Monday, August 24, 2015

“Bagaimana kau ingin pemakamanmu nanti diadakan?”


                                                                                   Gambar diambil dari sini


Kemarin, dengan berat hati saya menuju daerah Tangerang untuk menghadiri pemakaman salah satu rekan kerja saya. Rekan kerja yang memang usianya sudah sangat jauh diatas saya, hampir 3 kali lipat usia saya.

Selain perjalanan yang lumayan jauh, cuaca hari itu terasa sangat terik. Sangat terik sampai panasnya menusuk kulit.

Saya melihat orang-orang sekitar. Semua memandangi liang lahat dengan tatapan kosong. Terdengar beberapa orang yang saling berbicara satu sama lain. Membicarakan tentang kebaikan dan semua yang telah beliau lakukan semasa hidup. Beliau memang orang baik dan periang. Tak pernah seharipun beliau tidak membuat orang lain tertawa. Celetukannya yang khas dengan logat betawi kental, masih terngiang-ngiang di kepala saya. Ah, saya pasti rindu dengan celetukan-celetukannya itu.

Kemudian pikiran saya terlempar pada satu buku yang belum lama ini saya baca. Perempuan yang Melukis Wajah. Di buku kumpulan cerpen tersebut, salah satunya menyebutkan satu cerita dimana sang perempuan dan sang lelaki pertama kali bertemu lalu saling melontarkan pertanyaan. Salah satunya, bagaimana kau ingin pemakamanmu nanti dilaksanakan.

Saya membayangkan cuaca saat itu cerah dengan langit biru tanpa awan satu pun. Orang-orang yang saya sayangi datang, mengantarkan saya pada peristirahatan terakhir. Diri saya dibaringkan di sebuah padang rumput luas, dengan pohon trembesi besar yang memayungi. Tak usah diberi keramik. Saya hanya ingin gundukan tanah dengan rumput hijau tumbuh rapi di sekitar tempat peristirahatan terakhir saya.

Kemudian orang-orang berdatangan sembari membawa benda-benda kesayangan mereka. Jika kalian ingin sekedar membaca buku dan menikmati hembusan angin, datanglah. Jika kalian ingin bernyanyi-nyanyi dan bersenang-senang, marilah. Jika kalian ingin sekedar berbicara dan bercerita mengenai kehidupan kalian, silakan. Bahkan jika kalian ingin duduk diam saja dan sekedar mencari tempat menyendiri sembari berkontemplasi, kemarilah. Lakukan kegiatan apa saja yang kalian mau. Bergembiralah. Nikmatilah. Karena tempat saya terbaring terakhir bukan tempat menakutkan.

Tepukan pelan di pundak saya, membawa saya kembali ke alam nyata. Saya masih berada di pemakaman rekan kantor saya. Di depan sana, di depan pusara jenazah, istri dan anaknya yang masih sekolah SD yang awalnya terlihat kuat, akhirnya menangis kencang. Satu anaknya yang paling kecil, masih melihat sekeliling dengan tidak mengerti. Mungkin dia bingung kenapa ayahnya yang sedang terlelap, ditangisi oleh semua orang.

Setelah doa dipanjatkan, kami pun kembali pulang sembari diiringi wangi kembang yang menyengat. Bahkan ketika saya berjalan menjauhi makam, saya membayangkan babeh tersenyum lebar dan berkata, "Ati-ati pulangnya."


Selamat berbahagia disana, beh. Inget, jangan ngerokok lagi ya disana. Hehehehe... 

Saturday, January 17, 2015

Melati Suci

Beberapa hari ini, saya tidak bisa melepaskan pendengaran saya dari lagu-lagu lama, khususnya Chrisye. Entah kenapa, rasanya kedua telinga ini sedang ingin dimanjakan oleh suara almarhum. Mungkin mulai bosan mendengar orang korea dan orang bule bergalau-galauan tak jelas.
Saya sebagai manusia yang dikategorikan kawula muda apalah, memang menyukai lagu-lagu lama. Tapi biasanya lagu yang saya adalah lagu-lagu penyanyi luar. Sekarang saya malah menyesal baru mulai mengeksplor lagu-lagu lama dari negeri sendiri. Serius!

Awalnya saya hanya fokus mendengar musik dan nada, lalu lama kelamaan saya mendengarkan liriknya dengan lebih seksama. Betapa lagu-lagu di tahun 70, 80 sampai 90an memiliki kata-kata indah dan makna yang kuat. Sangat berbeda dengan mayoritas lagu masa kini yang kadang hanya terdiri dari beberapa kalimat yang diulang terus menerus selama 2-3 menit. Kadang sampai jengkel sendiri dan berpikir, "Pada niat nggak sih bikin lagu?"

Kembali lagi ke Chrisye, semakin saya mendengar dengan lebih seksama, semakin saya tertarik dengan lirik-lirik yang dinyanyikan. Dan sebagian besar lagu yang membuat saya mengagumi liriknya, rata-rata ditulis oleh Guruh Soekarno Putra. Mulai dari Sendiri, Kala Cinta Menggoda, Lagu Putih dan lainnya.

Saya pun semakin bersemangat untuk googling. Semua saya cari, mulai dari lagu Guruh yang dinyanyikan Chrisye, Swara Mahardika, Vina Panduwinata sampai akhirnya saya mendengarkan Melati Suci.
Saya bahkan baru tahu kalau yang menyanyikan lagu ini Tika Bisono. Iya, Tika Bisono yang itu. Saya yang masih bau kencur ini cuma tahu beliau psikolog yang ada di tv. Baru tahu kalau ternyata beliau menyanyi juga dan suaranya memang enak didengar.

Ini memang bukan yang pertama kali saya mendengarnya. Dulu waktu kecil, saya memang pernah mendengar lagu ini tapi tidak terlalu memperhatikan seperti sekarang. Dan begitu saya mendengarnya lagi, rasanya bulu kuduk berdiri. Suara Tika Bisono memang tidak ada vibra kuat dan terdengar lebih sederhana jika dibandingkan penyanyi lain, tapi dari kesederhanaannya itu, lagu ini malah jadi luar biasa menurut saya. Lagu ini sudah cukup indah tanpa harus dinyanyikan dengan teknik menyanyi yang rumit. Cantik tanpa harus terdengar berlebihan.

Ah, pokoknya silakan nikmati sendiri

Saturday, January 10, 2015

Mari Bicara Tentang Kehilangan

Semua orang, dalam satu fase kehidupannya, pasti akan merasakan kehilangan. Kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, kehilangan materi, dan lainnya.

Rasanya jantung seperti dirobek secara perlahan. Lalu kemudian, seperti ada ganjalan besar di tenggorokan dan di dada yang harus keluar tapi tak bisa dikeluarkan sama sekali. Sesak luar biasa. Kemudian perasaan itu berubah hampa, kosong. Seperti satu sel dalam diri terlepas dan kemudian terbang, menghilang ditelan lubang hitam bernama kesedihan. Dan kemudian yang bisa dilakukan hanya kembali menangis. Mungkin sesekali juga meluapkan amarah kepada orang sekitar, walaupun tak mengerti kenapa rasa amarah itu bisa tiba-tiba muncul padahal itu semua bukan kesalahan siapa-siapa.
Orang bilang, waktu akan menyembuhkan. Tapi menurut saya, waktu tidak pernah menyembuhkan. Waktu hanya mengurangi sedikit sakit, tapi tidak pernah menyembuhkan. Waktu hanya membuat kita terbiasa dengan rasa sakit itu. 

Sialnya lagi, kita sebagai orang yang baru saja mengalami rasa kehilangan terbesar dalam hidup kita, tetap harus melanjutkan hidup kita ke depan. Orang-orang di sekitar kita mungkin berhenti sejenak ketika mengetahui berita kehilangan yang menimpa diri kita, lalu kemudian mereka kembali berjalan dengan langkah cepat, mengejar kehidupannya masing-masing.

Dengan tubuh dan pikiran yang masih tercecer, kita kemudian dipaksa untuk bangkit dan mengikuti kecepatan orang sekitar. Kadang, kita kembali terjatuh karena rasa sakit yang luar biasa itu kembali datang. Kita mencoba menggapai orang lain, siapapun yang ada di dekat kita, untuk menolong kita. Berusaha berteriak agar ada seseorang menolong. Setidaknya, berhenti sebentar untuk membantu kita kembali berdiri. Tapi brengseknya, suara teriakan itu sama sekali tak terdengar. Gapaian tangan putus asa kita seakan tak terlihat sama sekali. Semua orang berjalan seolah lupa bahwa ada bagian besar dari diri kita yang menghilang. Mereka tak peduli. Mungkin ada beberapa yang peduli, tapi hanya sesaat. Kemudian mereka kembali sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing.

Setelah itu kita akan berada di lubang gelap yang membuat kita lebih nyaman berada disana. Disana, kita bisa diam tanpa melakukan apa-apa dan tidak harus kembali bangkit lalu berusaha berlari mengejar kehidupan seperti yang lainnya. Rasanya hanya ingin berbaring diam karena rasa lelah yang luar biasa.

Selain meringkuk terdiam di dalam lubang gelap itu, sesekali sesuatu bernama kenangan muncul. Kenangan yang tidak hanya kenangan baik, tapi juga kenangan buruk. Kenangan yang mungkin tiba-tiba terbang melesat seperti komet di pikiran kita yang mampu membuat kita tersenyum, tertawa, merengut, atau bahkan menyesal. Dan setelahnya mungkin kita akan kembali menangis setelah kenangan komet sialan itu dengan kurang ajarnya melesat tanpa aba-aba dan membuat perasaan naik turun tak karuan.

Tapi kadang kenangan itu mengingatkan kita akan mimpi kita, lalu membantu kita menyadari bahwa kita harus bangkit dan tidak boleh terpuruk lagi. Entah mendapat kekuatan darimana, kita perlahan merangkak keluar dari lubang gelap itu. Seperti bayi yang baru pertama kali berjalan, kita merasa aneh dan sedikit terhuyung-huyung. Tapi kemudian otak kita mengingat bagaimana cara jalan yang benar, dan kita pun perlahan mulai melangkahkan kaki kembali. Lama kelamaan, kita mulai berlari, mengejar orang-orang lain yang telah berada jauh di depan.

Rasa kehilangan mungkin sesekali akan membuat kita terhenti, untuk kembali mengingat, kembali merasakan. Rasa sakit itu pun pasti akan tetap ada. Mungkin kita hanya akan terhenti karena rasa  sakit itu selama beberapa detik. Tapi kali ini, kita akan menarik nafas panjang, mengangkat wajah kita ke atas dan kita akan kembali berjalan. Walaupun kadang masih terhuyung atau kita berjalan lebih perlahan dibanding orang lain, yakinlah bahwa suatu hari nanti kita akan mampu menyamakan kecepatan atau bahkan melebihi mereka.


"May memories of the fun you shared, bring you gentle comfort" - Unknown

Satu Momen

Ada satu momen yang setiap hari selalu saya tunggu-tunggu. Momen dimana saya pulang naik ojek dari stasiun menuju ke rumah saya.

Bukan, bukan mau bertemu abang ojek langganan tapi karena setiap kali naik ojek dalam perjalanan pulang, saya bisa dengan bebas melihat langit yang hampir selalu menampakkan bintang-bintang dan bulan yang kadang separuh tertutup awan, kadang bulat tanpa cela.

Perjalanan dari stasiun menuju rumah saya tidak lama. Hanya sekitar 5 menit. Tapi di menit-menit tersebut, setiap kali saya memandang langit, pikiran saya bisa terbebas dari hal-hal yang membuat saya penat. Isi kepala saya otomatis berpetualang jauh. Kadang saya memikirkan diri saya yang sedang merebahkan diri di sebuah padang rumput dengan langit terbentang luas dan bintang-bintang bertaburan sampai tak terhitung, kadang saya memikirkan diri saya sebagai seorang astronot yang berada di luar angkasa dan yang ada hanya kesunyian tidak seperti di Gravity yang membuat jantung berdetak kencang. Tapi lebih seperti manga Planetes. Memikirkan esensi hidup dalam keheningan

Selama 5 menit, isi kepala saya bisa dengan luasnya berimajinasi. Walaupun tak jarang juga saya hanya mengosongkan kepala dan melihat langit. Berharap langit hitam itu bisa menghisap semua rasa lelah, resah dan ragu yang ada.

Bangunan-bangunan rumah pun kemudian menghalangi pandangan saya dan ojek pun berhenti di rumah yang sudah saya tinggali selama 10 tahun lebih. Langit malam mungkin tidak menghisap semua rasa lelah saya, tapi dia memberi saya ketenangan walau hanya sejenak.