Monday, November 4, 2013

Twinkle-Twinkle Little Star




Suara kicauan burung dan gemericik air hujan yang turun, membuat Persia mengulat. Samar-samar, dia bisa mendengar suara yang sudah dikenalnya selama bertahun-tahun sedang menyanyikan lagu Twinkle-Twinkle Little Star. Perlahan, dia pun membuka kedua matanya. Lelaki dengan kaos putih dan celana jeans biru terlihat sedang bernyanyi pelan sembari melihat ke langit-langit kamar. Cahaya sinar matahari yang masuk malu-malu melalui jendela yang tirainya sedikit tersingkap, semakin memberikan ketegasan pada rahang kokohnya. Persia menyingkirkan rambut panjang dari wajahnya supaya dia bisa melihat lelaki di sampingnya dengan lebih jelas.

“Pagi, Putri Tidur." ucap Gilang sambil mengusap kepala Persia. Persia tersenyum. Ini salah satu hal yang paling disukainya sejak dulu. Tangan Gilang yang besar seperti melingkupinya dengan kehangatan walaupun yang dilakukannya hanya menyentuh puncak kepala Persia. Persia sedikit banyak jadi mengerti kenapa jenis makhluk hidup yang memiliki nama sama dengannya itu terlihat sangat nyaman ketika ada orang yang menyentuh kepala mereka. Rasanya menyenangkan sekaligus menenangkan. 


Persia mendadak merasakan tangan Gilang yang berhenti mengelus kepalanya. Lelaki itu turun dari tempat tidur dan berjalan menuju ke arah balkon. 


“Sini deh. Lihat, pemandangannya bagus.” 


Dengan dahi berkerut, Persia memandangi lelaki yang terlihat girang di balkon kamar. Gilang sama sekali tidak terlihat sudah 30 tahun. Kelakuannya yang seperti ini kadang membuatnya terlihat seperti masih berumur 5 tahun. Seakan kegirangan lelaki itu menular, Persia pun buru-buru turun dari tempat tidur untuk mengikutinya. Dan benarlah. Pemandangan dari balkon villa tersebut memang luar biasa. Sawah yang menghijau terbentang luas di hadapannya, beserta dengan pohon-pohon hijau yang tinggi dan rimbun. Hanya ada suara kicauan beberapa burung yang beterbangan melewati mereka. Tidak ada suara kendaraan bermotor yang memekakkan telinga atau pula asap knalpot yang memuakkan. Rasanya begitu tenang, begitu damai. 


“Happy anniversary.” bisik Gilang di telinganya, "I love you." 


Kedua tangannya yang besar, memeluk Persia erat dari belakang. Persia menarik nafas panjang dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Gilang. Suara Gilang terdengar indah di telinganya. Resonansinya seakan ikut menggetarkan jiwanya. Suara favoritnya di seluruh dunia. Bahkan suara Morgan Freeman pun kalah telak menurutnya. 


 “Love you too.” jawab Persia ikut mengiyakan. Selama beberapa saat, mereka hanya saling berpelukan sembari melihat pemandangan indah yang ada di depan. Pemandangan dari kota yang dianggap Persia sebagai kota penyembuh. Sangat jauh berbeda dengan suasana yang ditemukannya selama setahun belakangan di Jakarta. Kota yang selama ini dianggap Persia sebagai kota jahanam. Kota yang telah mengambil seluruh semangatnya, seluruh mimpinya, seluruh hidupnya. Dan disini, Persia menemukan penyembuh untuk jiwanya. Kota ini, beserta lelaki yang sedang mendekapnya saat ini. 


"Jadi hari ini kita mau kemana?" tanya Gilang padanya. 


"Aku nggak mau kemana-mana. Kita disini aja ya." jawab Persia sambil melepaskan pelukan Gilang. Dengan langkah cepat, dia menuju ke arah kulkas yang ada di dapur.


"Kemarin aku udah belanja banyak. Aku mau masak enak buat kita. Pokoknya hari ini kita bakalan makan banyak!” serunya sambil tersenyum lebar begitu membuka kulkas. Dan benarlah. Berbagai macam sayuran, protein dan sebagainya sudah berada disana. Otak Persia langsung berputar cepat memikirkan apa saja yang akan dimasaknya dan tubuhnya dengan sigap langsung mengeluarkan semua bahan-bahan yang akan dimasaknya. Begitulah dia. Perempuan itu selalu saja asik sendiri setiap kali berhadapan dengan makanan.


“Aku jadi bagian penggembira aja ya kalau gitu.” ujar Gilang sambil duduk di belakang meja, mencoba menjauh dari teritori dapur. Sedetik kemudian, Twinkle-Twinkle Little Star kembali terdengar dan sontak membuat Persia tertawa geli. Tetapi lelaki yang duduk di belakangnya tak peduli. Dia terus bernyanyi walaupun suara bass rendahnya sama sekali tidak cocok menyanyikan lagu itu. Dia tetap bernyanyi walaupun nadanya sesekali terdengar sumbang. 


Sembari ikut bersenandung mengikuti lagu Twinkle-Twinkle Little Star versi kacau di belakangnya, Persia dalam hati sangat bersyukur dengan semua yang terjadi di hari ini. Dia semakin yakin bahwa memang tak ada lelaki lain yang bisa membuatnya sebahagia ini. Tak ada hal lain lagi yang diinginkan Persia saat ini. Saat ini, menit ini, detik ini, hidupnya sudah kembali lengkap. 


Dua hal yang sangat disukai Persia di dunia ini, memasak dan berbicara. Dan saat ini dia melakukan dua kegiatan favoritnya itu secara bersamaan. Persia bercerita kepada lelaki yang dipunggunginya tentang semua hal yang terjadi padanya. Hal yang membuatnya bahagia, hal yang membuatnya resah, dan hal yang membuatnya sedih. Sedangkan lelaki di yang duduk di meja belakang hanya mendengarkan dengan seksama. Gilang sangat mengenal dan mengetahui bagaimana Persia. Persia tidak butuh diberi masukan. Persia hanya butuh didengarkan. 


Beberapa jam berlalu setelah Persia menyibukkan dirinya di dapur. Dengan bangga, dia melihat ke meja yang ada di hadapannya. Meja yang beberapa jam lalu masih kosong, saat ini terlihat penuh dengan makanan dan minuman. Tahu bacem, ayam goreng, sambal terasi, gudeg, kerupuk udang, mi goreng, dan nasi uduk terlihat memenuhi meja itu. Belum lagi ada es buah yang terlihat sangat segar yang juga berada disana. 


“Hebat kamu bisa masak segini banyak.” ucap Gilang sambil mengelus puncak kepala Persia. Persia sampai tak mampu menyembunyikan cengiran lebarnya. 


"Aku mandi dulu ya kalau gitu. Jangan dicomot dulu tahu bacemnya." ujar Persia mengingatkan sembari mengambil handuknya dan berjalan menuju kamar mandi. Gilang seakan tak mendengar perkataan istrinya barusan. Dengan cuek, dia langsung mengambil makanan kesukaannya itu lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Ini kenapa aku nikah sama kamu." ucapnya dengan mulut penuh, "Tahu bacem bikinan kamu jauh lebih enak dibanding bikinan Mama."


Persia pura-pura merengut walaupun sebenarnya hatinya sedang melambung tinggi. Sudah banyak orang yang memuji kehebatannya dalam memasak, tapi tak ada pujian lain yang lebih membahagiakannya selain pujian yang diberikan Gilang untuknya. 


Setengah jam kemudian, Persia akhirnya selesai merapikan dirinya. Dia sudah memakai dress bunga-bunga yang baru dibelinya. Tubuhnya pun sudah wangi dan wajahnya sudah cantik diberi sedikit make up. Ini mungkin hanya makan siang biasa, tapi Persia tetap selalu ingin terlihat cantik di mata suaminya yang baru dinikahinya satu setengah tahun lalu itu. Tak peduli walaupun Gilang selalu berkata dia tetap terlihat cantik walaupun tidak bermake up dan hanya menggunakan daster.


Persia pun lalu berjalan cepat menuju dapur. Perutnya yang sudah krucukan sedari tadi, membuatnya tak sabar ingin melahap makanan yang dimasaknya. Tapi begitu dia sampai di dapur, dia tak menemukan Gilang dimana-mana.


"Mas?"


Tak ada jawaban.


"Mas? Mas Gilang?"


Tetap tak ada jawaban.


Persia mencari ke seluruh pelosok villa yang sudah ditempatinya sejak seminggu yang lalu tapi tetap dia tidak menemukan Gilang dimana-mana. Gilang pasti lagi-lagi melakukan hal yang selalu dilakukannya sejak 7 tahun lalu, mengerjai Persia. Nanti juga Gilang tiba-tiba akan keluar dari salah satu ruangan dan mengagetkannya. 


Persia yang lelah, akhirnya duduk di meja makan sembari melihat makanan yang menumpuk disana. Nafsu makannya yang sedari tadi menyerangnya, mendadak menghilang begitu saja. Dengan sabar, dia menunggu suaminya itu kembali muncul dengan cengiran jailnya dan kemudian mereka akan sama-sama menyantap berbagai macam makanan yang sudah dimasaknya dengan susah payah.


Setengah jam berlalu...


Satu jam berlalu...


Dua jam berlalu dan Gilang tetap belum muncul juga. Rasa khawatir perlahan mulai merayapi dirinya. Jantungnya berdegup lebih kencang dibanding biasanya. Pikiran buruk tak henti-hentinya berputar di kepalanya.


Tiba-tiba terdengar suara Gilang yang menyanyikan Twinkle-Twinkle Little Star dari arah dalam. Persia langsung berlarian kesana kemari mencari arah suara itu dengan dada berdegup kencang tapi dia tidak juga menemukan sosok lelaki bertubuh tinggi itu. 


Persia lalu melambatkan langkahnya. Matanya terpaku ke arah tempat tidur kesayangannya itu. Langkahnya terhenti begitu melihat handphonenya yang tergeletak di kasur dengan lampu LCD yang menyala. 

Seperti ditarik oleh magnet, perlahan Persia naik ke tempat tidur dan meraih handphone-nya. Terlihat di layar handphone kalau Ibunya meneleponnya, tapi bukan itu yang dilihat Persia. Dia hanya berkonsentrasi mendengarkan suara nyanyian suaminya yang nadanya terdengar kacau. Setahun lalu ketika mereka berbulan madu disini, mereka sepakat untuk mengganti ringtone handphone mereka dengan suara masing-masing yang sedang menyanyikan Twinkle-Twinkle Little Star. 


Rasa dingin yang amat sangat, tiba-tiba merayapi punggung Persia dan tubuhnya mendadak gemetaran tanpa henti. Potongan-potongan gambar kemudian seakan masuk ke dalam pikiran Persia. Dirinya dan Gilang yang sedang berbulan madu di Ubud ketika bulan puasa tahun lalu, kebahagiaan mereka berdua yang baru saja menjadi pasangan suami istri, dan kemudian suara klakson mobil yang meraung-raung serta hentakan kuat yang membuat Persia terguncang hebat. 


Saat itu masih tengah malam, tepat dua jam setelah sahur. Mereka sedang berada di jalan tol dari bandara Soekarno Hatta menuju rumah setelah sepulang dari perjalanan bulan madu. Persia yang setengah tertidur saat itu hanya mengingat suara klakson yang meraung tiba-tiba. Hal berikutnya yang dia rasakan adalah hentakan kencang dan bunyi kaca pecah dimana-mana. Kemudian dia tidak sadarkan diri, entah sampai berapa lama. Dan begitu dia sadar, statusnya sudah berubah. Dia tidak lagi menjadi seorang istri. 


Ingatan pun mulai menyeruak masuk membanjiri kepalanya. Dia tak lagi sanggup berbicara pada orang lain apalagi memasak. Dia tinggalkan semua hal yang membuat Gilang jatuh cinta padanya. Dia juga tidak mengetahui apa yang dia lakukan selama setahun belakangan. Potongan gambar yang masuk ke kepalanya tidak sejelas tadi. Yang dia tahu, tiba-tiba saja dia sudah berada disini. Bersama Gilang. 


Persia hanya memandangi handphone ditangannya selama beberapa saat lalu memeluknya erat di dada. Dengan suara pelan, dia pun ikut mengiringi dan menyanyikan lagu kenangan mereka berdua dengan tatapan kosong. 


“Twinkle, twinkle, little star, 

How I wonder what you are. 
Up above the world so high, 
Like a diamond in the sky…”

Monday, October 28, 2013

Bikin Blog Lagi

Jadi gini, si perempuan labil ini akhirnya bikin blog lagi. Iya, blog lagi di blogspot berasa di microblog nggak cukup kali curcolnya 

Sebenernya bukan karena kurang banyak lahan buat curhat sih, cuman biar ada jawaban aja kalo ditanya "Eh, lo punya blog? Blognya apa?"

Yah, karena gue  introvert malu akan tulisan curhatan nggak jelas gue, akhirnya gue bikin lah satu lagi blog yang namanya http://humming-waltz.blogspot.com/

Sebenernya isinya sama aja sih sama yang disini cuman tulisan-tulisan yang gue posting disitu jelas yang udah gue dipilih-pilih dari tulisan yang ada disini lah. Yah, yang tulisannya bagus dikit jadi nggak malu-maluin amat kalo dibaca orang laen. Dan untuk blog yang ini, tetep gue keep private laaahh... bahkan settingnya aja gue bikin yang nggak bisa dicari di search engine supaya gue bisa bebas ngomongin orang disini.  Ngihahahaha...

Ya udah gitu aja. Semoga semakin berkibar kiprah dunia tulis menulisnya! \m/ apalah

Sunday, October 27, 2013

Malam Itu

Tak ada yang berbeda dari suasana malam itu dengan malam-malam biasanya. Kemacetan masih mengular seperti biasa. Mobil-mobil dan motor yang saling berdampingan, bergerak dengan sangat pelan. Lampu gedung-gedung perkantoran yang berada di kiri dan kanan pun masih terlihat menyala. Mungkin masih banyak manusia-manusia yang bekerja mengabdikan dirinya di perusahaan dan terpaksa menahan keinginan untuk berkumpul dengan keluarganya malam itu.

Kami pun masih sama seperti biasanya, tak ada yang berbeda. Dia duduk di balik kemudinya dan hanya diam memandangi kemacetan yang ada di hadapannya.Aku juga tak berkata apa-apa sama sekali. Yang ada hanya suara alunan instrumental jazz yang mengalun lembut. Musik favoritnya itu selalu terdengar setiap kali aku menaiki mobilnya.

Pada dasarnya, dia memang bukan tipe orang yang banyak bicara. Tiga tahun kami saling kenal dan setiap kali, selalu aku yang mendominasi pembicaraan. Dia lebih banyak diam sambil mendengarkan. Kami pun jarang bertemu. Komunikasi kami lebih banyak melalui telepon dan pesan-pesan singkat. 

"Kalau mau pindah ke radio, pindah aja."

Aku menoleh kaget. Tiga tahun kami kenal dan ini pertama kalinya dia membolehkanku mengganti lagu di mobilnya.

"Beneran?"

Dia tidak menjawab. Hanya mengangguk sambil terus memandangi jalanan di depannya yang tidak bergerak sama sekali.

"Nggak usah deh. Ini aja." jawabku pelan. It feels weird. Ada yang berbeda dari biasanya. Bukan hanya saat ini tapi sudah sejak beberapa waktu lalu aku merasa ada yang berubah. Entah dia yang berubah atau kami yang berubah. Atau aku yang hanya merasa seperti itu.

Kami tetap tidak saling berbicara satu patah kata pun, bahkan ketika kami akhirnya sampai di depan rumahku. Orangtuaku mungkin sudah terlelap saat itu karena sudah hampir tengah malam.

Kusentuh seatbelt yang melilit tubuhku. Berbeda dengan biasanya, rasanya berat sekali melepaskannya. Rasanya aku ingin berlama-lama sebentar disana, membicarakan apapun dengannya. Tapi yang terutama, aku ingin mendengar suaranya. Berada di keheningan seperti tadi selama hampir tiga jam rasanya membuatku merasakan kekosongan yang tidak nyaman. Walaupun memang biasanya aku sudah merasa cukup hanya dengan merasakan kehadirannya di sampingku, tapi kali ini sepertinya berbeda. Aku tetap merasa rindu luar biasa walaupun dia ada di sampingku.

Tiba-tiba kurasakan tangannya menyentuh jemariku tepat ketika aku selesai melepaskan seatbelt.

"We need to talk."

Jantungku tiba-tiba berdegup lebih kencang dibanding biasanya. Untuk sesaat, dia tidak berkata apa-apa. Tangannya yang biasanya terasa hangat, kali ini terasa dingin. Genggamannya pun terasa lebih erat dibanding biasanya.

"Apa sih? Tiba-tiba serius gini." ucapku dengan suara yang dibuat-buat ceria sambil sesekali tertawa. Mencoba mencairkan suasana. Tapi dia tetap tidak bergeming. Ketakutan pun mendadak merayapiku.

"I'm sorry..."

No. 

"I really am."

No! No! Please, just stop saying you're sorry! I really don't like it!

Dia menarik nafas panjang, menggenggam tanganku dengan semakin erat sambil melihat ke arahku. Wajahnya entah kenapa terlihat bersalah.

"I think... I fall in love with someone else..."

Tenggorokanku tercekat, tak bisa berkata apa-apa. Seperti ada yang menyentakkan tubuhku dengan kencang sampai-sampai rasanya luar biasa pening. Yang bisa kuingat hanyalah apa yang terjadi tepat satu tahun lalu. Saat itu dia terlihat agak salah tingkah sambil perlahan-lahan mendekat ke arahku.

"I may not be good with expressing myself and I will only say this once to you."

Bisikannya terdengar di telingaku dengan nafas hangatnya yang terasa.

 "I love you."