Tak ada yang berbeda dari suasana malam itu dengan malam-malam biasanya. Kemacetan masih mengular seperti biasa. Mobil-mobil dan motor yang saling berdampingan, bergerak dengan sangat pelan. Lampu gedung-gedung perkantoran yang berada di kiri dan kanan pun masih terlihat menyala. Mungkin masih banyak manusia-manusia yang bekerja mengabdikan dirinya di perusahaan dan terpaksa menahan keinginan untuk berkumpul dengan keluarganya malam itu.
Kami pun masih sama seperti biasanya, tak ada yang berbeda. Dia duduk di balik kemudinya dan hanya diam memandangi kemacetan yang ada di hadapannya.Aku juga tak berkata apa-apa sama sekali. Yang ada hanya suara alunan instrumental jazz yang mengalun lembut. Musik favoritnya itu selalu terdengar setiap kali aku menaiki mobilnya.
Pada dasarnya, dia memang bukan tipe orang yang banyak bicara. Tiga tahun kami saling kenal dan setiap kali, selalu aku yang mendominasi pembicaraan. Dia lebih banyak diam sambil mendengarkan. Kami pun jarang bertemu. Komunikasi kami lebih banyak melalui telepon dan pesan-pesan singkat.
"Kalau mau pindah ke radio, pindah aja."
Aku menoleh kaget. Tiga tahun kami kenal dan ini pertama kalinya dia membolehkanku mengganti lagu di mobilnya.
"Beneran?"
Dia tidak menjawab. Hanya mengangguk sambil terus memandangi jalanan di depannya yang tidak bergerak sama sekali.
"Nggak usah deh. Ini aja." jawabku pelan. It feels weird. Ada yang berbeda dari biasanya. Bukan hanya saat ini tapi sudah sejak beberapa waktu lalu aku merasa ada yang berubah. Entah dia yang berubah atau kami yang berubah. Atau aku yang hanya merasa seperti itu.
Kami tetap tidak saling berbicara satu patah kata pun, bahkan ketika kami akhirnya sampai di depan rumahku. Orangtuaku mungkin sudah terlelap saat itu karena sudah hampir tengah malam.
Kusentuh seatbelt yang melilit tubuhku. Berbeda dengan biasanya, rasanya berat sekali melepaskannya. Rasanya aku ingin berlama-lama sebentar disana, membicarakan apapun dengannya. Tapi yang terutama, aku ingin mendengar suaranya. Berada di keheningan seperti tadi selama hampir tiga jam rasanya membuatku merasakan kekosongan yang tidak nyaman. Walaupun memang biasanya aku sudah merasa cukup hanya dengan merasakan kehadirannya di sampingku, tapi kali ini sepertinya berbeda. Aku tetap merasa rindu luar biasa walaupun dia ada di sampingku.
Tiba-tiba kurasakan tangannya menyentuh jemariku tepat ketika aku selesai melepaskan seatbelt.
"We need to talk."
Jantungku tiba-tiba berdegup lebih kencang dibanding biasanya. Untuk sesaat, dia tidak berkata apa-apa. Tangannya yang biasanya terasa hangat, kali ini terasa dingin. Genggamannya pun terasa lebih erat dibanding biasanya.
"Apa sih? Tiba-tiba serius gini." ucapku dengan suara yang dibuat-buat ceria sambil sesekali tertawa. Mencoba mencairkan suasana. Tapi dia tetap tidak bergeming. Ketakutan pun mendadak merayapiku.
"I'm sorry..."
No.
"I really am."
No! No! Please, just stop saying you're sorry! I really don't like it!
Dia menarik nafas panjang, menggenggam tanganku dengan semakin erat sambil melihat ke arahku. Wajahnya entah kenapa terlihat bersalah.
"I think... I fall in love with someone else..."
Tenggorokanku tercekat, tak bisa berkata apa-apa. Seperti ada yang menyentakkan tubuhku dengan kencang sampai-sampai rasanya luar biasa pening. Yang bisa kuingat hanyalah apa yang terjadi tepat satu tahun lalu. Saat itu dia terlihat agak salah tingkah sambil perlahan-lahan mendekat ke arahku.
"I may not be good with expressing myself and I will only say this once to you."
Bisikannya terdengar di telingaku dengan nafas hangatnya yang terasa.
"I love you."
No comments:
Post a Comment