Wednesday, September 13, 2017

Laut



                                                          gambar diambil dari sini
                                        

Langit biru 
Suara deburan ombak yang bersahut-sahutan
Harum garam yang tercium kuat di hidung
Terik matahari yang panas, kontras dengan angin kencang yang menyelimuti

Aku menghirup udara dalam-dalam
Menikmati semua sensasi yang selalu menyenangkanku

Dari kejauhan, kudengar suara anak-anakku berlarian mengejar ombak
Mereka berteriak-teriak setiap kali ombak mendekati kedua kaki mereka
Kulihat raut wajah mereka yang sangat bahagia
Sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka melihat laut

Kududukkan diriku di pasir putih itu itu sembari menikmati sensasi aneh yang menusuk kulit ketika tubuhku menyentuh butiran-butiran itu
Aku kembali memperhatikan kedua anakku yang masih saling berlarian sambil bermain air
Kurasakan sudut-sudut mulutku tertarik dengan sendirinya, membentuk sebuah senyuman
Ternyata otot-otot mulut ini masih bekerja
Aku kembali menarik nafas panjang
Jika saja waktu berhenti saat ini, akan sangat menyenangkan
Sangat menyenangkan

Kudengar seseorang memanggil namaku

Dengan enggan, aku membuka kedua mataku

Dua orang petugas menatapku dengan tatapan datar
Pantai dan lautan luas, berubah menjadi sebuah ruangan dingin dengan banyak alat yang selama ini hanya kulihat di film-film

Aku kembali menarik nafas panjang
Udara yang sangat berbeda dengan yang tadi kuhirup
Setidaknya aku harus mengisi penuh paru-paruku.
Untuk yang terakhir kalinya

Lalu jarum suntik itu menusuk lengan kananku

Aku berusaha mengingat bayangan kedua anakku yang berlarian di pantai
Tapi semua menjadi gelap

Monday, June 26, 2017

Mendingan di rumah aja



Lebaran tahun ini rasanya menyakitkan


Orang dengan gampangnya nyuruh kesana kesini
Mereka nggak tahu setiap kali napak, kaki gue rasanya sakit
Mereka nggak tahu setiap kali gue nggak bisa ikut ke rumah saudara ini atau itu dan cuma bisa diam di rumah eyang, rasanya sedih

Kemarin aja nggak shalat ied karena shalatnya di lapangan dan datarannya banyak kerikil
Iya, memang gue selama ini shalatnya duduk
Tapi kan gue juga tetep harus berdiri dan gue nggak bisa berdiri di atas kerikil
Gue juga nggak bisa ke makam eyang karena harus menanjak
Gue nggak bisa

Terus ngapain gue kesini?


Mendingan di rumah aja
Nggak usah naik turun tangga setiap kali mau makan atau mau ke toilet
Nggak usah ngerenyit kesakitan setiap kali naik turun tangga jahanam ini

 
Mendingan di rumah aja
Nggak dengar pertanyaan ‘terus kata dokter apa?” dan gue jawab “dokternya aja nggak ngerti kenapa bisa sakit kayak gini.”
Mau mati nggak lo kalo denger kayak gitu? Dokter ahli aja nggak tau apalagi gue. Dan dokternya cuma bisa ngasih painkiller terus-terusan
Mau bikin ginjal gue ancur? Selain kaki, terus ginjal gue ancur?


Mendingan di rumah aja
Nggak dengar selentingan bercandaan ‘harusnya eyang yang pake tongkat. Bukannya malah cucunya’
Dikira gue mau kayak gini?
Dikira ada yang mau kayak gini?
Damn
Mulut gue udah hampir terlontar semua umpatan umpatan
Tapi kan cuma bisa diam
Mau jadi anak durhaka apa pas lebaran malah ngatain om sendiri?


Mendingan di rumah aja
Lebaran juga nggak kerasa kayak lebaran
Nggak harus dengerin bercandaan yang nyakitin hati. Dari orang yang katanya keluarga tapi cuma ketemu setahun sekali
Nggak harus bolak balik kesana kesini tertatih tatih susah payah dan harus dilihatin sama orang-orang karena langkah kaki yang pelan

Mendingan di rumah aja
Nggak usah pulang kampung
Dibanding kepikiran
Tahun depan udah sembuh apa pakai tongkat lagi? Atau malah kursi roda?


Mendingan di rumah aja
Nggak perlu berpura-pura di depan orang lain kalau gue baik-baik aja
Padahal kerjaan tiap malem mewek terus
Mikirin hidup gue kayak gimana kalau gini terus


Mendingan di rumah aja 

Monday, June 5, 2017

Tadi Malam


Tadi malam saya bermimpi. Indah sekali.


Saya bermimpi bisa berjalan dengan dua kaki, tanpa bantuan tongkat.
Saya bermimpi bisa berjalan dengan dua kaki, tanpa rasa sakit atau nyeri sedikit pun setiap kali kaki menapak.


Tadi malam, saya bermimpi. Indah sekali.


Saya bermimpi mendatangi festival favorit sepanjang masa, Java Jazz.
Saya berjalan dari satu stage ke stage lain tanpa rasa sakit sedikit pun.
Saya berjalan selama berjam-jam tanpa nyeri sedikit pun.
Dan saya pulang dengan bahagia. Endorfin seakan menyelimuti saya.


Tadi malam saya bermimpi. Indah sekali.



Tadi malam saya bermimpi.





Tadi malam, saya cuma bermimpi.