Hujan. Tak pernah sekali pun aku menyukainya. Langit gelap, angin berhembus kencang, dan udara menjadi dingin. Tak ada matahari yang mengintip dari balik awan. Tak ada burung-burung yang beterbangan dan menghibur dunia dengan kicauannya.
Hujan. Selalu di kaitkan dengan segala sesuatu yang berkabung. Sesuatu yang sedih. Sepertinya, tak ada kebahagiaan sama sekali. Hanya guyuran air yang turun dari langit.
Hujan. Petir-petir menyambar. Silau kilatnya membuat kita memejamkan mata. Suaranya menggelegar memecah keheningan. Semua orang menutup telinga dengan kedua tangan mereka. Begitu dahsyatnya suara petir.
Hari ini, aku sedang berada di suatu kafe. Bergumam sendirian sambil menatap secangkir kopi panas yang ada di depanku. Lebih tepatnya, menggerutu karena kesal. Hujan yang sangat deras membuat telingaku terasa bising. Aku benci hujan!
“Ada yang salah? Mukamu tak menunjukan keceriaan sama sekali.” Tiba-tiba, seorang lelaki seumuranku menghampiriku. Dengan secangkir cafĂ© latte di tangannya dan dengan tanpa permisi, dia duduk di depanku.
Dengan muka yang kesal dan tak menunjukan tanda bersahabat, aku tetap menunduk dan memandang asap kopiku yang mengepul.
“Kalau aku boleh tahu, kamu punya masalah?”
“Kuharap, kamu pergi dari sini.” kataku ketus. Tak menghiraukan bagaimana reaksi atau mimik mukanya. Terdengar, lelaki itu tertawa kecil.
“Bagaimana aku tidak menghiraukanmu? Semua orang disini menikmati suasana hujan dan kopinya. Sedangkan kamu, tak ada secuil pun rasa menikmati.” Aku langsung menatapnya tajam.
“Aku benci hujan! Puas? Sekarang kumohon, kamu pergi dari sini! Jangan gangu aku!” nada ketusku sekarang bertambah satu oktaf. Lelaki itu tertawa lagi seakan tidak menghiraukan responku yang dari tadi ketus terhadapnya. Dia lalu mengambil cangkirnya.
“Ini hujan yang sangat indah. Beberapa bulan ini di Jakarta belum pernah diguyur hujan sama sekali kan?” aku masih diam. Tingkat kemarahan dan kekesalanku naik setahap demi setahap.
“Kopi ini benar-benar menjadi teman yang sangat menyenangkan di waktu hujan. Membuat suasana yang dingin, menjadi hangat. Kalau boleh tau, apa sih yang membuatmu kesal? Bukan cuma karena hujan kan?” Dengan kesal, aku mengeluarkan majalah.
“Dengar ya, aku tak perlu filosofimu tentang fungsi kopi waktu hujan atau apa! Yang aku ingini sekarang, hujan berhenti jadi aku bisa pulang dan kamu pergi dari hadapanku!” Lelaki itu malah tersenyum.
“Bagaimana aku bisa membiarkan salah satu pelangganku pergi dari sini sambil marah-marah seperti kamu? Aku tak mau orang-orang mengira kafe ini mengerikan.” Aku menatap lelaki itu masih dengan tatapan dingin.
“Jadi, kamu pemilik kafe ini?” Dia mengangguk. Masih tersenyum
“Berarti kamu tahu kalau mengganggu pelanggan adalah suatu kesalahan yang fatal?”
“Oya? Kenapa?” mukanya terlihat penasaran.
“Kamu menganggu kenyamanan salah satu pelanggan. Dan kalau itu terjadi, itu adalah salah satu faktor penting yang bisa memperburuk nama kafe.” Kataku dengan agak tegas sambil membuka majalah.
“Wah, terima kasih atas pemberitahuannya.” Aku meliriknya dari balik majalah. Dia menatap kopinya dan menghirup aromanya. Wajahnya terlihat senang dan puas. Lalu, dia meminum kopinya sedikit demi sedikit sambil menatap luar. Sepertinya, dia menikmati. Lalu, seakan tahu aku memandangnya, dia menatapku dan tersenyum lagi. Aku langsung pura-pura membaca majalahku.
“Kalau boleh tahu, kenapa kamu sampai bisa tidak menyukai hujan? Sekarang, aku bertanya sebagai seorang teman. Bukan seseorang yang punya kafe.” Aku meliriknya sedikit. Dia menyeruput kopinya lagi.
“Basah.”
“Pardon me?”
“Hujan membuat semuanya basah! Aku tidak suka basah! Sangat tidak suka! Dan juga, hujan membuat jalanan becek. Jalanan jadi kotor.” Kataku masih sambil menatap majalahku dan menyeruput kopiku sedikit demi sedikit. Hangatnya kopi, menjalari di seluruh tubuhku.
“Ada lagi?”
“Suara petir yang menggelegar. Aku benci itu. Seakan-akan, Tuhan murka.” Lelaki itu tertawa.
“Kalau menurutku, saat itu Tuhan tidak murka. Hanya menunjukkan kekuasaan-Nya saja. Agar manusia mengerti dan menyadari kekuasaan-Nya yang sesungguhnya.” Aku menghirup kopiku. Terasa hangat dan enak.
“Cuma itu saja?” tanyanya lagi.
“Masih banyak lagi. Tapi moodku tak membiarkanku memberi tahu semuanya padamu.” Aku meletakkan cangkirku. Terlihat senyum sekilas dari lelaki itu.
“Kamu pernah berpikir dari sudut pandang yang berbeda?” dengan tatapan bingung, aku menatapnya lekat-lekat.
“Maksudmu?”
“Walaupun basah, tapi hujan membasahi semua lekuk bumi. Dari atas, sampai bawah. Semua rata terkena air. Dan walaupun jalanan jadi kotor, tapi jalanan menjadi basah dan tidak berdebu. Kalau tidak ada hujan, jalanan kan pasti berdebu seperti di film-film koboy.”
“Hujan juga merupakan sesuatu yang damai. Saat hujan, aku bisa merenungkan segalanya. Hujan merupakan waktu yang sangat berarti bagiku. Semuanya terjadi secara otomatis. Dan setiap aku merenungkan sesuatu ketika hujan, aku pasti mendapat jawabannya.” Aku tersenyum sekilas. Maaf saja. Pengertian itu semua tidak merubah cara pandangku terhadap hujan.
“Dari raut mukamu, aku tau kau belum puas dengan filosofi tentang hujan menurut versiku.” Aku langsung menatapnya kaget lalu tersenyum. Aku meminum lagi kopiku.
“Akhirnya! Aku bisa melihatmu tersenyum selama hujan!” lelaki itu menampakkan wajah terkejut sekaligus bahagia. Bisa kurasakan mukaku memerah.
“Hei, aku ini manusia yang juga bisa tersenyum.”
“Kukira, kau tidak akan pernah tersenyum waktu hujan.” Aku tersenyum lagi. Suasana hatiku mulai berubah. Tapi hanya sedikit.
“Aku masih tidak bisa berpikir. Bagaimana kau bisa membenci hujan sampai sebegitunya?”
“Aku memang bukan tipe wanita yang menyukai hujan seperti di film-film. Senang melihat alam yang basah terkena hujan atau apapun. Merasa melihat hujan adalah sesuatu yang romantis. Aku bukan tipe orang seperti itu. Aku hanya benci dengan kekotoran yang ditimbulkan setelah hujan turun.”
“Kamu memang benar-benar harus melihat dari segi pandang yang berbeda.” Tiba-tiba, lelaki itu berdiri.
“Akan kuberi tahu satu lagi tentang keajaiban hujan padamu.” Aku menatapnya bingung.
“Ayolah. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat di kafe ini. Aku tidak akan berbuat macam-macam.” Aku menatapnya dalam-dalam. Pancaran matanya tidak mengatakan kebohongan. Dengan ragu, aku mengangguk.
Lalu, dia membawaku ke sudut kafe. Tepatnya, belakang kafe. Disana, ada sebuah balkon yang dirancang. Mungkin memang tempat untuk menenangkan diri.
“Kau lihat? Walaupun hujan, disini tetap indah kan?” aku takjub melihat pemandangan yang ada di hadapanku. Suasananya seperti di Puncak. Atau lebih tepatnya, pedesaan.
Rerumputan dan pepohonan hijau menghiasi tempat itu. Hujan yang turun, mulai agak tidak deras seperti tadi lagi. Lama kelamaan, hujan menipis. Hanya tinggal rintik-rintiknya. Suasana yang tadinya dingin, berubah menjadi sejuk. Walaupun masih agak dingin.
“Kau lihat tanaman itu?” dia menunjuk ke sebuah tanaman yang ada di dekatku.
“Kalau kau perhatikan, hujan membuat tanaman itu basah dengan luar biasa. Maksudku, lihat saja. Tanaman itu terlihat lebih segar dari semula.”
“Menurutku sama saja dengan tanaman yang habis disiram.” Dia menggeleng.
“Berbeda. Semua berbeda. Kalau kau seksama, kau akan melihat perbedaan antara tanaman yang disiram dengan air biasa dan tanaman yang disiram air hujan. Juga, bau tanah basah tercium.” Aku menajamkan indera penciumanku. Samar-samar, aku mencium bau yang aneh. Aneh, tapi enak. Sebelumnya, aku tak pernah mencium bau seperti ini.
“Enak. Bau yang enak.” Kataku sambil tersenyum ke arahnya. Mukanya memancarkan kepuasan.
“Benar kan? Inilah yang selama ini di timbulkan saat hujan sudah berhenti. Tanah basah, tanaman yang lebih segar, dan dunia pun seakan-akan cerah kembali jika hujan sudah berhenti. Karena setiap hujan telah berhenti, semuanya menjadi lebih segar daripada sebelumnya.” Aku mengangguk. Lelaki itu tersenyum puas.
“Ayo kita kembali ke dalam.” Aku mengangguk dan tersenyum. Dia berjalan di depanku. Aku mengikutinya dari belakang. Sampai akhirnya, kami sampai di dalam kafenya. Suasananya masih seperti tadi. Cukup ramai oleh pembeli.
Aku melihat orang-orang yang duduk di sebelah jendela. Semuanya memandang keluar penuh dengan kekaguman menatap alam yang baru saja terkena hujan. Aku bergumam sendiri.
“Kali ini, aku yang traktir kopimu. Tak usah membayar. Anggap saja permintaan maaf karena aku sudah menganggu ketenanganmu tadi. Maksudku, ketenangan salah satu pelangganku.” Aku tersenyum.
“Terima kasih sudah memberi tahuku tentang kejadian dibalik hujan. Mungkin, pandanganku sedikit berubah tentang hujan.” Tetapi, muka lelaki itu menyiratkan pandangan bingung.
“Jadi, pendanganmu belum sepenuhnya berubah?” aku menggeleng sambil tersenyum kecil.
“Maaf.” Lelaki itu terlihat berpikir. Aku melihat jamku. Sudah agak sore. Aku harus buru-buru pulang.
“Sekali lagi, terima kasih. Aku benar-benar menghargainya.” Aku tersenyum dan berbalik.
“Tunggu.” Aku langsung berbalik lagi. Dengan terburu-buru, dia mengeluarkan dompetnya.
“Ini kartu namaku.” Dia menyerahkan sebuah kartu nama yang backgroundnya hujan. Tertera nama Levi disana.
“Ternyata, kau lelaki hujan ya?” Levi tertawa.
“Aku belum puas. Kau masih belum merubah pikiranmu tentang hujan sepenuhnya.” Mukanya langsung merengut seperti anak kecil. Aku tertawa.
“Apa permintaan maafku belum cukup?” Dia menggeleng.
“Aku akan terus berusaha membuatmu berubah pikiran tentang hujan! Well, karena aku sudah memberikan kartu namaku, kau juga harus memberikan kartu namamu, kan?” Aku tertawa.
“Oke, oke.” Aku mengeluarkan dompetku dan mengeluarkan kartu namaku. Dia mengambilnya dan membacanya.
“Nama yanga bagus. Kirana. Tapi, kenapa latarnya matahari?”
“Karena aku suka matahari. Hangat.” Jawabku sambil tersenyum.
“Oya? Aku benci. Bukan benci sih. Cuma agak tidak suka. Daripada hangat, aku lebih suka mengatakan panas. Matahari sangat panas.” Katanya dengan mimik muka lucu. Aku tertawa lagi.
“Tapi, kalau tidak ada matahari kegiatan tidak akan bisa dilakukan. Misalnya menjemur pakaian, berjemur di pantai, dan sebagainya.”
“Tapi, walau bagaimana pun, matahari sangat panas! Hanya membuat orang berkeringat. Bahkan bisa mengakibatkan kanker kulit.” Aku mencoba beradu argumentasi dengannya. Tapi, aku mengurungkan niatku. Aku tertawa kecil.
“Mungkin karena ini kita berbeda pendapat.”
“Kalau begitu, aku akan memberikan pendapat-pendapat dan semua kenyataan tentang hujan. Aku akan membuatmu menyukai hujan.”
“Aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku juga akan memberikan pendapat-pendapat dan kenyataan tentang matahari dan akan membuatmu suka pada matahari.” Levi tertawa.
“Dari tadi kita berdebat, tapi belum saling mengenal. Aku Levi.” Dia menjulurkan tangannya.
“Kirana.” Kataku sambil meraih tangannya.
“Nanti kalau hujan, kau harus datang kesini. Akan ku ceramahi sampai kupingmu panas!”
“Kalau begitu aku tidak mau datang.”
“Kartu AS-mu ada di tanganku.” Katanya sambil tersenyum jahil dan memegang kartu namaku.
“Kalau kau tidak datang, aku akan meneleponmu. Dan kalau kau tidak mau menjawab teleponku atau kau tetap tidak mau datang, aku akan langsung ke rumahmu.” Aku tertawa.
“Kalau begitu, sampai jumpa.” Aku pergi melangkah ke mobilku. Aku langsung masuk ke mobilku dan menyalakan mobil. Tak lama, aku memasukan gigi dan mobil mulai berjalan. Levi melambaikan tangannya.
Padahal, tadi aku hanya menghindari hujan. Makanya aku masuk ke kafe itu. Aku tersenyum sendiri. Mungkin benar. Mungkin hujan tak seburuk yang kukira.
Seiring berjalannya waktu, apakah nantinya aku akan menyukai hujan sepenuhnya? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Tapi yang pasti, hujan kali ini membawa kebahagiaan padaku. Aku tak sabar menanti hujan selanjutnya.
*cuma cerpen iseng*
6 comments:
Cerpen yg dulu ya met?!
Love it love it... Coba lw qrim ke Go Girl aja met... Syang klo cuma ditaro di blog, tar klo ada yg ngopi paste. Ntu org yg enak... :p
onyet, bagus bangeeeettt, kamuh berbakat bikin cerpeeennn!
aihh gue sukaaa....
taruhan, pasti icha termehek mehek baca inih hohohoh
ha? nyahahaha....
cuma cerpen iseng mpo. kekekeke....
icha ga termehek2 tuh. malah merasa tersindir karena dia pecinta ujan. *lirik icha*
Hahahahaha
Mellowmeaw : jyahahaha... maleus ah. ha? kopi paste? kayak bginian dowang? nyahahaha... kagak ada yang napsu bu. muhehehe...
aku langsung menatapnya tajam...wuidih katanya...
sumpah gw terhanyut bacanya...rancak bana lah cerpen iko...
Lani : jyahahaha... lebay T_T
Post a Comment