Stasiun sore itu terlihat ramai. Banyak orang berlalu-lalang disana, sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Beberapa penjual makanan dan majalah sedang asik ngobrol, seorang ibu terlihat dengan lelahnya membawa belanjaannya sambil menunggu kereta jurusannya, beberapa orang berpakaian rapi, lengkap dengan kemeja, jas, dan dasi terlihat menenteng tas laptopnya sambil membaca koran. Stasiun sore hari itu, terlihat sama seperti biasanya, dengan kegiatan orang-orang di dalamnya.
Seorang lelaki dengan tergopoh-gopoh, terlihat keluar dari salah satu gerbong kereta yang baru saja berhenti di salah satu peron. Kepalanya berputar ke semua arah. Matanya mencari-cari seseorang yang selama ini sudah di carinya. Seorang gadis yang tanpa sengaja, bertabrakan dengannya beberapa hari lalu di stasiun ini.
Matanya yang sedang mencari-cari, kemudian terpaku pada satu orang gadis yang baru saja keluar dari gerbong kereta. Gerbong kereta yang baru saja dinaikinya. Lelaki itu menatap sang gadis yang terlihat sibuk dengan telepon genggamnya. Rambut sang gadis yang sebahu ikal, terlihat tersapu angin. Dan jantung lelaki itu berdebar kencang. Setelah sekian lama… akhirnya..
Sang gadis itu mendongak setelah memasukan telepon genggamnya ke dalam tasnya. Mata sipitnya membulat menemukan sosok yang dilihatnya di stasiun sore itu. Nafasnya tercekat, degup jantungnya berdebar lebih kencang dibanding biasanya. Dia menelan ludah dengan susah payah.
“Akhirnya…” gumamnya pelan.
Lelaki itu tanpa ragu, melangkahkan kakinya mendekati sang gadis. Senyum bahagia menghiasi wajahnya. Sang gadis pun tersenyum. Dia berjalan mendekati lelaki yang sedang berjalan menuju ke arahnya.
”Mas?” Langkah lelaki itu terhenti. Dengan muka kaget, dia berbalik. Seorang wanita dengan pakaian kerja dan perut membesar terlihat kaget. ”Kok ada disini? Kamu jemput aku?” tanyanya lagi sambil berjalan ke arah lelaki itu sambil tersenyum dan kemudian memeluknya.
Lelaki itu tidak menjawab. Matanya langsung beralih ke sang gadis, yang menatapnya dengan tatapan kaget. Jantung yang berdebar itu, kemudian semakin berdebar kencang. Hanya saja, debarannya terasa berbeda. Tak ada rasa bahagia sama sekali.
”Aku laper nih. Kita makan dulu ya sebelum pulang?” bujuk wanita itu sambil menggandeng suaminya. Lelaki itu tidak menjawab. Kedua matanya kembali menatap sang gadis yang berdiri kaku di sana. Menatap pasangan itu dengan sorot mata yang gelap. Binar matanya yang tadi dilihat lelaki itu, hilang tak berbekas.
Lelaki itu kembali berbalik sambil memeluk istrinya yang sedang hamil tua. Dia merasa bersalah. Dia merasa bersalah, karena untuk sesaat, dia merasa telah mengkhianati wanitanya. Dan dia pun merasa bersalah karena meninggalkan gadis itu dengan kenyataan pahit yang harus diterimanya. Lelaki itu berjalan sambil memeluk istrinya yang terus bercerita. Memeluknya dalam diam.
Sang gadis masih menatap kepergian kedua orang itu dengan tatapan kosong. Seakan yang baru dilihatnya hanyalah mimpi yang tidak nyata. Setelah perjuangan berhari-hari untuk kembali bertemu dengan lelaki itu, inilah akhirnya. Akhir yang tak pernah terlintas di pikirannya sama sekali. Dan kemudian dia berjalan menjauh. Berusaha mengumpulkan kepingan hatinya yang jatuh berserakan dengan tangis yang tak mampu lagi ditahannya.
No comments:
Post a Comment