Saturday, January 2, 2016

Have you?

Have you ever feel so lonely?

Have you ever feel so lonely? You want to meet your friends even for just about five minutes but they can't meet you because they're busy with their life so you feel like you no longer important?

Have you ever feel so lonely? So lonely till what you wanna do is just work and work and work because it makes you ignore that feeling?

Have you ever feel so lonely till it hurts?

Have you ever feel so lonely, until it the thought of "I understand why people who feels lonely and alone, commit suicide" just pop in your head?

Have you?


Have. You?

Monday, August 24, 2015

“Bagaimana kau ingin pemakamanmu nanti diadakan?”


                                                                                   Gambar diambil dari sini


Kemarin, dengan berat hati saya menuju daerah Tangerang untuk menghadiri pemakaman salah satu rekan kerja saya. Rekan kerja yang memang usianya sudah sangat jauh diatas saya, hampir 3 kali lipat usia saya.

Selain perjalanan yang lumayan jauh, cuaca hari itu terasa sangat terik. Sangat terik sampai panasnya menusuk kulit.

Saya melihat orang-orang sekitar. Semua memandangi liang lahat dengan tatapan kosong. Terdengar beberapa orang yang saling berbicara satu sama lain. Membicarakan tentang kebaikan dan semua yang telah beliau lakukan semasa hidup. Beliau memang orang baik dan periang. Tak pernah seharipun beliau tidak membuat orang lain tertawa. Celetukannya yang khas dengan logat betawi kental, masih terngiang-ngiang di kepala saya. Ah, saya pasti rindu dengan celetukan-celetukannya itu.

Kemudian pikiran saya terlempar pada satu buku yang belum lama ini saya baca. Perempuan yang Melukis Wajah. Di buku kumpulan cerpen tersebut, salah satunya menyebutkan satu cerita dimana sang perempuan dan sang lelaki pertama kali bertemu lalu saling melontarkan pertanyaan. Salah satunya, bagaimana kau ingin pemakamanmu nanti dilaksanakan.

Saya membayangkan cuaca saat itu cerah dengan langit biru tanpa awan satu pun. Orang-orang yang saya sayangi datang, mengantarkan saya pada peristirahatan terakhir. Diri saya dibaringkan di sebuah padang rumput luas, dengan pohon trembesi besar yang memayungi. Tak usah diberi keramik. Saya hanya ingin gundukan tanah dengan rumput hijau tumbuh rapi di sekitar tempat peristirahatan terakhir saya.

Kemudian orang-orang berdatangan sembari membawa benda-benda kesayangan mereka. Jika kalian ingin sekedar membaca buku dan menikmati hembusan angin, datanglah. Jika kalian ingin bernyanyi-nyanyi dan bersenang-senang, marilah. Jika kalian ingin sekedar berbicara dan bercerita mengenai kehidupan kalian, silakan. Bahkan jika kalian ingin duduk diam saja dan sekedar mencari tempat menyendiri sembari berkontemplasi, kemarilah. Lakukan kegiatan apa saja yang kalian mau. Bergembiralah. Nikmatilah. Karena tempat saya terbaring terakhir bukan tempat menakutkan.

Tepukan pelan di pundak saya, membawa saya kembali ke alam nyata. Saya masih berada di pemakaman rekan kantor saya. Di depan sana, di depan pusara jenazah, istri dan anaknya yang masih sekolah SD yang awalnya terlihat kuat, akhirnya menangis kencang. Satu anaknya yang paling kecil, masih melihat sekeliling dengan tidak mengerti. Mungkin dia bingung kenapa ayahnya yang sedang terlelap, ditangisi oleh semua orang.

Setelah doa dipanjatkan, kami pun kembali pulang sembari diiringi wangi kembang yang menyengat. Bahkan ketika saya berjalan menjauhi makam, saya membayangkan babeh tersenyum lebar dan berkata, "Ati-ati pulangnya."


Selamat berbahagia disana, beh. Inget, jangan ngerokok lagi ya disana. Hehehehe... 

Saturday, January 17, 2015

Melati Suci

Beberapa hari ini, saya tidak bisa melepaskan pendengaran saya dari lagu-lagu lama, khususnya Chrisye. Entah kenapa, rasanya kedua telinga ini sedang ingin dimanjakan oleh suara almarhum. Mungkin mulai bosan mendengar orang korea dan orang bule bergalau-galauan tak jelas.
Saya sebagai manusia yang dikategorikan kawula muda apalah, memang menyukai lagu-lagu lama. Tapi biasanya lagu yang saya adalah lagu-lagu penyanyi luar. Sekarang saya malah menyesal baru mulai mengeksplor lagu-lagu lama dari negeri sendiri. Serius!

Awalnya saya hanya fokus mendengar musik dan nada, lalu lama kelamaan saya mendengarkan liriknya dengan lebih seksama. Betapa lagu-lagu di tahun 70, 80 sampai 90an memiliki kata-kata indah dan makna yang kuat. Sangat berbeda dengan mayoritas lagu masa kini yang kadang hanya terdiri dari beberapa kalimat yang diulang terus menerus selama 2-3 menit. Kadang sampai jengkel sendiri dan berpikir, "Pada niat nggak sih bikin lagu?"

Kembali lagi ke Chrisye, semakin saya mendengar dengan lebih seksama, semakin saya tertarik dengan lirik-lirik yang dinyanyikan. Dan sebagian besar lagu yang membuat saya mengagumi liriknya, rata-rata ditulis oleh Guruh Soekarno Putra. Mulai dari Sendiri, Kala Cinta Menggoda, Lagu Putih dan lainnya.

Saya pun semakin bersemangat untuk googling. Semua saya cari, mulai dari lagu Guruh yang dinyanyikan Chrisye, Swara Mahardika, Vina Panduwinata sampai akhirnya saya mendengarkan Melati Suci.
Saya bahkan baru tahu kalau yang menyanyikan lagu ini Tika Bisono. Iya, Tika Bisono yang itu. Saya yang masih bau kencur ini cuma tahu beliau psikolog yang ada di tv. Baru tahu kalau ternyata beliau menyanyi juga dan suaranya memang enak didengar.

Ini memang bukan yang pertama kali saya mendengarnya. Dulu waktu kecil, saya memang pernah mendengar lagu ini tapi tidak terlalu memperhatikan seperti sekarang. Dan begitu saya mendengarnya lagi, rasanya bulu kuduk berdiri. Suara Tika Bisono memang tidak ada vibra kuat dan terdengar lebih sederhana jika dibandingkan penyanyi lain, tapi dari kesederhanaannya itu, lagu ini malah jadi luar biasa menurut saya. Lagu ini sudah cukup indah tanpa harus dinyanyikan dengan teknik menyanyi yang rumit. Cantik tanpa harus terdengar berlebihan.

Ah, pokoknya silakan nikmati sendiri