Saturday, August 23, 2014

"Dulu gue nggak mikirin ini, tapi akhir-akhir ini gue jadi kepikiran untuk nikah."

Itu bukan dialog sinetron. Itu obrolan gue sama salah seorang sahabat gue yang gue anggap selama ini selalu sejalan dan sepikiran sama gue.

Rasanya kayak ada godam yang di lempar ke kepala gue waktu denger itu. Masalahnya, gue yang selama ini menganggap bahwa kami selalu sepikiran dan sevisi, tiba-tiba visi kami berubah jauh. Berbeda dengan dia yang akhir-akhir ini memikirkan bahwa dia kepikiran untuk nikah, buat gue, tujuan itu sepertinya malah semakin menjauh.

Entah gue yang aneh atau memang terlalu banyak mengkonsumsi cerita dari banyak pihak, gue semakin belum mau mikir kesitu.

"Jangan terlalu milih-milih." itu kata bos gue, baru-baru ini dan gue cuma bisa senyum, walaupun sebenarnya gue malah makin bingung. Bagaimana kalau pilihan gue adalah tidak memikirkan tentang itu di saat sekarang ini? Dan kenapa kesannya kita jadi harus menggantungkan kebahagiaan kita pada orang lain?

Banyak faktor yang membuat gue seperti ini. Masih banyak hal yang ingin gue capai dengan kedua tangan gue sendiri, gue juga masih belum menemukan orang yang sevisi dan sejalan dengan gue, gue pun masih belum kepikiran sama sekali untuk punya anak (dan gue sebenarnya nggak begitu suka anak kecil sih, jadi yaahh... entahlah)

Yang paling utama, alasan gue sebenarnya mungkin karena gue takut. Takut kalau nanti gue sudah mempercayakan diri gue pada orang lain dan orang itu mengkhianati kepercayaan gue. Gue takut pasangan gue selingkuh dengan wanita ( atau pria atau apapun dia). Gue banyak mendengar cerita-cerita dari semua pihak. Dari pihak yang di selingkuhi, dari pihak yang selingkuh, dan pihak yang menjadi selingkuhan.

Oke, gue akan jujur.. Bahkan gue pun beberapa kali menghadapi godaan itu dan gue sama sekali nggak pernah nyangka bahwa yang bentuknya kayak gue pun bisa dapet godaan kayak gitu. We're talking about me, orang yang selalu dikira ibu-ibu. Gue! Damn.

Kalau gue boleh membela diri, Demi Allah gue nggak tahu kalau mereka sudah punya pasangan
Dan itu pun nggak berlanjut sampai lama banget karena begitu gue tahu dia sudah punya pasangan, gue resign. Jadi tolong jangan mikir yang macem-macem ya. I'm not a homewrecker.

Brengseknya, gue tahu bagaimana rasa sakitnya diselingkuhi. Lalu kemudian takdir dengan kejamnya menyuruh gue berganti tempat supaya merasakan bagaimana rasanya hampir menjadi orang ketiga. Humor hitam ala hidup itu kadang gue nggak habis pikir. Skenarionya fucked up abis.

Itu sebenarnya alasan utama gue belum memikirkan kesana. Menurut gue, kata-kata 'pernikahan' itu masih jauh. Jauuuhhh banget dari pikiran gue.   

Dan sialnya, semakin orang nyuruh gue untuk cepat-cepat nikah, semakin gue nggak pengen. Memangnya mereka yang nyuruh gue cepet nikah itu bakalan bertanggung jawab kalau nantinya gue menikah hanya karena tekanan dari mereka dan pada akhirnya suami gue selingkuh lalu kemudian kami bercerai? AMIT-AMIT CABANG BAYI

Waktu itu gue pernah ngomong jujur sama si sahabat gue ini, bahwa gue sama sekali nggak tertarik untuk menikah. Bahkan mungkin nggak akan pernah nikah. Dan dia langsung marah. Nyuruh gue narik lagi kata-kata gue.

Dia bilang:  "Jangan ngomong gitu. Mungkin lo hanya belum ketemu orang yang tepat. Mungkin nggak harus menikah di umur  20 atau 30an seperti orang-orang. Mungkin nanti bisa aja ketemunya pas umur 40 tahunan, tapi jangan pernah ngomong gitu."

Mungkin dia benar.

Terus dia nanya lagi "Lo nggak punya trauma atau apa kan?"

Gue cuma senyum dan menggeleng. Padahal, gue memang memiliki trauma. Trauma yang gue nggak tahu bakalan bisa sembuh atau nggak.

Seperti kotak pandora yang gue tutup rapat-rapat di pojok ruangan hati gue. Yang dengan hati-hati, gue abaikan seperti nggak pernah ada apa-apa walaupun sebenarnya isi kotak pandora itu sudah membuat luka yang mungkin nggak akan pernah bisa sembuh. Dan brengseknya lagi, gue nggak bisa cerita tentang ini ke siapa-siapa.

Seperti yang gue bilang, skenario hidup itu kadang fucked up banget sampe-sampe gue cuma bisa ketawa pasrah.

Thursday, December 5, 2013

Secangkir Teh




Walaupun saya suka kopi, tapi menurut saya harum teh lebih mengikat. Selalu ada perasaan nostalgia yang mampir setiap kali saya mencium harum tersebut. Begitulah menurut saya. Sampai detik ini pun, saya selalu merasa kalau teh adalah simbol  tradisional dan kenangan akan masa lalu, sedangkan kopi adalah simbol modern dan masa kini. Mohon maafkan jika mungkin banyak yang tak setuju dengan pendapat saya, tapi sungguh, saya merasa demikian.

Sedari kecil, saya yang memang orang jawa ini dulu sering sekali pulang ke Solo. Kota dimana almarhum eyang kakung saya berasal. Setiap kami pulang ke Solo, kami selalu menginap di rumah mbah buyut. Rumah yang berada di daerah Kartasura itu masih berada di pedesaan dan agak jauh dari daerah kota. Banyak sawah yang membentang disana. Dulu kami kemana-mana hanya menaiki sepeda ontel karena memang tak ada alat transportasi lain disana. Berbeda dengan sekarang, dimana motor dan mobil sudah mendominasi daerah tersebut. 

Struktur bangunan rumah almarhum mbah buyut pun masih teringat jelas di kepala saya, dengan dinding batu bata dan lantai yang hanya berasal dari semen. Langit-langit rumah pun dibuat sangat tinggi dan hanya berstruktur kayu serta seng. Rasanya luar biasa sejuk, baik malam ataupun siang hari. 

Setiap malam, kami semua selalu berkumpul di ruang tengah. Bergelas-gelas teh selalu disajikan setiap malamnya. Para pakde, eyang kakung dan mbah kakung selalu memakai gelas kaca jumbo, sedangkan kami para anak kecil memakai gelas kaleng sedang. Saya lupa nama gelasnya, pokoknya warnanya hijau dan putih. Sekilas, pola gelasnya seperti pola baju tentara. Teh yang disajikan pun harus nastigel. Nasgitel adalah singkatan dari panas, legi, kentel. Yang berarti panas, manis, dan kental. 

Setiap malamnya, kami semua selalu berkumpul di ruang tengah walaupun kemudian pembicaraan terbagi menjadi tiga kubu. Para pakde, eyang kakung dan mbah kakung saling berbicara dengan bahasa jawa kental sambil sesekali merokok, para bude, eyang putri dan mbah putri juga saling berbicara sambil sesekali tertawa kencang, dan kami para anak-anak juga asik sendiri dengan permainan kami yang tak jelas sambil sesekali meminum teh di tatakan gelas. Bukannya apa-apa, tapi karena tehnya terlalu panas. Tak jarang lidah kami melepuh karena lupa sering minum langsung dari gelasnya. Makanya, supaya lidah kami tak melepuh dan kami bisa menikmati teh dengan nyaman, kami tuang teh yang ada di gelas ke tatakannya supaya cepat dingin dan bisa cepat kami minum. 

Dengan diiringi musik tembang jawa yang selalu diputar mbah buyut kakung, harum teh yang kuat memenuhi ruangan. Rasanya menyenangkan, sekaligus menenangkan. Walaupun kami semua sibuk dengan pembicaraan masing-masing, tapi kami semua tertawa tanpa beban. 

Inilah mengapa setiap kali saya merasa penat, saya meluangkan waktu untuk menyeduh teh. Bukan teh celup, tapi teh yang masih berupa daun-daunan kering. Saya menyebutnya teh prulukan, karena saya tak tahu apa sebutan untuk teh seperti itu. Wanginya jauh lebih tajam dan rasanya jauh lebih terasa dibanding teh celup. Persis seperti teh yang dulu selalu diseduhkan oleh almarhumah mbah buyut putri. Setiap kali saya menghirup harum teh, merasakan manisnya di lidah, dan merasakan kehangatannya yang menjalari tenggorokan, tubuh saya menjadi rileks dan kepenatan yang menguasai pikiran saya bisa menghilang. Karena wangi teh selalu membuat saya terlempar ke ingatan masa lalu ketika kami semua berkumpul di ruang tengah sambil mendengarkan tembang jawa dan tertawa lepas tanpa beban. 

Jangan lupa, tehnya harus nasgitel. Panas, legi, kentel. 

Sunday, December 1, 2013

Masih gak ngerti sama orang-orang yg suka ngeshare foto korban. Emang kalo nanti dia meninggal, mau gitu foto mayatnya disebar kemana-mana? Asli, gagal paham gue.

posted from Bloggeroid