Astaga. Udah hiatus
berapa lama ini? Setahun?
Hahahaha…
dateng-dateng pas lagi nambah umur. Yaay! Happy birthday to meeeehhh
Berhubung nggak ada yang ngucapin, jadi ngucapin sendiri lah
sedih
28 tahun? Duh, masih
muda lah yahahahahahaha di mute satu NKRI
Hummm…. Jadi
setelah tahun-tahun yang lalu berlalu seperti tanpa ada perubahan dan
tetap konstan seperti biasa, Allah
ngasih gue kejutan di tahun ini. Dan postingan kali ini, karena gue
mau curhat panjang lebar, jadi kayaknya gue bagi 2 bagian. Ehe ehe.
Yang protes, silakan minggat.
So anyway, ada yang
terjadi sama gue. Teman gue bertambah tiga. Yang satu, namanya Stella. Warnanya
abu-abu. Sejauh ini selama dua bulan belakangan, kemana-mana gue
selalu sama dia. Bahkan setiap bangun pagi, gue selalu butuh. Dia
penopang gue. Kaki ketiga gue. Selamat datang, Stella. Bukan nggak sopan, tapi gue berharap semoga si Stella ini nggak betah lama-lama temenan sama gue.
Yang kedua, Si Kembar nggak mirip si kembar yang di The Shining lah ya. Itu mah ngeri, gila
Jarang nemenin karena kalau pakai itu, agak ribet. Bingung mau naruh di kereta nya gimana. Jadi jarang dipakai, kecuali kalau harus jalan agak jauh karena emang enak. Ngebantu banget untuk nopang dan bikin kaki istirahat.
Jarang nemenin karena kalau pakai itu, agak ribet. Bingung mau naruh di kereta nya gimana. Jadi jarang dipakai, kecuali kalau harus jalan agak jauh karena emang enak. Ngebantu banget untuk nopang dan bikin kaki istirahat.
Jadi sebenarnya udah
agak lama gue ngerasa kaki gue sakit. Dulu sih sakitnya ilang timbul,
ilang timbul. Biasanya setiap gue berdiri lama atau abis jalan jauh.
Kaki kiri rasanya nyut-nyutan. Dan sempat pula diserempet motor pas
gue lagi jalan. Bayangin aja pas gue lagi jalan di serempet! Sumpah
serapah keluar semua lah pokoknya. Hahaha… Tapi ternyata sakitnya
bukan karena gue jatuh. Ada hal yang terjadi di kaki gue yang sudah berlangsung cukup lama, tanpa gue ketahui.
Lalu datanglah
Maret. Bulan yang paling bikin campur aduk.
Awal Maret, seperti
biasa gue datang ke Javajazz. Bahkan tahun ini gue sempetin ngambil
cuti di hari Jumat, jadi gue full 3 hari datang dari pas buka sampai
tengah malem. Tiga hari berturut-turut gue kayak puas puasin
bahagiain diri sendiri dengan live music karena sebelum-sebelumnya
lembur non stop nggak karuan. Tiga hari gue berdiri kurang lebih 7
jam.
Nyanyi, kadang loncat, berdiri lagi, jalan muterin kemayoran.
Tiga hari berturut-turut selama 7 jam gue nggak peduliin kaki gue yang udah mulai sakit walaupun baru jalan dua jam. Dan ternyata tragedi pun dimulai setelah itu.
Nyanyi, kadang loncat, berdiri lagi, jalan muterin kemayoran.
Tiga hari berturut-turut selama 7 jam gue nggak peduliin kaki gue yang udah mulai sakit walaupun baru jalan dua jam. Dan ternyata tragedi pun dimulai setelah itu.
Seminggu sehabis
Java Jazz, kaki gue konstan sakitnya. Berasa kayak ditusuk-tusuk. Gue
jalan ke kantor pake perban karena gue nggak bisa lagi berdiri di
kereta. Gue pincang luar biasa. Kaki gue makin lama makin sakit.
Akhirnya gue pun periksa lagi dan kali ini kaki gue di ronsen.
Hasilnya?
P e n g a p u r a n
Kaget? Ya. Sama.
Udah ada entah berapa orang yang selalu menunjukkan reaksi yang sama.
“Masa sih?”
“Serius?”
“Ah bohong.”
“Kok bisa?”
“Itu kan penyakit
orang tua.”
Jangankan kita orang
awam. Dokternya pun kalau nggak ngeliat hasil ronsen kaki gue, yang
memperlihatkan ada dua bagian tulang gue yang kikis dan meruncing (di
batang tumit dan bagian telapak bawah), nggak bakalan percaya gue
kena penyakit itu di usia gue yang bahkan belum menginjak kepala 3.
Setelah dari dokter
umum dan gue di vonis kena penyakit itu, dokternya nyuruh gue
fisioterapi. Jadilah dengan linglung dan perasaan yang masih campur
aduk nggak ngerti harus gimana, gue keluar rumah sakit dengan kaki
yang makin sakit.
Dengan pertimbangan
bahwa kaki gue sakitnya nggak bakalan sebentar, akhirnya gue dianter
nyokap ke toko alat-alat kesehatan. Ngeliat peralatan kesehatan yang
ada disana, rasanya semakin suram. Tongkat ada macam-macam. Yang
cuman sebatang, yang bawahnya ada tiga kaki, yang macem kayak jemuran
buat dipegang dua tangan. Dan yang paling bikin gue nelen ludah
dengan susah payah adalah kursi roda. Gue yang masih terpukul,
melihat kursi roda seakan melihat masa depan gue. Mau nangis, ada
nyokap gue. Jadi gue tahan itu gundukan besar di tenggorokan dan di
dalam mata gue.
Gue akhirnya
googling tentang penyakit itu. Nggak ada hal baik yang bisa gue
temukan. Rata-rata tulisan “nggak bisa sembuh. Yang bisa Cuma buat
menghilangkan rasa sakit.”
Perjalanan selanjutnya pun jangan dikira gampang. Udah muter-muter sana
sini sampe capek banget. Dari mulai awalnya salah dokter yang dituju
padahal udah jauh-jauh ke jakarta, perpindahan dokter bedah sampe dua
kali, bolak balik fisioterapi yang nggak ada gunanya tapi menguras
uang, dan lain sebagainya. Pokoknya panjang kalau di ceritain ulang.
Rencana-rencana yang
udah gue coba rancang dari tahun lalu, berantakan semua. Tadinya gue
mau cari ladang rejeki di tempat lain, tapi akhirnya batal karena
keadaan begini. Tadinya ada niat mau ke acara ini, acara itu, nabung
buat ke event ina itu la la la la la segala macem, batal semua.
Jadi yah, begitulah.
Sejak bulan Maret kemarin, kehidupan gue berubah.


No comments:
Post a Comment