Thursday, May 11, 2017

Tahun Ini (2)

Intinya, selama dua bulan belakangan ini hidup gue jungkir balik nggak karuan lah. Bolak balik ke dokter, fisioterapi, dokter lagi, suntik, obat. 

Gue yang biasanya biasa kemana-mana sendiri, sekarang rute nya cuma kantor- rumah – kantor – rumah – bioskop nonton ghibli karena cuman itu satu-satunya film yang bikin bahagia, jadi harus gue bela-belain – rumah – kantor – rumah. Konstan selama dua bulan.

Tapi yang paling bikin sedih itu bukan karena gue nggak bisa kemana-mana tanpa bantuan tongkat. Tapi karena gue harus selalu ngerepotin orangtua. Sekarang gue helpless kalau nggak ada mereka. Mereka yang nemenin gue bolak balik ke dokter, fisioterapi, dokter, dokter, dokter. Biaya yang udah keluar pun entah udah berapa juta.
Di saat umur segini, harusnya gue yang menjaga mereka, ini malah kebalikan. Rasanya sedih banget. Berasa nggak berguna jadi anak. Jadi manusia. Nggak ada gunanya sama sekali. Cuma bisa nyusahin. 

Dan semakin sedih ketika gue jadi mengetahui gimana orang-orang sebenarnya.
Banyak orang melihat gue dengan tatapan aneh. Pakai tongkat tapi kok sepatunya running shoes? Karena dokter gue nyuruh gue pake sol yang empuk dan satu-satunya sepatu empuk di rumah gue running shoes bokap gue yang ukurannya 42. Satu ukuran lebih besar dibanding sepatu gue. Untungnya lebih besar, karena kaki gue bengkak. Belum lagi bagian belakangnya itu nopang batang tumit gue, jadi ngebantu gue untuk jalan.
Gue pernah jalan di dalam kereta sampai tiga gerbong karena nggak ada satupun orang yang mau ngasih tempat duduknya ke gue. Sama sekali. Sumpah. Gue akhirnya harus turun dan pindah peron untuk naik kereta selanjutnya yang nggak terlalu penuh.
Dan pulang pun, gue selalu naik kereta yang muter ke Kota dulu. Perjalanan pulang sekarang memakan waktu dua jam setengah, tapi demi gue dapat tempat duduk, apa boleh buat.
Ke kondangan pun sekarang jadi sulit sekali. Beberapa waktu lalu ada teman gue menikah dan gue udah berniat banget pergi kesana. Nggak apa-apa pakai tongkat, yang penting pakai sepatu kondangan. Tapi sepatu gue nggak bisa dipakai karena kaki gue yang sakit ini, bengkak dari dua bulan lalu. Nggak tahu karena memar otot gue ketusuk-tusuk terus jadi memar terus dalamnya, karena suntikan dokter, atau karena apa. Udah gue kompres, tetap juga bengkak. Jadi gue nggak bisa pergi ke acara nikahan teman gue.


Depresi? Iya.

Hilang harapan? Hampir.


Lalu pikiran gue melantur kemana-mana.
Sampai kapan gue harus pakai tongkat? Sampai kapan gue harus bergantung sama painkiller supaya bagian dalam kaki gue nggak berasa ditusuk-tusuk lagi? Apa kabar ginjal gue kalau gue terus-terusan minum painkiller? Tapi tanpa itu gue nggak bisa jalan. Fisioterapi nggak ada gunanya. Kaki gue tetap sakit. 
Gue bakalan dipecat apa nggak dari kantor kalau terus-terusan nggak masuk karena kaki gue saking sakitnya, nggak bisa jalan? Apa gue bakalan dipindah ke divisi lain yang selalu mereka bilang “divisi buangan” karena nggak perform?
Masa depan gue gimana? Tongkat selamanya? Atau lebih parah lagi, kursi roda? Apa masih ada yang mau nikahin gue kalau gue terus-terusan pakai tongkat gini? Nanti kalau punya anak gimana? Kalau mereka lari-lari, gimana gue bisa ngejar pakai tongkat? Masa depan gue apa akan sesuram itu? Karena sudah dua bulan berlalu, tapi kaki gue masih tetap begini. 
Apa lebih baik kalau gue mati aja? Mungkin orangtua gue juga nggak bakalan susah, nggak bakalan repot. Waktu, tenaga, uang mereka nggak akan kebuang sia-sia. Iya kan?

Jadi itu kenapa gue sering sekali memilih untuk lembur di kantor. Memang karena pekerjaan gue yang selalu membludak, tapi juga supaya gue bisa terdistraksi untuk nggak memikirkan semua pikiran itu.
Lebih baik fisik gue yang capek. Kalau gue udah terlalu capek dan terlalu lelah, gue udah nggak punya tenaga lagi untuk depresi. Udah nggak sempat mikir macem-macem. Cuma mau kasur. Dan besok paginya pun gue akan terlalu lelah untuk ngerasa depresi. Sampai kantor, kerjaan udah nunggu lagi. Nggak punya waktu untuk mikir macem-macem karena deadline selalu datang kayak ombak. Nggak selesai-selesai. Dan gue bersyukur karena itu.

Tapi yah, sakit ini juga nggak selalu membuat gue berubah menjadi negatif. Ada saatnya, gue jadi menyadari walaupun mungkin ada sebagian orang-orang yang nggak peduli dengan keadaan gue yang sakit (kayak pengguna kereta sialan itu), gue menyadari banyak juga orang-orang di sekitar gue yang sangat sangat baik.
Dari Pak Satpam yang selalu bukain pintu grabcar kalau gue kesusahan untuk buka, mereka yang sigap megangin gue pas gue hampir kepleset pas hujan karena tongkat gue licin, temen kantor yang bela-belain jalan ke perempatan untuk manggilin bajaj buat gue pulang ke stasiun karena aplikasi eror, bos bos di kantor yang selalu nyuruh gue hati-hati setiap kali gue naik turun tangga, bos bos kantor yang nyuruh gue jangan lembur dulu dengan keadaan kaki yang begini tapi emang guenya aja yang bandel karena lebih memilih lembur sampe jam 9, temen-temen yang bersedia denger curhatan panjang lebar gue tentang dokter, obat, fisioterapi, temen yang bersedia dengerin gue nangis, bantu googling dokter mana yang kira-kira bisa ngebantu, dan lain-lain.

Mungkin Allah ngasih gue penyakit ini supaya gue bisa berjalan dan melihat sekeliling dengan lebih seksama. Langkah kaki gue sekarang 3 kali lipat lebih pelan dibanding biasanya. Biasanya gue cuek , bergegas cepat ke tujuan tanpa lihat kanan kiri. Tapi karena langkah kaki gue lebih lambat dibanding biasanya, gue jadi punya waktu untuk memperhatikan sekitar. Mulai dari karakter orang-orang yang ada di sekitar gue, pemandangan, langit, sinar matahari, angin, hujan. Gue kayak melihat semuanya dalam slow motion.

Gue mencoba mengerti kenapa selama ini si A sikapnya ketus, kenapa si B selalu mengeluh tanpa henti, kenapa si C selalu tertawa padahal sering juga gue nemu dia lagi nangis sendirian.
Gue mencoba menikmati pemandangan di stasiun yang penuh para pekerja yang ingin pulang. Mereka yang bisa tetap menikmati perjalanan di kereta yang kadang penuhnya nggak manusiawi, yang walaupun sempit-sempitan tapi masih bisa nelfon suami atau istrinya. Nanya mau dibawain makanan apa pas pulang.
Gue mencoba menikmati langit yang gelap. Baik penuh bintang atau nggak.
Gue mencoba menikmati sinar matahari yang terus terusan menyengat ketika gue lagi jalan cari makan siang. Karena gue nggak bisa jalan cepat, jadi nggak ada pilihan lain selain menikmati kan?
Gue mencoba menikmati semilir angin sejuk setiap kali mau pulang kantor kalau gue beruntung bisa puang sore hari
Gue juga mencoba menikmati hujan yang turun setiap kali jam pulang tiba. Terpaksa nunggu hujan mereda karena gue + tongkat + payung adalah kombinasi mematikan yang ribetnya ampun-ampunan. Jadi gue lebih memilih menunggu sampai hujan reda.

Mungkin Allah ngasih gue penyakit ini karena gue lalai dalam menjalankan perintah-Nya. Mungkin mulut gue yang biasanya suka nyeplos tanpa mikir ini harus di rem. Mungkin karena solat gue masih telat, masih bolong. Mungkin karena ngaji gue masih bolong. Mungkin ini salah satu sentilan supaya gue lebih ingat lagi pada-Nya. Ya kan?

Karena sakit ini, gue juga jadi lebih banyak bersyukur. Untuk banyak hal. Ternyata banyak hal remeh temeh yang menurut gue biasa aja, tapi ternyata harus gue syukuri.
Memiliki orangtua seperti orangtua gue sekarang yang bersedia menemani gue bolak balik berobat, orang-orang di sekitar gue yang baik, bos-bos gue yang pengertian karena gue sakit, kaki kanan gue yang alhamdulilah masih kuat menopang gue, kantor yang alhamdulilah deket sama stasiun juanda jadi bisa langsung ke arah bekasi tanpa harus transit di manggarai yang penuh dengan drama, dan banyak hal lainnya.

Sedihnya, dulu sempat lupa bersyukur ketika gue masih bisa jalan dengan dua kaki, tanpa bantuan apapun. Satu hal yang lupa gue syukuri ketika gue masih bisa menikmati hal itu.


Yak, begitulah. Untuk orang lain, dua bulan mungkin memang waktu yang cukup cepat. Tapi buat gue, dua bulan belakangan adalah waktu yang cukup lamban, menyakitkan. Tapi walaupun melelahkan, menyakitkan, dan untuk ke depannya masih jadi tanda tanya besar buat gue (apa gue harus pindah dokter orto supaya bisa tahu langkah apa yang harus dilakukan ke depannya, gimana nasib gue ke depannya, apakah gue bisa sembuh kayak dulu lagi tanpa tongkat atau gimana) tapi dua bulan belakangan cukup membuat membuat gue memandang dunia dengan berbeda.

Dan semoga bisa merubah gue menjadi manusia yang lebih baik.

Tahun Ini (1)

Astaga. Udah hiatus berapa lama ini? Setahun? 

Hahahaha… dateng-dateng pas lagi nambah umur. Yaay! Happy birthday to meeeehhh 
Berhubung nggak ada yang ngucapin, jadi ngucapin sendiri lah sedih

28 tahun? Duh, masih muda lah yahahahahahaha di mute satu NKRI

Hummm…. Jadi setelah tahun-tahun yang lalu berlalu seperti tanpa ada perubahan dan tetap konstan seperti biasa, Allah ngasih gue kejutan di tahun ini. Dan postingan kali ini, karena gue mau curhat panjang lebar, jadi kayaknya gue bagi 2 bagian. Ehe ehe. Yang protes, silakan minggat.

So anyway, ada yang terjadi sama gue. Teman gue bertambah tiga. Yang satu, namanya Stella. Warnanya abu-abu. Sejauh ini selama dua bulan belakangan, kemana-mana gue selalu sama dia. Bahkan setiap bangun pagi, gue selalu butuh. Dia penopang gue. Kaki ketiga gue. Selamat datang, Stella. Bukan nggak sopan, tapi gue berharap semoga si Stella ini nggak betah lama-lama temenan sama gue. 

Yang kedua, Si Kembar nggak mirip si kembar yang di The Shining lah ya. Itu mah ngeri, gila
Jarang nemenin karena kalau pakai itu, agak ribet. Bingung mau naruh di kereta nya gimana. Jadi jarang dipakai, kecuali kalau harus jalan agak jauh karena emang enak. Ngebantu banget untuk nopang dan bikin kaki istirahat. 

Jadi sebenarnya udah agak lama gue ngerasa kaki gue sakit. Dulu sih sakitnya ilang timbul, ilang timbul. Biasanya setiap gue berdiri lama atau abis jalan jauh. Kaki kiri rasanya nyut-nyutan. Dan sempat pula diserempet motor pas gue lagi jalan. Bayangin aja pas gue lagi jalan di serempet! Sumpah serapah keluar semua lah pokoknya. Hahaha… Tapi ternyata sakitnya bukan karena gue jatuh. Ada hal yang terjadi di kaki gue yang sudah berlangsung cukup lama, tanpa gue ketahui.

Lalu datanglah Maret. Bulan yang paling bikin campur aduk.

Awal Maret, seperti biasa gue datang ke Javajazz. Bahkan tahun ini gue sempetin ngambil cuti di hari Jumat, jadi gue full 3 hari datang dari pas buka sampai tengah malem. Tiga hari berturut-turut gue kayak puas puasin bahagiain diri sendiri dengan live music karena sebelum-sebelumnya lembur non stop nggak karuan. Tiga hari gue berdiri kurang lebih 7 jam.
Nyanyi, kadang loncat, berdiri lagi, jalan muterin kemayoran.
Tiga hari berturut-turut selama 7 jam gue nggak peduliin kaki gue yang udah mulai sakit walaupun baru jalan dua jam. Dan ternyata tragedi pun dimulai setelah itu.

Seminggu sehabis Java Jazz, kaki gue konstan sakitnya. Berasa kayak ditusuk-tusuk. Gue jalan ke kantor pake perban karena gue nggak bisa lagi berdiri di kereta. Gue pincang luar biasa. Kaki gue makin lama makin sakit. Akhirnya gue pun periksa lagi dan kali ini kaki gue di ronsen. Hasilnya? 
P e n g a p u r a n

Kaget? Ya. Sama. Udah ada entah berapa orang yang selalu menunjukkan reaksi yang sama.
“Masa sih?”
“Serius?”
“Ah bohong.”
“Kok bisa?”
“Itu kan penyakit orang tua.”

Jangankan kita orang awam. Dokternya pun kalau nggak ngeliat hasil ronsen kaki gue, yang memperlihatkan ada dua bagian tulang gue yang kikis dan meruncing (di batang tumit dan bagian telapak bawah), nggak bakalan percaya gue kena penyakit itu di usia gue yang bahkan belum menginjak kepala 3.

Setelah dari dokter umum dan gue di vonis kena penyakit itu, dokternya nyuruh gue fisioterapi. Jadilah dengan linglung dan perasaan yang masih campur aduk nggak ngerti harus gimana, gue keluar rumah sakit dengan kaki yang makin sakit.

Dengan pertimbangan bahwa kaki gue sakitnya nggak bakalan sebentar, akhirnya gue dianter nyokap ke toko alat-alat kesehatan. Ngeliat peralatan kesehatan yang ada disana, rasanya semakin suram. Tongkat ada macam-macam. Yang cuman sebatang, yang bawahnya ada tiga kaki, yang macem kayak jemuran buat dipegang dua tangan. Dan yang paling bikin gue nelen ludah dengan susah payah adalah kursi roda. Gue yang masih terpukul, melihat kursi roda seakan melihat masa depan gue. Mau nangis, ada nyokap gue. Jadi gue tahan itu gundukan besar di tenggorokan dan di dalam mata gue.

Gue akhirnya googling tentang penyakit itu. Nggak ada hal baik yang bisa gue temukan. Rata-rata tulisan “nggak bisa sembuh. Yang bisa Cuma buat menghilangkan rasa sakit.”

Perjalanan selanjutnya pun jangan dikira gampang. Udah muter-muter sana sini sampe capek banget. Dari mulai awalnya salah dokter yang dituju padahal udah jauh-jauh ke jakarta, perpindahan dokter bedah sampe dua kali, bolak balik fisioterapi yang nggak ada gunanya tapi menguras uang, dan lain sebagainya. Pokoknya panjang kalau di ceritain ulang.

Rencana-rencana yang udah gue coba rancang dari tahun lalu, berantakan semua. Tadinya gue mau cari ladang rejeki di tempat lain, tapi akhirnya batal karena keadaan begini. Tadinya ada niat mau ke acara ini, acara itu, nabung buat ke event ina itu la la la la la segala macem, batal semua.

Jadi yah, begitulah. Sejak bulan Maret kemarin, kehidupan gue berubah.

Monday, March 28, 2016

Jadiii... how's life?

Ehe ehe ehe...

Udah lama banget nggak nulis disini sambil nyapu-nyapu


Urusan kantor dan segala macemnya, bikin tiap nyampe rumah langsung tepar. Mau mikir buat ide tulisan pendek, nggak kepikiran sama sekali.

Tapi akhir-akhir ini, gue lagi gencar banget nulis tulisan panjang uhuk, novel. uhuk demi atas nama meraih mimpi yang dulu pernah ada halah

Jadi si novel itu (dengan Bismillah), sudah dikirimkan ke penerbit. Tapi yah emang belom ada jawaban sih sampe sekarang. Wish me luck deh. Atau kalau pun memang di tolak, tolong doain supaya gue nggak sakit hati. Huhuhuhu....

Anywaaaayy... Semoga nanti ada masukan untuk gue nulis lagi dengan lebih intens dan lancar \m/