Thursday, December 5, 2013

Secangkir Teh




Walaupun saya suka kopi, tapi menurut saya harum teh lebih mengikat. Selalu ada perasaan nostalgia yang mampir setiap kali saya mencium harum tersebut. Begitulah menurut saya. Sampai detik ini pun, saya selalu merasa kalau teh adalah simbol  tradisional dan kenangan akan masa lalu, sedangkan kopi adalah simbol modern dan masa kini. Mohon maafkan jika mungkin banyak yang tak setuju dengan pendapat saya, tapi sungguh, saya merasa demikian.

Sedari kecil, saya yang memang orang jawa ini dulu sering sekali pulang ke Solo. Kota dimana almarhum eyang kakung saya berasal. Setiap kami pulang ke Solo, kami selalu menginap di rumah mbah buyut. Rumah yang berada di daerah Kartasura itu masih berada di pedesaan dan agak jauh dari daerah kota. Banyak sawah yang membentang disana. Dulu kami kemana-mana hanya menaiki sepeda ontel karena memang tak ada alat transportasi lain disana. Berbeda dengan sekarang, dimana motor dan mobil sudah mendominasi daerah tersebut. 

Struktur bangunan rumah almarhum mbah buyut pun masih teringat jelas di kepala saya, dengan dinding batu bata dan lantai yang hanya berasal dari semen. Langit-langit rumah pun dibuat sangat tinggi dan hanya berstruktur kayu serta seng. Rasanya luar biasa sejuk, baik malam ataupun siang hari. 

Setiap malam, kami semua selalu berkumpul di ruang tengah. Bergelas-gelas teh selalu disajikan setiap malamnya. Para pakde, eyang kakung dan mbah kakung selalu memakai gelas kaca jumbo, sedangkan kami para anak kecil memakai gelas kaleng sedang. Saya lupa nama gelasnya, pokoknya warnanya hijau dan putih. Sekilas, pola gelasnya seperti pola baju tentara. Teh yang disajikan pun harus nastigel. Nasgitel adalah singkatan dari panas, legi, kentel. Yang berarti panas, manis, dan kental. 

Setiap malamnya, kami semua selalu berkumpul di ruang tengah walaupun kemudian pembicaraan terbagi menjadi tiga kubu. Para pakde, eyang kakung dan mbah kakung saling berbicara dengan bahasa jawa kental sambil sesekali merokok, para bude, eyang putri dan mbah putri juga saling berbicara sambil sesekali tertawa kencang, dan kami para anak-anak juga asik sendiri dengan permainan kami yang tak jelas sambil sesekali meminum teh di tatakan gelas. Bukannya apa-apa, tapi karena tehnya terlalu panas. Tak jarang lidah kami melepuh karena lupa sering minum langsung dari gelasnya. Makanya, supaya lidah kami tak melepuh dan kami bisa menikmati teh dengan nyaman, kami tuang teh yang ada di gelas ke tatakannya supaya cepat dingin dan bisa cepat kami minum. 

Dengan diiringi musik tembang jawa yang selalu diputar mbah buyut kakung, harum teh yang kuat memenuhi ruangan. Rasanya menyenangkan, sekaligus menenangkan. Walaupun kami semua sibuk dengan pembicaraan masing-masing, tapi kami semua tertawa tanpa beban. 

Inilah mengapa setiap kali saya merasa penat, saya meluangkan waktu untuk menyeduh teh. Bukan teh celup, tapi teh yang masih berupa daun-daunan kering. Saya menyebutnya teh prulukan, karena saya tak tahu apa sebutan untuk teh seperti itu. Wanginya jauh lebih tajam dan rasanya jauh lebih terasa dibanding teh celup. Persis seperti teh yang dulu selalu diseduhkan oleh almarhumah mbah buyut putri. Setiap kali saya menghirup harum teh, merasakan manisnya di lidah, dan merasakan kehangatannya yang menjalari tenggorokan, tubuh saya menjadi rileks dan kepenatan yang menguasai pikiran saya bisa menghilang. Karena wangi teh selalu membuat saya terlempar ke ingatan masa lalu ketika kami semua berkumpul di ruang tengah sambil mendengarkan tembang jawa dan tertawa lepas tanpa beban. 

Jangan lupa, tehnya harus nasgitel. Panas, legi, kentel. 

No comments: