Gue mencintai suasana maghrib menjelang malam hari. Dimana langit mulai gelap, dimana sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib ataupun isya, dimana lampu mulai dinyalakan dan semua menjadi terang, dimana bintang dan bulan mulai menampakkan dirinya. Gue mencintai suasana malam hari.
Kadang waktu gue harus pulang agak malam, entah itu karna kuliah atau karna kongkow-kongkow dulu *sebagai anak muda kita harus banyak berkongkow-kongkow ria*, sambil jalan, entah jalan menuju jembatan busway ato jalan dari kampus menuju stasiun sudirman, gue sering menatap ke atas. Menatap langit malam yang kadang terang karena bintang-bintang dan bulan, atau langit malam yang karena mendung, jadi hanya terlihat gelap. Mata gue lalu beralih ke gedung-gedung yang ada disekitar. Lampu-lampu menyala yang membuat gedung-gedung itu terlihat indah. Kadang, gue bisa terus terdiam menatap gedung-gedung tinggi itu sambil sesekali menatap ke langit. Tanpa berbicara sama sekali, tanpa tersadar sama sekali selama beberapa menit. Sampai akhirnya temen gue nyadarin gue.
"Kenapa sih lo?"
"Hah? nggak. Nggak kenapa-kenapa. Lampunya bagus, langitnya bagus."
"Ya elah. Lebay!" dan gue hanya tertawa, kemudian kembali menatap gedung dan langit. Mungkin memang lebay. Tapi gue bener-bener menikmati itu semua.
Dan karena itu, hal yang paling gue suka pas pulang malem adalah ketika gue jalan sendirian tanpa ada teman. Karena gue bisa autis sendiri. Menikmati suasana malam hari yang sunyi, damai, dan terlihat begitu luar biasa.
Dan ketika sampai stasiun lalu duduk di peron sambil nunggu kereta, mata gue masih tersihir ke langit, dan gedung-gedung tinggi yang terlihat dari balik stasiun dengan lampu-lampunya yang terang. Sesekali, gue menatap sekeliling. Ada beberapa orang yang ke gep lagi mandangin gue dengan tatapan aneh. Mungkin dia pikir gue ini pendatang yang masih baru kenal jakarta atau mungkin dia takut gue kesurupan atau gimana. Dia langsung malingin muka. Gue menunduk dan nahan senyum. Tapi kemudian, keautisan gue kembali terjadi. Gue kembali memandangi gedung-gedung itu. Sampai akhirnya kereta tiba dan menghalangi pandangan gue ke arah gedung-gedung dan langit, gue akhirnya masuk kereta dan mengakhiri keautisan gue terhadap gedung-gedung dan langit di hari itu. Dan besoknya, ada sedikit harapan gue akan kembali bisa berautis ria dengan kedamaian yang gue temuin dalam suasana malam hari dari Jakarta menuju rumah tercinta.
5 comments:
@Lola : makasih udah mampir dan ngasih komen. Salam kenaaaal ^_^
sebelumnya, salam kenal ya mbak met
tapi emang kok, kita suka kagum sendiri sama langit dan berjuta isinya.terlebih lagi kalo emang moodnya lagi bagus
(sst..hny jg suka autis klo ngeliatin langit dan bintang, hehehe)
Henny : makasih ya udah mampir kesini. Salam kenal juga... Haha... Iyah, autis pas malem2 tuh emang paling mantep. Poool! Haha...
sumpe gw jadi kebayang muke lo yang lagi bengong liatin jalan ato gedung2...*lil bit autis*
kalimat andalan setelah bengong lo itu selalu muncul. hah? kenapa-kenapa?
Lani : huahahaha.. you know me very well Lan. Tau aja kalo gw abis bengong, langsung sadar trus ngomong "Ha? Kenapa-kenapa?" gyahahaha... *ato jangan2 ternyata gw lebih sering bengong ketimbang sadar makanya lo sampe apal?* Ahahaha
Post a Comment