Gambar diambil dari sini
Kemarin, dengan berat hati saya menuju daerah Tangerang untuk menghadiri pemakaman salah satu rekan kerja saya. Rekan kerja yang memang usianya sudah sangat jauh diatas saya, hampir 3 kali lipat usia saya.
Selain
perjalanan yang lumayan jauh, cuaca hari itu terasa sangat terik.
Sangat terik sampai panasnya menusuk kulit.
Saya
melihat orang-orang sekitar. Semua memandangi liang lahat dengan
tatapan kosong. Terdengar beberapa orang yang saling berbicara
satu sama lain. Membicarakan tentang kebaikan dan semua yang telah
beliau lakukan semasa hidup. Beliau memang orang baik dan periang. Tak pernah seharipun beliau tidak membuat orang lain tertawa. Celetukannya yang khas dengan logat betawi kental, masih terngiang-ngiang di kepala saya. Ah, saya pasti rindu dengan celetukan-celetukannya itu.
Kemudian pikiran saya terlempar pada satu buku yang belum lama ini
saya baca. Perempuan yang Melukis Wajah. Di buku kumpulan cerpen
tersebut, salah satunya menyebutkan satu cerita dimana sang perempuan
dan sang lelaki pertama kali bertemu lalu saling melontarkan
pertanyaan. Salah satunya, bagaimana kau ingin pemakamanmu nanti
dilaksanakan.
Saya membayangkan cuaca saat itu cerah dengan langit biru tanpa awan satu pun. Orang-orang yang saya sayangi datang, mengantarkan saya pada peristirahatan terakhir. Diri saya dibaringkan di sebuah padang rumput luas,
dengan pohon trembesi besar yang memayungi. Tak usah diberi keramik.
Saya hanya ingin gundukan tanah dengan rumput hijau tumbuh rapi di
sekitar tempat peristirahatan terakhir saya.
Kemudian orang-orang berdatangan sembari membawa benda-benda
kesayangan mereka. Jika kalian ingin sekedar membaca buku dan
menikmati hembusan angin, datanglah. Jika kalian ingin
bernyanyi-nyanyi dan bersenang-senang, marilah. Jika kalian ingin
sekedar berbicara dan bercerita mengenai kehidupan kalian, silakan.
Bahkan jika kalian ingin duduk diam saja dan sekedar mencari tempat
menyendiri sembari berkontemplasi, kemarilah. Lakukan kegiatan apa
saja yang kalian mau. Bergembiralah. Nikmatilah. Karena tempat saya terbaring
terakhir bukan tempat menakutkan.
Tepukan pelan di pundak saya, membawa saya kembali ke alam nyata. Saya masih berada di pemakaman rekan kantor saya. Di depan sana, di depan pusara jenazah, istri dan anaknya yang masih sekolah SD yang awalnya terlihat kuat, akhirnya menangis kencang. Satu anaknya yang paling kecil, masih melihat sekeliling dengan tidak mengerti. Mungkin dia bingung kenapa ayahnya yang sedang terlelap, ditangisi oleh semua orang.
Setelah doa dipanjatkan, kami pun kembali pulang sembari diiringi wangi kembang yang menyengat. Bahkan ketika saya berjalan menjauhi makam, saya membayangkan babeh tersenyum lebar dan berkata, "Ati-ati pulangnya."
Selamat berbahagia disana, beh. Inget, jangan ngerokok lagi ya disana. Hehehehe...
Tepukan pelan di pundak saya, membawa saya kembali ke alam nyata. Saya masih berada di pemakaman rekan kantor saya. Di depan sana, di depan pusara jenazah, istri dan anaknya yang masih sekolah SD yang awalnya terlihat kuat, akhirnya menangis kencang. Satu anaknya yang paling kecil, masih melihat sekeliling dengan tidak mengerti. Mungkin dia bingung kenapa ayahnya yang sedang terlelap, ditangisi oleh semua orang.
Setelah doa dipanjatkan, kami pun kembali pulang sembari diiringi wangi kembang yang menyengat. Bahkan ketika saya berjalan menjauhi makam, saya membayangkan babeh tersenyum lebar dan berkata, "Ati-ati pulangnya."
Selamat berbahagia disana, beh. Inget, jangan ngerokok lagi ya disana. Hehehehe...

No comments:
Post a Comment