Oh well, beberapa bulan ini menjadi bulan-bulan yang penuh tekanan dan penuh pertimbangan luar biasa buat gue. Sampai detik ini, gue rasa itu adalah pilihan-pilihan terberat yang harus gue pilih.
Seperti yang udah diketahui, gue ditawarin kerja. Tadinya gue langsung mau aja. Siapa sih yang nggak mau di tawarin kerja hari gini? Jadi ya, tanpa pikir panjang, gue pun langsung bilang "ya, saya mau"
Tapi seiring waktu berjalan, perlahan-lahan jadi banyak hal yang gue ketahui. Banyak masalah yang muncul berdatangan yang ga mungkin gue ceritain disini. Intinya, gue depresi dengan kerjaan gue saat itu. Walaupun status gue hanyalah seorang anak magang. Pressure yang gue rasakan bukanlah seperti anak magang kebanyakan. Gue udah ngerasain pressure orang kerja sebenarnya even gue ga digaji. Ahahahaha...
Dan akhirnya sangking depresinya gue, gue mutusin untuk mundur sebelum terlambat. Gue marah, gue kesel, gue sedih, gue depresi. Dan menurut gue, itu adalah perasaan yang cukup membuat gue muak kerja disana. Dan ya, akhirnya saat itu gue mutusin ga nerusin. Dan gue pun ngomong sama bos-bos gue.
Gue pikir mereka akan melepaskan gue dengan mudah. Ternyata, gue itu dibutuhin banget disana. Dan mereka sebisa mungkin ga mau melepaskan gue. Ah, gue semakin berat melangkah. Tapi gue udah muak. Dan ya, gue tetep ingin keluar dari situ. Keinginan gue kuat. Gue nggak mau diganggu gugat lagi. I'm out. Titik.
Sampai akhirnya, gue cerita panjang lebar. Unek-unek yang gue simpen sendiri selama ini, gue keluarin ke bos gue. Gue ceritain semua yang menjadi ganjalan gue. Dan yah, mereka nanggepin dengan serius pula. Dan mereka bisa nenangin kekhawatiran gue yang berlebihan.
Dari situ, gue mulai kembali goyah. Gue ambil atau nggak? Ini kesempatan yang jarang terjadi. Tapi batin gue tersiksa disana. Gue mau ambil kesempatan bagus, atau meninggalkan kesempatan itu dan mengejar mimpi gue? Gue kembali bimbang. 100 persen blur. Gue nggak tau sama sekali apa yang harus gue ambil. Dan gue pun nanya kanan kiri. Semua kenalan gue, semua sahabat gue, keluarga gue, semua gue tanyain. Pada akhirnya, jawaban mereka selalu sama "cuman kamu yang bisa nentuin. itu hidup kamu"
ah, gue amat sangat ga puas. Walaupun emang bener, tapi gue sama sekali nggak tau apa yang harus gue putuskan.
Sampai akhirnya, hari ini pun datang. Seminggu sebelum magang gue akhirnya selesai. Detik-detik terakhir keputusan yang harus gue ambil. Sampai tadi siang pun, sebenarnya gue masih nggak tau apa yang harus gue lakukan.
Ah, gue udah nangis berkali2 sama Allah. Gue minta tanda dari-Nya agar gue nggak salah ambil keputusan. Tapi gue pun masih blur sampe siang tadi.
Tapi kemudian, gue ngambil keputusan. Gue akan tetep nerusin ini.
Orang yang nggak tau kerjaan gue kayak gimana, mungkin akan berkata "ya ambil aja tu kerjaan. Enak lagi. Di gaji." Sedangkan orang yang tau kerjaan gue kayak gimana, pasti bakalan bilang "What the hell were you thingking met??" Apa karena gaji gue ngambil ini? Ahahahahaha... NGGAK!
Ah, sampai sekarang pun, gue nggak tau apakah keputusan yang gue ambil ini tepat atau nggak. Banyak hal yang bikin gue akhirnya ngambil kerjaan ini. Beban moral adalah salah satunya. Walaupun memang gue nggak teken kontrak, gue ngerasa ga enak tiba-tiba meninggalkan pekerjaan tanpa ada pengganti gue. Tapi bukan hanya itu alasan gue.
Gue pengen nguji diri gue sendiri. Sesanggup apa gue menghadapi tekanan-tekanan itu? Gue ini sebenernya tipe orang yang nggak suka ambil pusing dan lebih suka sama alur yang datar-datar aja. Tapi tampaknya, ada satu bagian diri gue yang suka sama tantangan. Dan saat ini, bagian diri gue yang itu pengen tau seberapa kuat gue menahan tekanan ini.
Gue pun sebenarnya hanya ingin mencoba, seberapa berat sih pekerjaan ini nantinya? Apa bedanya sama ketika gue magang dulu? Gue pun nggak menargetkan bahwa selama beberapa tahun nanti, gue akan bertahan disana. Nggak. Gue bakalan depresi kalo sampe menargetkan sebegitu besarnya. Saat ini, target gue ke depan hanyalah "apa gue bisa bertahan sampe bulan depan?"
Dengan ngambil kesempatan ini pula, sebenarnya gue ingin belajar untuk lebih ikhlas. Lebih ikhlas buat ngerjain semua tugas-tugas tetek bengek itu, lebih ikhlas nerima kalo gue dimarahin terus menerus, lebih ikhlas dalam menjalani semua.
Saat ini, jujur, gue nggak terlalu memusingkan masalah gaji yang gue terima nantinya. Karena pada saat ini, bukan gaji yang jadi prioritas utama gue *walaupun itu puenting buangeett. Ah, gue cinta uang* saat ini, gue ingin pengalaman. Toh gue pun belum lulus kuliah, belum dapet ijazah.
Kerjaan ini pun akan gue lakukan sebisa gue. Kalo gue udah nggak kuat, gue bakalan keluar. Toh rejeki itu Allah yang ngatur. ya toh? Cuman pada saat ini, gue pengen nyobain kesempatan yang dikasih ke gue. Gue pengen belajar dulu lah. Ehehehe... *gaya ah lo met*
Well anyway, gue nggak tau keputusan yang gue ambil ini bener atau salah. Gue nggak tau keputusan ini adalah keputusan yang terbaik atau bukan. Tapi mudah-mudahan, gue bisa konsekuen dan bertanggung jawab dengan keputusan yang gue ambil ini.
Ah, dunia... Dimana kenyataan tidak seindah yang gue harapkan dulu. Dan ini adalah waktu dimana gue harus bertanggung jawab dengan semua keputusan yang gue ambil. Baik atau pun buruknya. Jangan terus mengeluh. Ga ngebantu sama sekali :D
So yeah, this is the world we livin'. Welcome to the world, Met!!
No comments:
Post a Comment