Friday, June 4, 2010

Kenapa kamu menjauh? (2)

Kamu merasa kalau kamu menolak, itu adalah hal yang paling membuatmu sakit hati?

Kamu merasa hidupmu hancur berkeping-keping ketika kamu menolak seseorang karena dengan demikian kamu menghancurkan hati seseorang?

Sini saya beritahu satu hal

Itu bukan hal terburuk

Menurut saya saat ini, hal terburuk adalah ketika kamu berhadapan dengan orang yang kamu cintai dengan sepenuh hati, dan kemudian kamu ditolak.

Dan setelah ditolak, hubungan kalian bukannya kembali seperti semula, tapi kalian malah semakin menjauh.

Dan kemudian, kamu merindukan masa-masa dahulu.

Jauh sebelum dia mengetahui perasaanmu. Jauh sebelum kamu menyadari perasaanmu sendiri.

Masa-masa itu jauh lebih indah dibanding saat ini. Karena kamu bisa tertawa bersamanya tanpa merasa tegang sama sekali. Karena kamu tidak merasa salah tingkah ketika duduk di sampingnya ketika kalian saling bercanda.

Ya. Kamu bisa menerima kenyataan bahwa kamu ditolak. Ya, itu memang menimbulkan luka. Tapi luka itu kemudian sembuh.

Dan kemudian kamu ingin kembali berdekatan dengannya. Karena kamu rindu dia sebagai orang terdekatmu. Sebagai sahabat yang mendengarkan segalanya dan mampu memberikan masukan-masukan yang berguna.

Dan dengan nama persahabatan, kamu kembali mendekatinya. Dan dengan nama persahabatan pula, kamu dan dia kembali dekat. Untuk menjadi sahabat.

Kemudian kamu kembali bahagia. Karena kamu telah menemukan kembali sahabatmu. Dan kamu pun merasa nyaman. Tapi kamu juga tidak membiarkan perasaan nyaman ini lepas kendali sehingga cerita yang lalu terulang kembali.

Tapi sayangnya, seberapa keras kamu berusaha agar kejadian itu tidak kembali terulang, Tuhan sudah menetapkannya dari dulu. Dan ketetapan Tuhan, tidak ada yang bisa mengganggu gugat.

Rasa itu kembali muncul dalam dirimu. Kamu pun berusaha untuk mengacuhkannya. Karena kamu tahu, sahabatmu sudah kembali seperti dulu. Dan kamu tidak ingin menghancurkan persahabatan itu. Lagi.

Semakin keras kamu berusaha untuk menolak rasa itu, entah kenapa rasa itu datang semakin kuat. Semakin kamu mencoba untuk menghilangkan dia dari benakmu, entah kenapa bayangannya malah semakin melekat jelas di pikiranmu.

Sampai akhirnya kamu menyerah dan mengakui bahwa rasa itu, lagi-lagi datang. Rasa itu, lagi-lagi menguasaimu. Rasa itu, lagi-lagi memenjarakanmu.

Kamu bersikukuh untuk diam dan tidak melakukan kesalahan seperti yang dulu. Mulutmu terkunci rapat. Dan kamu pun tak sanggup menatap dia seperti dulu. Karena kamu takut, dia bisa melihat cinta di matamu. Lagi.

Sayangnya, kamu tak cukup kuat untuk menyimpannya lama-lama. Kemudian, tanpa mempedulikan logika dan membiarkan rasa yang mengambil alih, kamu mengakui padanya bahwa rasa itu lagi-lagi datang. Dan kamu tak berdaya.

Kamu masih ingat bagaimana pedihnya dulu ketika dia dengan mata nanarnya menolakmu. Bayangan itu sekelibat muncul kembali di pikiranmu. Tapi ada setitik harapan dari dalam hatimu bahwa kali ini, dia akan berubah. Kali ini, dia merasakan rasa yang sama.

Dan ketika kamu dengan degup jantungmu yang berdetak kencang menunggu jawaban dari dirinya, dia hanya terdiam. Rasa kaget terlihat di wajahnya. Tapi kemudian, kamu melihat rasa kaget itu berubah menjadi rasa bersalah yang amat kuat. Tapi kemudian kamu menampiknya. Berusaha mengatakan pada dirimu sendiri, bahwa itu hanyalah perasaanmu. Dan kamu masih berharap, kali ini dia akan merasakan hal yang sama denganmu. Sehingga kamu tak lagi harus jatuh untuk yang kedua kalinya. Dengan orang yang sama.

Tanpa menjawab apapun, dia kemudian pergi. Tapi kamu tidak mengejarnya. Kamu terdiam. Kamu sudah tahu apa jawabannya. Tapi kamu tetap bergeming disitu. Berharap dia akan berbalik dan memelukmu erat. Tapi sampai dia menghilang dari pandanganmu, dia tetap tak juga berbalik.

Dan kemudian kamu menyesali apa yang sudah kamu lakukan. Karena setelah hari itu, dia tidak menghubungimu sama sekali. Kamu pun tak menghubunginya. Karena kamu dengan egomu, menginginkan dia yang menghubungimu. Tapi tidak. Dia tidak juga menghubungimu.

Kemudian kamu mencoba untuk menghubunginya. Tapi dia tak dapat dihubungi. Dan kemudian kamu terpekur diam. Menyesali semuanya. Kamu kehilangan cinta dan juga sahabatmu. Untuk yang kedua kalinya.

"Kenapa kamu menjauh? Apakah saya salah menyatakan rasa ini? Rasa yang sama sekali bukan jenis rasa yang saya inginkan kepada kamu? Jika saya bisa memilih, saya akan memilih tidak memiliki rasa ini kepada kamu jika pada akhirnya hanya membuat saya kehilangan kamu sebagai sahabat saya" begitu gumammu dalam gelap.

Dan kamu terus terdiam...

dan terdiam..

* * *


Ya. Selalu ada dua sisi dalam setiap permasalahan.

6 comments:

Nury said...

aw aw aw..........

ayang ayangku

Poooffy said...

apeeuu -_-"

rinella said...

mameettttt
bagus bangeettt tulisannyaaa huhuhuhuu
*jadi ingat memori lama*

apa ini dr kisah nyata? *evilsmirk*
eh btw kenapaaa account plurk diapus lagiiii???

Poooffy said...

Ha? Bagus? Hahahahaha... pedih ini mpok. Pedih! *halah*

Kisah nyata kenalan aye kok mpok (evilsmirk)

Akun plurk? Abis aye stres karma naeknya lama banget (blush) -_-"

Icha Sanusi said...

btw...gue berarti beruntung yah.. gw jg pnah mengungkapkan rasa,pertama kalinya dlm hidup gw, punya keberanian jujur ama hati sndiri,lalu bilang "hey boy, i think i'm in love with u" dan jwban org itu " senang rasanya ada yg diam2 mencintai kita, makasih ya " in english version of course. Saat itu legaaa banget, krn dia sama sekali gk marah atau bertindak kekanak2an menjauh.. Besok, besok, lalu besoknya kita tetep kumpul dan nongkrong bareng, sampai kemudian gw ktemu ama org lain, jth cinta, lalu patah hati. Gimana perasaan gw ke org itu? Trust me, thats love never disappear, cm berubah jdi sayang yg melebihi cinta *tsaaaah* brasa curcol gini komen gw :P
menurut gw sih.. jujur dgn hati gk salah kok, hanya sayang lawannya gk cukup bersikap dewasa buat mnghargai kejujuran tmn lo :D

tmn lo ato lo nih? (evilsmirk)

Poooffy said...

Icha : emang kisah nyata? (evilsmirk)