harus diterimanya. Lelaki itu berjalan sambil memeluk istrinya yang terus bercerita. Memeluknya dalam diam.
Sang gadis masih menatap kepergian kedua orang itu dengan tatapan kosong. Seakan yang baru dilihatnya hanyalah mimpi yang tidak nyata. Setelah perjuangan berhari-hari untuk kembali bertemu dengan lelaki itu, inilah akhirnya. Akhir yang tak pernah terlintas di pikirannya sama sekali. Dan kemudian dia berjalan menjauh. Berusaha mengumpulkan kepingan hatinya yang jatuh berserakan dengan tangis yang tak mampu lagi ditahannya.
Seorang lelaki dengan tergopoh-gopoh, terlihat keluar dari salah satu gerbong kereta yang baru saja berhenti di salah satu peron. Kepalanya berputar ke semua arah. Matanya mencari-cari seseorang yang selama ini sudah di carinya. Seorang gadis yang tanpa sengaja, bertabrakan dengannya beberapa hari lalu di stasiun ini.
Matanya yang sedang mencari-cari, kemudian terpaku pada satu orang gadis yang baru saja keluar dari gerbong kereta. Gerbong kereta yang baru saja dinaikinya. Lelaki itu menatap sang gadis yang terlihat sibuk dengan telepon genggamnya. Rambut sang gadis yang sebahu ikal, terlihat tersapu angin. Dan jantung lelaki itu berdebar kencang. Setelah sekian lama… akhirnya..
Sang gadis itu mendongak setelah memasukan telepon genggamnya ke dalam tasnya. Mata sipitnya membulat menemukan sosok yang dilihatnya di stasiun sore itu. Nafasnya tercekat, degup jantungnya berdebar lebih kencang dibanding biasanya. Dia menelan ludah dengan susah payah.
“Akhirnya…” gumamnya pelan.
Lelaki itu tanpa ragu, melangkahkan kakinya mendekati sang gadis. Senyum bahagia menghiasi wajahnya. Sang gadis pun tersenyum. Dia berjalan mendekati lelaki yang sedang berjalan menuju ke arahnya.
”Mas?” Langkah lelaki itu terhenti. Dengan muka kaget, dia berbalik. Seorang wanita dengan pakaian kerja dan perut membesar terlihat kaget. ”Kok ada disini? Kamu jemput aku?” tanyanya lagi sambil berjalan ke arah lelaki itu sambil tersenyum dan kemudian memeluknya.
Lelaki itu tidak menjawab. Matanya langsung beralih ke sang gadis, yang menatapnya dengan tatapan kaget. Jantung yang berdebar itu, kemudian semakin berdebar kencang. Hanya saja, debarannya terasa berbeda. Tak ada rasa bahagia sama sekali.
”Aku laper nih. Kita makan dulu ya sebelum pulang?” bujuk wanita itu sambil menggandeng suaminya. Lelaki itu tidak menjawab. Kedua matanya kembali menatap sang gadis yang berdiri kaku di sana. Menatap pasangan itu dengan sorot mata yang gelap. Binar matanya yang tadi dilihat lelaki itu, hilang tak berbekas.
Lelaki itu kembali berbalik sambil memeluk istrinya yang sedang hamil tua. Dia merasa bersalah. Dia merasa bersalah, karena untuk sesaat, dia merasa telah mengkhianati wanitanya. Dan dia pun merasa bersalah karena meninggalkan gadis itu dengan kenyataan pahit yang harus diterimanya. Lelaki itu berjalan sambil memeluk istrinya yang terus bercerita. Memeluknya dalam diam.
Sang gadis masih menatap kepergian kedua orang itu dengan tatapan kosong. Seakan yang baru dilihatnya hanyalah mimpi yang tidak nyata. Setelah perjuangan berhari-hari untuk kembali bertemu dengan lelaki itu, inilah akhirnya. Akhir yang tak pernah terlintas di pikirannya sama sekali. Dan kemudian dia berjalan menjauh. Berusaha mengumpulkan kepingan hatinya yang jatuh berserakan dengan tangis yang tak mampu lagi ditahannya.
Tuesday, April 6, 2010
ROMBAK TOTAALLL?????
Deadline buat skripsi tinggal sebentar lagi....
Mulai sidang skripsi tinggal nunggu hitungan bulan...
Dan di detik-detik terakhir ini,
KENAPA GUE BARU MULAI NGERASA KALO KAYAKNYA GUE KUDU GANTI JUDUL SKRIPSI KARENA YANG GUE JELASIN TIDAK BEGITU MENDALAM DAN KURANG SREG??????!!!
AAAGGHHH!!!!
Tampaknya gue kudu rombak total..
Judul..
beserta isinya...
*dan gue merasa jalan menuju kelulusan gue tertutup kabut tebal*
Mulai sidang skripsi tinggal nunggu hitungan bulan...
Dan di detik-detik terakhir ini,
KENAPA GUE BARU MULAI NGERASA KALO KAYAKNYA GUE KUDU GANTI JUDUL SKRIPSI KARENA YANG GUE JELASIN TIDAK BEGITU MENDALAM DAN KURANG SREG??????!!!
AAAGGHHH!!!!
Tampaknya gue kudu rombak total..
Judul..
beserta isinya...
*dan gue merasa jalan menuju kelulusan gue tertutup kabut tebal*
Thursday, April 1, 2010
Bye-bye social networking... Entah kapan kita berjumpa lagi :)

Gue saat ini sedang mengalami sedikit masalah dengan salah satu sahabat gue. Well, dulunya sahabat gue.
Dia... ah, dia selalu jadi sahabat gue di dunia nyata. Dan perlahan, dengan munculnya jejaring sosial yang sekarang semakin banyak, kami berubah. Teman dunia nyata yang lebih ke dunia maya.
Gue pikir semua bakal baik-baik aja. Tapi ternyata nggak. Setidaknya beberapa hari lalu, gue baru tau semua yang terjadi.
3 hari yang lalu, gue masih bahagia luar biasa. Gue baru pulang liburan dari kepulauan seribu sama keluarga plurk gue. Ah, sumpah itu gue seneng luar biasa!!
Sampai ketika waktu gue onlen dan komenin foto-foto liburan di fesbuk, gue juga nyambi masuk ke salah satu web yang isinya kita bisa cerita segala macem hal. Dan disanalah gue melihat, beberapa cerita kehidupan gue dipajang disana. Cerita gue yang sungguh, nggak pantes gue banggakan! Dan yang posting cerita itu.. temen gue sendiri!
Tadinya gue masih diem. Gue berusaha mati-matian untuk tetep positif thinking. Tapi gue nggak bisa. Gue marah. Gue ngamuk. Apalagi pas gue liat komen-komennya. Ah... sumpah, gue nggak pernah semarah itu dalam hidup gue!
Dan ya, akhirnya tadi malam gue beranikan telepon dia. Gue nggak bisa nahan teriakan yang keluar dari mulut gue. Dia orang yang gue percaya! Setelah 5 taun gue sahabatan, gue nggak nyangka dia bisa berbuat kayak gitu. Sumpah!!!
Dan disinilah gue sekarang. Baru aja gue akhirnya ngapus twitter gue dan deactive fesbuk gue.
Sesakit hati itukah gue sampe harus ngapus akun twitter dan fesbuk? Ya. Sesakit hati itulah gue.
Sebenernya gue pikir panjang untuk ngapus akun fesbuk gue. Karena disana, bukan hanya ada orang itu. Keluarga plurkers gue ada disitu, kolega kerja gue dulu disitu, bos gue disitu, temen SMA, temen kuliah, temen SMP, temen SD, semuanya disitu. Gue nggak tau masa depan nanti kayak gimana. Siapa tau mungkin satu waktu nanti, gue akan kembali membutuhkan bantuan dari kolega kerja gue atau temen-temen gue. Entahlah. Tapi saat ini, gue hanya ingin hengkang dulu dari jejaring sosial.
Twitter? Ah... disana pun ada dia. Dan setelah peperangan tadi malam, kami belum saling menghapus atau memblock satu sama lain. Dan sebelum gue menghapus akun twitter gue, satu-satunya yang gue liat adalah twitter dia. Gue baca dari atas sampai bawah. Nggak tau kenapa. Mungkin karena gue ingin mengabadikan momen bahwa dia pernah jadi sahabat terbaik gue.
Orang-orang mungkin bilang "Kenapa lo nggak saling ngeblock aja sih? Nggak usah sampe seekstrim itu lah sampe ngapus akun lo."
Well, inilah jeleknya gue. Gue nggak suka yang setengah-setengah. Kalo mau hilang, hilang sekalian. Dan daripada gue ngeblock, gue lebih puas dengan gue yang mengundurkan diri.
Ganti no hape? Entah ya. Semua orang kebanyakan tau nomer gue yang itu. Tapi yang pasti, iya, gue udah ngapus nomor dan nama dia.
Plurk? Kenapa gue harus apus akun gue dari plurk?
Ah.. Menghapus akun di jejaring sosial ini merupakan hal terberat yang gue lakukan. Gue sempet terdiam beberapa saat pas harus konfirm ulang bahwa gue bener-bener akan ngapus akun gue dari jejaring sosial tercinta gue ini. Berani sumpah, bibir gue bergeter dan mata gue panas pengen nangis pas liat kata-kata itu.
Gue flashback ke saat-saat dulu, dimana gue bener-bener bahagia dalam lingkup jejaring sosial ini. Dimana gue menemukan orang-orang yang sungguh luar biasa bikin gue bahagia setengah mati dan bikin gue addict banget.
Tapi sangking addictnya gue sama jejaring sosial ini, gue merasa nggak punya privasi. Semua gue tuangin ke dalam plurk. Rasa marah, kesel, bete, cinta, sakit hati, benci sama orang, ga suka sama orang, bahagia...
Sampai akhirnya, tadi malem gue kembali curhat di tret. Gue keluarin semua unek-unek gue.
Tapi kemudian, gue mikir. Toh dengan ini, gue sama buruknya sama dia yang buka aib gue. Gue sama brengseknya *sebenernya sih dengan gue nyeritain ini ke blog gue, ya sama brengseknya sih sama dia. Tapi yah.. sutralah. I'll take that risk :)*
Jadi gue akhirnya mutusin untuk ngundurin diri dari jejaring sosial tercinta ini. Yang udah bikin gue addict selama setahun lebih. Kalo gue nggak ngapus, gue pasti akan balik lagi dan kemudian menye-menye curhat-curhat ga jelas mulu dan bikin orang ngerasa keberatan sama gue yang komplen terus menerus. Jadi ya, sebaiknya gue mengundurkan diri.
Mungkin suatu saat nanti gue akan sangat sangat sangat menyesal karena udah ngapus akun gue dari jejaring sosial. Karena gue tau gimana gue. Di depan nanti, gue pasti akan sangat sangat menyesali ini semua. Dan berulang kali bilang "kenapa gue harus ngapus sih???" Tapi ya, biarlah itu terjadi nanti. Saat ini, inilah yang gue inginkan.
Saat ini, blog inilah satu-satunya tempat gue berkomunikasi di dunia maya. Mungkin gue lelah. Mmm.. bukan. Mungkin gue masih trauma dengan dunia maya. Jadi mungkin ini saatnya gue untuk nyembuhin hati gue dulu.
Untuk plurkers, khususnya OOTErs : Mamih Tity, Agyu, Mpok Inel, Cikal, Icha, Rere, Eca, Japs, Nissa.. aku sayang kalian bangeeeetttt (cozy) (cozy) (cozy)
Makasih udah jadi keluarga maya yang luar biasa!! Sumpah, aku sayang kalian bangeett!! Maaf kalo misalnya selama ini ada salah kata atau perbuatan. Karena kadang mulut ini ga bisa dikendalikan kalo udah bercanda atau ngomong. Suka nyelekit di hati. Sekali lagi maaf bangeeettt...
Nanti kalo ada kumpul-kumpul, kasih tau yaaa.. biar ga ketinggalan. Hehehehe... :)) *big hugs*
Dia... ah, dia selalu jadi sahabat gue di dunia nyata. Dan perlahan, dengan munculnya jejaring sosial yang sekarang semakin banyak, kami berubah. Teman dunia nyata yang lebih ke dunia maya.
Gue pikir semua bakal baik-baik aja. Tapi ternyata nggak. Setidaknya beberapa hari lalu, gue baru tau semua yang terjadi.
3 hari yang lalu, gue masih bahagia luar biasa. Gue baru pulang liburan dari kepulauan seribu sama keluarga plurk gue. Ah, sumpah itu gue seneng luar biasa!!
Sampai ketika waktu gue onlen dan komenin foto-foto liburan di fesbuk, gue juga nyambi masuk ke salah satu web yang isinya kita bisa cerita segala macem hal. Dan disanalah gue melihat, beberapa cerita kehidupan gue dipajang disana. Cerita gue yang sungguh, nggak pantes gue banggakan! Dan yang posting cerita itu.. temen gue sendiri!
Tadinya gue masih diem. Gue berusaha mati-matian untuk tetep positif thinking. Tapi gue nggak bisa. Gue marah. Gue ngamuk. Apalagi pas gue liat komen-komennya. Ah... sumpah, gue nggak pernah semarah itu dalam hidup gue!
Dan ya, akhirnya tadi malam gue beranikan telepon dia. Gue nggak bisa nahan teriakan yang keluar dari mulut gue. Dia orang yang gue percaya! Setelah 5 taun gue sahabatan, gue nggak nyangka dia bisa berbuat kayak gitu. Sumpah!!!
Dan disinilah gue sekarang. Baru aja gue akhirnya ngapus twitter gue dan deactive fesbuk gue.
Sesakit hati itukah gue sampe harus ngapus akun twitter dan fesbuk? Ya. Sesakit hati itulah gue.
Sebenernya gue pikir panjang untuk ngapus akun fesbuk gue. Karena disana, bukan hanya ada orang itu. Keluarga plurkers gue ada disitu, kolega kerja gue dulu disitu, bos gue disitu, temen SMA, temen kuliah, temen SMP, temen SD, semuanya disitu. Gue nggak tau masa depan nanti kayak gimana. Siapa tau mungkin satu waktu nanti, gue akan kembali membutuhkan bantuan dari kolega kerja gue atau temen-temen gue. Entahlah. Tapi saat ini, gue hanya ingin hengkang dulu dari jejaring sosial.
Twitter? Ah... disana pun ada dia. Dan setelah peperangan tadi malam, kami belum saling menghapus atau memblock satu sama lain. Dan sebelum gue menghapus akun twitter gue, satu-satunya yang gue liat adalah twitter dia. Gue baca dari atas sampai bawah. Nggak tau kenapa. Mungkin karena gue ingin mengabadikan momen bahwa dia pernah jadi sahabat terbaik gue.
Orang-orang mungkin bilang "Kenapa lo nggak saling ngeblock aja sih? Nggak usah sampe seekstrim itu lah sampe ngapus akun lo."
Well, inilah jeleknya gue. Gue nggak suka yang setengah-setengah. Kalo mau hilang, hilang sekalian. Dan daripada gue ngeblock, gue lebih puas dengan gue yang mengundurkan diri.
Ganti no hape? Entah ya. Semua orang kebanyakan tau nomer gue yang itu. Tapi yang pasti, iya, gue udah ngapus nomor dan nama dia.
Plurk? Kenapa gue harus apus akun gue dari plurk?
Ah.. Menghapus akun di jejaring sosial ini merupakan hal terberat yang gue lakukan. Gue sempet terdiam beberapa saat pas harus konfirm ulang bahwa gue bener-bener akan ngapus akun gue dari jejaring sosial tercinta gue ini. Berani sumpah, bibir gue bergeter dan mata gue panas pengen nangis pas liat kata-kata itu.
Gue flashback ke saat-saat dulu, dimana gue bener-bener bahagia dalam lingkup jejaring sosial ini. Dimana gue menemukan orang-orang yang sungguh luar biasa bikin gue bahagia setengah mati dan bikin gue addict banget.
Tapi sangking addictnya gue sama jejaring sosial ini, gue merasa nggak punya privasi. Semua gue tuangin ke dalam plurk. Rasa marah, kesel, bete, cinta, sakit hati, benci sama orang, ga suka sama orang, bahagia...
Sampai akhirnya, tadi malem gue kembali curhat di tret. Gue keluarin semua unek-unek gue.
Tapi kemudian, gue mikir. Toh dengan ini, gue sama buruknya sama dia yang buka aib gue. Gue sama brengseknya *sebenernya sih dengan gue nyeritain ini ke blog gue, ya sama brengseknya sih sama dia. Tapi yah.. sutralah. I'll take that risk :)*
Jadi gue akhirnya mutusin untuk ngundurin diri dari jejaring sosial tercinta ini. Yang udah bikin gue addict selama setahun lebih. Kalo gue nggak ngapus, gue pasti akan balik lagi dan kemudian menye-menye curhat-curhat ga jelas mulu dan bikin orang ngerasa keberatan sama gue yang komplen terus menerus. Jadi ya, sebaiknya gue mengundurkan diri.
Mungkin suatu saat nanti gue akan sangat sangat sangat menyesal karena udah ngapus akun gue dari jejaring sosial. Karena gue tau gimana gue. Di depan nanti, gue pasti akan sangat sangat menyesali ini semua. Dan berulang kali bilang "kenapa gue harus ngapus sih???" Tapi ya, biarlah itu terjadi nanti. Saat ini, inilah yang gue inginkan.
Saat ini, blog inilah satu-satunya tempat gue berkomunikasi di dunia maya. Mungkin gue lelah. Mmm.. bukan. Mungkin gue masih trauma dengan dunia maya. Jadi mungkin ini saatnya gue untuk nyembuhin hati gue dulu.
Untuk plurkers, khususnya OOTErs : Mamih Tity, Agyu, Mpok Inel, Cikal, Icha, Rere, Eca, Japs, Nissa.. aku sayang kalian bangeeeetttt (cozy) (cozy) (cozy)
Makasih udah jadi keluarga maya yang luar biasa!! Sumpah, aku sayang kalian bangeett!! Maaf kalo misalnya selama ini ada salah kata atau perbuatan. Karena kadang mulut ini ga bisa dikendalikan kalo udah bercanda atau ngomong. Suka nyelekit di hati. Sekali lagi maaf bangeeettt...
Nanti kalo ada kumpul-kumpul, kasih tau yaaa.. biar ga ketinggalan. Hehehehe... :)) *big hugs*
Subscribe to:
Posts (Atom)
