Intinya, selama dua
bulan belakangan ini hidup gue jungkir balik nggak karuan lah. Bolak
balik ke dokter, fisioterapi, dokter lagi, suntik, obat.
Gue yang biasanya
biasa kemana-mana sendiri, sekarang rute nya cuma kantor- rumah –
kantor – rumah – bioskop nonton ghibli karena cuman itu
satu-satunya film yang bikin bahagia, jadi harus gue bela-belain –
rumah – kantor – rumah. Konstan selama dua bulan.
Tapi yang paling
bikin sedih itu bukan karena gue nggak bisa kemana-mana tanpa bantuan
tongkat. Tapi karena gue harus selalu ngerepotin orangtua. Sekarang
gue helpless kalau nggak ada mereka. Mereka yang nemenin gue bolak
balik ke dokter, fisioterapi, dokter, dokter, dokter. Biaya yang udah
keluar pun entah udah berapa juta.
Di saat umur segini,
harusnya gue yang menjaga mereka, ini malah kebalikan. Rasanya sedih
banget. Berasa nggak berguna jadi anak. Jadi manusia. Nggak ada
gunanya sama sekali. Cuma bisa nyusahin.
Dan semakin sedih ketika gue jadi mengetahui gimana orang-orang sebenarnya.
Banyak orang melihat
gue dengan tatapan aneh. Pakai tongkat tapi kok sepatunya running
shoes? Karena dokter gue nyuruh gue pake sol yang empuk dan
satu-satunya sepatu empuk di rumah gue running shoes bokap gue yang
ukurannya 42. Satu ukuran lebih besar dibanding sepatu gue. Untungnya
lebih besar, karena kaki gue bengkak. Belum lagi bagian belakangnya
itu nopang batang tumit gue, jadi ngebantu gue untuk jalan.
Gue pernah jalan di
dalam kereta sampai tiga gerbong karena nggak ada satupun orang yang
mau ngasih tempat duduknya ke gue. Sama sekali. Sumpah. Gue akhirnya
harus turun dan pindah peron untuk naik kereta selanjutnya yang nggak
terlalu penuh.
Dan pulang pun, gue
selalu naik kereta yang muter ke Kota dulu. Perjalanan pulang
sekarang memakan waktu dua jam setengah, tapi demi gue dapat tempat
duduk, apa boleh buat.
Ke kondangan pun
sekarang jadi sulit sekali. Beberapa waktu lalu ada teman gue menikah
dan gue udah berniat banget pergi kesana. Nggak apa-apa pakai
tongkat, yang penting pakai sepatu kondangan. Tapi sepatu gue nggak
bisa dipakai karena kaki gue yang sakit ini, bengkak dari dua bulan
lalu. Nggak tahu karena memar otot gue ketusuk-tusuk terus jadi memar
terus dalamnya, karena suntikan dokter, atau karena apa. Udah gue
kompres, tetap juga bengkak. Jadi gue nggak bisa pergi ke acara
nikahan teman gue.
Depresi? Iya.
Hilang harapan? Hampir.
Lalu pikiran gue melantur kemana-mana.
Sampai kapan gue
harus pakai tongkat? Sampai kapan gue harus bergantung sama
painkiller supaya bagian dalam kaki gue nggak berasa ditusuk-tusuk
lagi? Apa kabar ginjal gue kalau gue terus-terusan minum painkiller?
Tapi tanpa itu gue nggak bisa jalan. Fisioterapi nggak ada gunanya. Kaki gue tetap sakit.
Gue bakalan dipecat
apa nggak dari kantor kalau terus-terusan nggak masuk karena kaki gue
saking sakitnya, nggak bisa jalan? Apa gue bakalan dipindah ke divisi
lain yang selalu mereka bilang “divisi buangan” karena nggak
perform?
Masa depan gue
gimana? Tongkat selamanya? Atau lebih parah lagi, kursi roda? Apa
masih ada yang mau nikahin gue kalau gue terus-terusan pakai tongkat
gini? Nanti kalau punya anak gimana? Kalau mereka lari-lari, gimana
gue bisa ngejar pakai tongkat? Masa depan gue apa akan sesuram itu?
Karena sudah dua bulan berlalu, tapi kaki gue masih tetap begini.
Apa lebih baik kalau
gue mati aja? Mungkin orangtua gue juga nggak bakalan susah, nggak
bakalan repot. Waktu, tenaga, uang mereka nggak akan kebuang sia-sia.
Iya kan?
Jadi itu kenapa gue
sering sekali memilih untuk lembur di kantor. Memang karena pekerjaan
gue yang selalu membludak, tapi juga supaya gue bisa terdistraksi
untuk nggak memikirkan semua pikiran itu.
Lebih baik fisik gue yang capek. Kalau gue udah terlalu capek dan terlalu lelah, gue udah nggak punya tenaga lagi untuk depresi. Udah nggak sempat mikir macem-macem. Cuma mau kasur. Dan besok paginya pun gue akan terlalu lelah untuk ngerasa depresi. Sampai kantor, kerjaan udah nunggu lagi. Nggak punya waktu untuk mikir macem-macem karena deadline selalu datang kayak ombak. Nggak selesai-selesai. Dan gue bersyukur karena itu.
Lebih baik fisik gue yang capek. Kalau gue udah terlalu capek dan terlalu lelah, gue udah nggak punya tenaga lagi untuk depresi. Udah nggak sempat mikir macem-macem. Cuma mau kasur. Dan besok paginya pun gue akan terlalu lelah untuk ngerasa depresi. Sampai kantor, kerjaan udah nunggu lagi. Nggak punya waktu untuk mikir macem-macem karena deadline selalu datang kayak ombak. Nggak selesai-selesai. Dan gue bersyukur karena itu.
Tapi yah, sakit ini
juga nggak selalu membuat gue berubah menjadi negatif. Ada saatnya,
gue jadi menyadari walaupun mungkin ada sebagian orang-orang yang nggak peduli
dengan keadaan gue yang sakit (kayak pengguna kereta sialan itu), gue menyadari banyak juga orang-orang di sekitar gue yang sangat sangat baik.
Dari Pak Satpam yang
selalu bukain pintu grabcar kalau gue kesusahan untuk buka, mereka
yang sigap megangin gue pas gue hampir kepleset pas hujan karena
tongkat gue licin, temen kantor yang bela-belain jalan ke perempatan
untuk manggilin bajaj buat gue pulang ke stasiun karena aplikasi
eror, bos bos di kantor yang selalu nyuruh gue hati-hati setiap kali
gue naik turun tangga, bos bos kantor yang nyuruh gue jangan lembur
dulu dengan keadaan kaki yang begini tapi emang guenya aja yang
bandel karena lebih memilih lembur sampe jam 9, temen-temen yang
bersedia denger curhatan panjang lebar gue tentang dokter, obat,
fisioterapi, temen yang bersedia dengerin gue nangis, bantu googling
dokter mana yang kira-kira bisa ngebantu, dan lain-lain.
Mungkin Allah ngasih
gue penyakit ini supaya gue bisa berjalan dan melihat sekeliling
dengan lebih seksama. Langkah kaki gue sekarang 3 kali lipat lebih
pelan dibanding biasanya. Biasanya gue cuek , bergegas cepat ke
tujuan tanpa lihat kanan kiri. Tapi karena langkah kaki gue lebih
lambat dibanding biasanya, gue jadi punya waktu untuk memperhatikan
sekitar. Mulai dari karakter orang-orang yang ada di sekitar gue, pemandangan, langit,
sinar matahari, angin, hujan. Gue kayak melihat semuanya dalam slow motion.
Gue mencoba mengerti kenapa selama ini si A sikapnya ketus, kenapa si B selalu mengeluh tanpa henti, kenapa si C selalu tertawa padahal sering juga gue nemu dia lagi nangis sendirian.
Gue mencoba menikmati pemandangan di stasiun yang penuh para pekerja yang ingin pulang. Mereka yang bisa tetap menikmati perjalanan di kereta yang kadang penuhnya nggak manusiawi, yang walaupun sempit-sempitan tapi masih bisa nelfon suami atau istrinya. Nanya mau dibawain makanan apa pas pulang.
Gue mencoba menikmati langit yang gelap. Baik penuh bintang atau nggak.
Gue mencoba menikmati sinar matahari yang terus terusan menyengat ketika gue lagi jalan cari makan siang. Karena gue nggak bisa jalan cepat, jadi nggak ada pilihan lain selain menikmati kan?
Gue mencoba menikmati semilir angin sejuk setiap kali mau pulang kantor kalau gue beruntung bisa puang sore hari
Gue juga mencoba menikmati hujan yang turun setiap kali jam pulang tiba. Terpaksa nunggu hujan mereda karena gue + tongkat + payung adalah kombinasi mematikan yang ribetnya ampun-ampunan. Jadi gue lebih memilih menunggu sampai hujan reda.
Gue mencoba mengerti kenapa selama ini si A sikapnya ketus, kenapa si B selalu mengeluh tanpa henti, kenapa si C selalu tertawa padahal sering juga gue nemu dia lagi nangis sendirian.
Gue mencoba menikmati pemandangan di stasiun yang penuh para pekerja yang ingin pulang. Mereka yang bisa tetap menikmati perjalanan di kereta yang kadang penuhnya nggak manusiawi, yang walaupun sempit-sempitan tapi masih bisa nelfon suami atau istrinya. Nanya mau dibawain makanan apa pas pulang.
Gue mencoba menikmati langit yang gelap. Baik penuh bintang atau nggak.
Gue mencoba menikmati sinar matahari yang terus terusan menyengat ketika gue lagi jalan cari makan siang. Karena gue nggak bisa jalan cepat, jadi nggak ada pilihan lain selain menikmati kan?
Gue mencoba menikmati semilir angin sejuk setiap kali mau pulang kantor kalau gue beruntung bisa puang sore hari
Gue juga mencoba menikmati hujan yang turun setiap kali jam pulang tiba. Terpaksa nunggu hujan mereda karena gue + tongkat + payung adalah kombinasi mematikan yang ribetnya ampun-ampunan. Jadi gue lebih memilih menunggu sampai hujan reda.
Mungkin Allah ngasih
gue penyakit ini karena gue lalai dalam menjalankan perintah-Nya.
Mungkin mulut gue yang biasanya suka nyeplos tanpa mikir ini harus di
rem. Mungkin karena solat gue masih telat, masih bolong. Mungkin
karena ngaji gue masih bolong. Mungkin ini salah satu sentilan supaya
gue lebih ingat lagi pada-Nya. Ya kan?
Karena sakit ini, gue juga jadi lebih banyak bersyukur. Untuk banyak hal. Ternyata banyak hal remeh temeh yang menurut gue biasa aja, tapi ternyata harus gue syukuri.
Memiliki orangtua seperti orangtua gue sekarang yang bersedia menemani gue bolak balik berobat, orang-orang di sekitar gue yang baik, bos-bos gue yang pengertian karena gue sakit, kaki kanan gue yang alhamdulilah masih kuat menopang gue, kantor yang alhamdulilah deket sama stasiun juanda jadi bisa langsung ke arah bekasi tanpa harus transit di manggarai yang penuh dengan drama, dan banyak hal lainnya.
Sedihnya, dulu sempat lupa bersyukur ketika gue masih bisa jalan dengan dua kaki, tanpa bantuan apapun. Satu hal yang lupa gue syukuri ketika gue masih bisa menikmati hal itu.
Memiliki orangtua seperti orangtua gue sekarang yang bersedia menemani gue bolak balik berobat, orang-orang di sekitar gue yang baik, bos-bos gue yang pengertian karena gue sakit, kaki kanan gue yang alhamdulilah masih kuat menopang gue, kantor yang alhamdulilah deket sama stasiun juanda jadi bisa langsung ke arah bekasi tanpa harus transit di manggarai yang penuh dengan drama, dan banyak hal lainnya.
Sedihnya, dulu sempat lupa bersyukur ketika gue masih bisa jalan dengan dua kaki, tanpa bantuan apapun. Satu hal yang lupa gue syukuri ketika gue masih bisa menikmati hal itu.
Yak, begitulah.
Untuk orang lain, dua bulan mungkin memang waktu yang cukup cepat.
Tapi buat gue, dua bulan belakangan adalah waktu yang cukup lamban,
menyakitkan. Tapi walaupun melelahkan, menyakitkan, dan untuk ke
depannya masih jadi tanda tanya besar buat gue (apa gue harus pindah
dokter orto supaya bisa tahu langkah apa yang harus dilakukan ke
depannya, gimana nasib gue ke depannya, apakah gue bisa sembuh kayak
dulu lagi tanpa tongkat atau gimana) tapi dua bulan belakangan cukup
membuat membuat gue memandang dunia dengan berbeda.
Dan semoga bisa
merubah gue menjadi manusia yang lebih baik.


No comments:
Post a Comment