Thursday, May 11, 2017

Tahun Ini (1)

Astaga. Udah hiatus berapa lama ini? Setahun? 

Hahahaha… dateng-dateng pas lagi nambah umur. Yaay! Happy birthday to meeeehhh 
Berhubung nggak ada yang ngucapin, jadi ngucapin sendiri lah sedih

28 tahun? Duh, masih muda lah yahahahahahaha di mute satu NKRI

Hummm…. Jadi setelah tahun-tahun yang lalu berlalu seperti tanpa ada perubahan dan tetap konstan seperti biasa, Allah ngasih gue kejutan di tahun ini. Dan postingan kali ini, karena gue mau curhat panjang lebar, jadi kayaknya gue bagi 2 bagian. Ehe ehe. Yang protes, silakan minggat.

So anyway, ada yang terjadi sama gue. Teman gue bertambah tiga. Yang satu, namanya Stella. Warnanya abu-abu. Sejauh ini selama dua bulan belakangan, kemana-mana gue selalu sama dia. Bahkan setiap bangun pagi, gue selalu butuh. Dia penopang gue. Kaki ketiga gue. Selamat datang, Stella. Bukan nggak sopan, tapi gue berharap semoga si Stella ini nggak betah lama-lama temenan sama gue. 

Yang kedua, Si Kembar nggak mirip si kembar yang di The Shining lah ya. Itu mah ngeri, gila
Jarang nemenin karena kalau pakai itu, agak ribet. Bingung mau naruh di kereta nya gimana. Jadi jarang dipakai, kecuali kalau harus jalan agak jauh karena emang enak. Ngebantu banget untuk nopang dan bikin kaki istirahat. 

Jadi sebenarnya udah agak lama gue ngerasa kaki gue sakit. Dulu sih sakitnya ilang timbul, ilang timbul. Biasanya setiap gue berdiri lama atau abis jalan jauh. Kaki kiri rasanya nyut-nyutan. Dan sempat pula diserempet motor pas gue lagi jalan. Bayangin aja pas gue lagi jalan di serempet! Sumpah serapah keluar semua lah pokoknya. Hahaha… Tapi ternyata sakitnya bukan karena gue jatuh. Ada hal yang terjadi di kaki gue yang sudah berlangsung cukup lama, tanpa gue ketahui.

Lalu datanglah Maret. Bulan yang paling bikin campur aduk.

Awal Maret, seperti biasa gue datang ke Javajazz. Bahkan tahun ini gue sempetin ngambil cuti di hari Jumat, jadi gue full 3 hari datang dari pas buka sampai tengah malem. Tiga hari berturut-turut gue kayak puas puasin bahagiain diri sendiri dengan live music karena sebelum-sebelumnya lembur non stop nggak karuan. Tiga hari gue berdiri kurang lebih 7 jam.
Nyanyi, kadang loncat, berdiri lagi, jalan muterin kemayoran.
Tiga hari berturut-turut selama 7 jam gue nggak peduliin kaki gue yang udah mulai sakit walaupun baru jalan dua jam. Dan ternyata tragedi pun dimulai setelah itu.

Seminggu sehabis Java Jazz, kaki gue konstan sakitnya. Berasa kayak ditusuk-tusuk. Gue jalan ke kantor pake perban karena gue nggak bisa lagi berdiri di kereta. Gue pincang luar biasa. Kaki gue makin lama makin sakit. Akhirnya gue pun periksa lagi dan kali ini kaki gue di ronsen. Hasilnya? 
P e n g a p u r a n

Kaget? Ya. Sama. Udah ada entah berapa orang yang selalu menunjukkan reaksi yang sama.
“Masa sih?”
“Serius?”
“Ah bohong.”
“Kok bisa?”
“Itu kan penyakit orang tua.”

Jangankan kita orang awam. Dokternya pun kalau nggak ngeliat hasil ronsen kaki gue, yang memperlihatkan ada dua bagian tulang gue yang kikis dan meruncing (di batang tumit dan bagian telapak bawah), nggak bakalan percaya gue kena penyakit itu di usia gue yang bahkan belum menginjak kepala 3.

Setelah dari dokter umum dan gue di vonis kena penyakit itu, dokternya nyuruh gue fisioterapi. Jadilah dengan linglung dan perasaan yang masih campur aduk nggak ngerti harus gimana, gue keluar rumah sakit dengan kaki yang makin sakit.

Dengan pertimbangan bahwa kaki gue sakitnya nggak bakalan sebentar, akhirnya gue dianter nyokap ke toko alat-alat kesehatan. Ngeliat peralatan kesehatan yang ada disana, rasanya semakin suram. Tongkat ada macam-macam. Yang cuman sebatang, yang bawahnya ada tiga kaki, yang macem kayak jemuran buat dipegang dua tangan. Dan yang paling bikin gue nelen ludah dengan susah payah adalah kursi roda. Gue yang masih terpukul, melihat kursi roda seakan melihat masa depan gue. Mau nangis, ada nyokap gue. Jadi gue tahan itu gundukan besar di tenggorokan dan di dalam mata gue.

Gue akhirnya googling tentang penyakit itu. Nggak ada hal baik yang bisa gue temukan. Rata-rata tulisan “nggak bisa sembuh. Yang bisa Cuma buat menghilangkan rasa sakit.”

Perjalanan selanjutnya pun jangan dikira gampang. Udah muter-muter sana sini sampe capek banget. Dari mulai awalnya salah dokter yang dituju padahal udah jauh-jauh ke jakarta, perpindahan dokter bedah sampe dua kali, bolak balik fisioterapi yang nggak ada gunanya tapi menguras uang, dan lain sebagainya. Pokoknya panjang kalau di ceritain ulang.

Rencana-rencana yang udah gue coba rancang dari tahun lalu, berantakan semua. Tadinya gue mau cari ladang rejeki di tempat lain, tapi akhirnya batal karena keadaan begini. Tadinya ada niat mau ke acara ini, acara itu, nabung buat ke event ina itu la la la la la segala macem, batal semua.

Jadi yah, begitulah. Sejak bulan Maret kemarin, kehidupan gue berubah.

No comments: