Wednesday, February 3, 2016

                                                                         gambar diambil dari sini

Membaca dengan kedua mata

Berjalan dengan kedua kaki

Memegang benda dengan kedua tangan

Mengecap dengan sempurna

Mendengarkan musik

Tersenyum melihat bapak-bapak yang saling pamer cincin batu akik

Menangis karena lelah

Tertawa dengan teman

Bicara dengan jelas

Mencium aroma masakan Mama

Bercerita pada keluarga

Merasakan hangatnya matahari

Berdesakan dengan orang-orang di commuter line

Berlarian mengejar bis

Kesal dengan ibu-ibu yang tiba-tiba memotong antrian

Melihat bintang di langit malam

Memandangi bulan

Melihat daun berguguran

Menyaksikan konser musik dan memperhatikan para penonton yang terhanyut menikmati penampilan band favorit di depan mata

Makan nasi padang dengan tangan

Mencium aroma kopi tubruk yang baru saja di seduh

Menikmati teh hangat di pagi hari sambil memandangi hujan

Ketakutan karena kilat menyambar dan bunyinya menggelegar

Mendadak hujan deras ketika sedang naik ojek ke kantor

Menangis di kereta sampai di perhatikan ibu-ibu di gerbong wanita setelah selesai membaca Tuesdays with Morrie

Menuliskan semua ini di blog dengan jari-jari yang masih bisa bergerak bebas




Note to self :
Saya harus sering-sering mengingatkan diri, bahwa hal-hal yang saya tulis di atas, walaupun mungkin terlihat sepele tapi adalah berkah hidup yang benar-benar harus disyukuri dan saya harus menikmatinya detik demi detik. Karena tak ada yang tahu, kapan hal-hal tersebut bisa saja direnggut dari kita secara tiba-tiba.

Saturday, January 2, 2016

Have you?

Have you ever feel so lonely?

Have you ever feel so lonely? You want to meet your friends even for just about five minutes but they can't meet you because they're busy with their life so you feel like you no longer important?

Have you ever feel so lonely? So lonely till what you wanna do is just work and work and work because it makes you ignore that feeling?

Have you ever feel so lonely till it hurts?

Have you ever feel so lonely, until it the thought of "I understand why people who feels lonely and alone, commit suicide" just pop in your head?

Have you?


Have. You?

Monday, August 24, 2015

“Bagaimana kau ingin pemakamanmu nanti diadakan?”


                                                                                   Gambar diambil dari sini


Kemarin, dengan berat hati saya menuju daerah Tangerang untuk menghadiri pemakaman salah satu rekan kerja saya. Rekan kerja yang memang usianya sudah sangat jauh diatas saya, hampir 3 kali lipat usia saya.

Selain perjalanan yang lumayan jauh, cuaca hari itu terasa sangat terik. Sangat terik sampai panasnya menusuk kulit.

Saya melihat orang-orang sekitar. Semua memandangi liang lahat dengan tatapan kosong. Terdengar beberapa orang yang saling berbicara satu sama lain. Membicarakan tentang kebaikan dan semua yang telah beliau lakukan semasa hidup. Beliau memang orang baik dan periang. Tak pernah seharipun beliau tidak membuat orang lain tertawa. Celetukannya yang khas dengan logat betawi kental, masih terngiang-ngiang di kepala saya. Ah, saya pasti rindu dengan celetukan-celetukannya itu.

Kemudian pikiran saya terlempar pada satu buku yang belum lama ini saya baca. Perempuan yang Melukis Wajah. Di buku kumpulan cerpen tersebut, salah satunya menyebutkan satu cerita dimana sang perempuan dan sang lelaki pertama kali bertemu lalu saling melontarkan pertanyaan. Salah satunya, bagaimana kau ingin pemakamanmu nanti dilaksanakan.

Saya membayangkan cuaca saat itu cerah dengan langit biru tanpa awan satu pun. Orang-orang yang saya sayangi datang, mengantarkan saya pada peristirahatan terakhir. Diri saya dibaringkan di sebuah padang rumput luas, dengan pohon trembesi besar yang memayungi. Tak usah diberi keramik. Saya hanya ingin gundukan tanah dengan rumput hijau tumbuh rapi di sekitar tempat peristirahatan terakhir saya.

Kemudian orang-orang berdatangan sembari membawa benda-benda kesayangan mereka. Jika kalian ingin sekedar membaca buku dan menikmati hembusan angin, datanglah. Jika kalian ingin bernyanyi-nyanyi dan bersenang-senang, marilah. Jika kalian ingin sekedar berbicara dan bercerita mengenai kehidupan kalian, silakan. Bahkan jika kalian ingin duduk diam saja dan sekedar mencari tempat menyendiri sembari berkontemplasi, kemarilah. Lakukan kegiatan apa saja yang kalian mau. Bergembiralah. Nikmatilah. Karena tempat saya terbaring terakhir bukan tempat menakutkan.

Tepukan pelan di pundak saya, membawa saya kembali ke alam nyata. Saya masih berada di pemakaman rekan kantor saya. Di depan sana, di depan pusara jenazah, istri dan anaknya yang masih sekolah SD yang awalnya terlihat kuat, akhirnya menangis kencang. Satu anaknya yang paling kecil, masih melihat sekeliling dengan tidak mengerti. Mungkin dia bingung kenapa ayahnya yang sedang terlelap, ditangisi oleh semua orang.

Setelah doa dipanjatkan, kami pun kembali pulang sembari diiringi wangi kembang yang menyengat. Bahkan ketika saya berjalan menjauhi makam, saya membayangkan babeh tersenyum lebar dan berkata, "Ati-ati pulangnya."


Selamat berbahagia disana, beh. Inget, jangan ngerokok lagi ya disana. Hehehehe...