
"...My name is Khan, and i'm not a terrorist!.."
Kalimat itu diucapkan seorang pria dengan aksen India yang kental. Kalimat yang cukup membuat saya terhenyak di beberapa menit di awal film. Kalimat tersebut juga sepertinya menjadi tagline utama dari film India yang baru saja saya saksikan tadi yang berjudul My Name Is Khan.
Sudah lama sejak film Long Road To Heaven, saya menonton film yang bertema tentang teroris dan islam melalui sudut pandang muslim yang benar-benar mengaduk-aduk emosi saya. Sudah banyak yang mereview film ini. Dan rata-rata, semua orang yang sudah menonton film ini mengatakan bagus dan harus ditonton!
Jujur saja, saya agak skeptis pada awalnya. Karena sudah tertanam di otak saya, bahwa film India selalu identik dengan tarian di bawah hujan sambil bernyanyi-nyanyi. Dan yah, kali ini saya mengakui bahwa saya salah kali ini. Benar-benar salah. Tak ada tarian di bawah hujan sambil bernyanyi-nyanyi di film ini. Film ini berbeda dengan film-film cheesy India lainnya.
Film ini bercerita tentang bagaimana kehidupan muslim yang hidup di negara Amerika. Bagaimana awalnya mereka diterima dengan baik di sana, dan bagaimana perubahan lingkungan yang mereka dapatkan setelah kejadian 9/11 dimana teroris yang menyerang gedung WTC adalah kaum muslim sehingga muslim yang berada di Amerika pun merasakan diskriminasi.
Adalah Rizvan Khan, tokoh utama yang menderita Sindrom Asperger dimana dia takut melihat warna kuning dan kebisingan. Sindrom yang di deritanya membuatnya berbeda dengan orang-orang lainnya. Beruntunglah dia memiliki seorang ibu yang luar biasa menyayanginya dan mengajarinya semua ilmu tentang kehidupan yang tak lepas dari ilmu agama.
"Ada dua yang membedakan orang. Insan yang baik yang berkelakuan baik, dan insan yang buruk yang berkelakuan buruk. Selain itu, tidak ada perbedaan yang berarti" itu adalah kata-kata yang diucapkan ibu Khan kepada anaknya. Dan kata-kata tersebut menjadi kekuatan seorang Khan dalam menghadapi perbedaan di dalam kehidupannya.
Sindrom yang diderita Khan, menurut saya malah menjadi hal yang sangat penting bagi kehidupannya. Khan memandang dunia dari sudut pandang anak kecil, menurut saya. Yang masih murni, masih polos, dan belum ternoda. Walaupun banyak yang sudah ia lalui sebagai orang yang "istimewa" yang tentunya tidaklah mudah. Tapi dia tetap memegang teguh apa yang menjadi pedoman hidupnya yang sudah diajarkan oleh ibundanya. Tanpa tegoyahkan sama sekali.
Film ini cukup menguras emosi dan juga memberikan pelajaran yang luar biasa banyak. Tentang bagaimana perjuangan kaum muslim yang mencoba bertahan di tengah diskriminasi orang-orang dan lingkungan sekitar yang menolak keberadaan mereka, tentang bagaimana seharusnya perbedaan tidak menjadi jurang pemisah yang terlalu dalam sehingga tidak bisa bekerja sama dan bersama, tentang bagaimana Islam sesungguhnya.
Film ini cukup berani mengangkat tema ini. Tema yang sampai sekarang, saya yakin masih terjadi walaupun tidak seekstrim dulu. Bukan hanya di negara Amerika, tapi saya yakin di negara lain pun memiliki konflik seperti ini. Ya. Kejadian 9/11 mempengaruhi seluruh dunia. Dan ya, film ini luar biasa. It's worth to watch.
Karena film ini, saya pun jadi ingin mengatakan kepada seluruh dunia dan seluruh orang yang masih berpikiran sempit dan menilai bahwa muslim itu tak lebih dari terroris :
"Yes! I'm a moslem and i'm not a terrorist!"
Over and out.
No comments:
Post a Comment