Mmmm... hari ini ada berita yang menggembirakan buat Floren. Dia kembali menemukan orang yang dikasihinya. Dan gw ikutan bahagia. Yes, i’m happy for her. Tapi di satu sisi, gw juga ga mau denger ceritanya secara keseluruhan. Ada rasa jealous yang tumbuh deep down inside my heart.
Ceritanya emang belum selesai. Dia bilang dia bakalan nelepon gue entah besok atau nanti malem. Tengah malem. Dan gue nggak tau apa yang bakalan gue lakukan ntar. Tertawa mendengarnya bercerita, hanya terdiam, sesekali tertawa, atau tiba2 menangis.
Mengingat bahwa gw akan kembali ditinggalkan menjadi seorang jomblo, bikin gw… ngerasa marah? Yah, marah, kesel. I mean, kejadian ini selalu berulang2.
Tadinya gw dan temen gw duduk di sofa bersama-sama. Kita ngomongin semua hal asik. Tentang cowok keren, tampan, lucu, but sudenly, seorang laki-laki datang dan mengulurkan tangan ke temen gue. Temen gue yang tentunya akan menerima uluran tangan tersebut, tersenyum dan berdiri. Pergi walaupun nggak jauh2 dari sofa itu. Tertawa, tersenyum, malu, bahagia karena cinta baru dimulai. Dan kembali, gue akan menjadi seseorang yang duduk disana sendirian. Menunggu. Entah menunggu seorang laki-laki yang akan mengulurkan tangan ke gue, atau menunggu salah seorang temen gue akan kembali menemani gue dalam sofa tersebut.
Memang, teman-teman gue pergi nggak jauh-jauh dari sofa. Mereka masih bisa menatap gue dan tersenyum ke gue. Gue pun masih bisa tertawa dan melambai pada mereka. Ketika mereka ada masalah, gue akan tetap di sofa itu. Mendengarkan keluh kesah mereka. Dan setelah temen gue merasa rasa kesal atau marahnya hilang, dia kembali meninggalkan sofa dan kembali pada pasangannya. Kembali, gue akan terdiam duduk di sofa itu. Merasa ditinggalkan.
Tapi ketika gue penat dan butuh teman untuk menemani karena kepenatan di sofa itu, kadang waktu yang gue pilih bertepatan dengan schedule mereka bersama pasangan masing-masing. Dan mereka tenggelam dalam kebahagiaan mereka sendiri.
Gue tentunya nggak mau ngerusak kebahagiaan mereka dengan berdiri tiba-tiba dari sofa itu dan menarik kencang temen gue dan berteriak2 ”GUE BUTUH ELO!!! BISA NGGAK SIH NGASIH WAKTU BUAT GUE KETIKA GUE LAGI BUTUH LO??? GUE SELALU ADA WAKTU LO BUTUH GUE!! TAPI KENAPA SETIAP GUE BUTUH LO, SELALU COWOK LO YANG DIPRORITASKAN UTAMA????”
Jujur, sometimes, gue pengen ngelakuin hal itu. 3 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk melakukan hal itu berulang-ulang. Duduk di sofa bersama teman lalu teman pergi dan teman lainnya datang menemani karena kehilangan pasangan. Dan tak lama, dia kembali pergi. Cuma gue yang nggak berubah. Cuma gue yang 3 tahun ini tetap duduk di sofa itu. Terus menanti seseorang datang. Gue Cuma bisa duduk dalam kepedihan, kecemburuan melihat pasangan lain, dan kesepian. Semua teman gue berubah. Cuma gue yang nggak berubah.
Yes, i am so pathethic. Gue amat sangat menyedihkan. Mungkin temen2 gue nggak sadar kalo gue ngerasa sedepresi ini menjadi ”tunggal”. Karena gue selalu memakai topeng tersenyum. Tertawa seolah tak ada beban. Ya, gue emang seorang yang bisa menyembunyikan perasaan dengan baik. Dan gue adalah seorang pembohong yang luar biasa.
Gue capek dengan kata2 untuk menyemangati gue sendiri. ”Tenang, someday, akan ada yang akan menggantinya” atau ”Tenang aja bu! Taun depan, you’ll find someone”. Kenyataannya? Gue sampe sekarang, sampe menit ini, sampe detik ini, masih duduk di sofa itu. Tak ada yang mengulurkan tangan. Bahkan melirik pun tidak.
Gue mencoba menyenangkan diri sendiri dengan selalu berkata ”ya udahlah. Let it flow aja...” tapi setiap gue mulai bisa menyerapi kata2 itu, selalu ada goncangan. Ya temen gue jadian, ya gebetan gue ternyata udah punya cewek, ya... ya semuanya. Gue bahkan sampai mengemis sama temen2 gue ”Guys, plis kenalin gue sama seseorang dong. Gue capek sendirian terus. Gue capek...” tetap dengan senyum mengembang tentunya. Mungkin karena itu mereka pikir, gue nggak terlalu serius. Tapi jauh di dalam hati gue, gue amat sangat serius. Tapi lagi-lagi, dengan spontanitas, gue menutupi isi hati gue dengan luar biasa. Topeng yang gue pake bener-bener tebel. Benteng yang gue bangun luar biasa kokoh. Sampai gue sendiri ragu apakah gue ngenalin diri gue sendiri apa nggak.
Dan di detik2 pergantian tahun ini, gue sampe di titik dimana, gue bener2 ga mau mikirin apa yang akan terjadi, bahkan gue ga mampu berharap. Karena setiap tahunnya gue berharap, tapi kejadiannya selalu sama. Nggak pernah ada yang berubah. Jadi daripada gue kembali terjatuh, lebih baik gue nggak berharap sama sekali.
Dan untuk taun depan, gue punya pikiran bahwa gw akan sama seperti tahun2 sebelumnya. Kembali menyendiri duduk di sofa itu. Karena gue udah tau pasti, temen gue akan sibuk dengan kehidupan barunya itu. Dan gw akan kembali memasang topeng kebahagiaan itu. Entah sampai kapan. Mungkin sampai menunggu luapan emosi gue meledak dengan sendirinya.
Seiring berjalannya waktu.