Lagi-lagi insomnia ini menyerang Dan karena gw bingung mau ngapain, gw akhirnya blogwalking.
Malem-malem buta gini, gw shock ngebaca beberapa blog dan notes temen-temen gue. Hal yang terjadi sama mereka, menurut gw jauh lebih berat daripada hidup yang gw jalanin sekarang. Broken home, diikutin stalker, cowok nya suka mukulin dia, selalu berantem sama orang tuanya. Dan gw baca kalimat itu. PENGEN MATI.
Gw pernah ada di posisi "pengen mati" itu. Ada satu kejadian beberapa tahun lalu, yang bikin gw amat sangat down. Gw bahkan nggak ngerasa "hidup" saat itu. Pulang sekolah, gw langsung ke kamar. Nggak jarang, gw skip makan. Gw seakan ga punya rasa lapar. Gw terlalu shock atas masalah yang gw hadapin. Gw tau orang-orang di rumah gw menyadari perubahan sikap gw yang mendadak berubah. Gw tau mereka menerka-nerka apa yang terjadi sama gw. Mungkin mereka pikir, gw cuman sakit hati karena seorang lelaki atau mungkin nilai-nilai gw yang mendadak kayak jatoh ke jurang.
Tapi kenyataannya, hal yang menimpa gw, jauh lebih besar daripada itu. Ini masalah tentang apa yang gw hormatin dan kenyataan yang ternyata melenceng jauh dari apa yang gw hormatin dan gw percaya selama ini. Dan karena masalah ini gw rasa personal, gw nggak berani cerita ke siapa-siapa. Gw nggak berani cerita ke orang tua, gw nggak berani cerita ke adek gw, bahkan gw pun nggak berani cerita ke diary. Dan akhirnya gw cuman ngurung diri di kamar. Tiap malam, gw nyalain radio kenceng-kenceng. Dan gw menangis. Bingung harus berbuat apa. Bertanya-tanya kenapa harus gw yang menanggung beban seberat ini dan lalu mengingat-ngingat kesalahan gw selama ini. Mungkin ini karma yang harus terjadi atas hal-hal biadab yang gw lakuin.
Dan ketika hari esok mulai datang dan gue harus kembali ke aktifitas yang biasa, gw mulai masang topeng "ceria" itu kembali. Gw senyum selebar-lebarnya. Di sekolah pun, gw tertawa sekencang-kencangnya agar bisa menutupi rasa hancur gw. Kalo gw bengong dan temen gw nanyain gw kenapa, gw langsung bilang "kapan ya gw kurus?" dan mereka tertawa. Gw pun tertawa. Tapi gw juga nangis. Rutinitas gw tiap hari, ya gitu. Masang topeng setiap saat, dimana pun ada orang di sekitar gw.
Temen gw sempet ada yang bilang :
"Enak ya met jadi lo. Lo nggak punya masalah. Gw kalo ngeliat lo, kayaknya lo tuh ketawaaa terus. Kayak nggak punya masalah."
Gw sempet diem. Dan cengiran konyol gw, spontan langsung terpasang sempurna di muka gw.
Dia nggak tahu, setiap malam gw menangis. Dia nggak tau, kalo di butuhkan kekuatan yang amat besar untuk tertawa dan terlihat ceria dan gw mengerahkan segala kekuatan gw untuk tetap terlihat ceria. Dia nggak tau, setiap harinya, gw bertanya-tanya kapan nyawa gw bakalan diambil karena gw udah nggak kuat lagi. Dada ini terus-menerus merasa sesak karena masalah itu. Dia nggak tau. Nggak ada seorang pun yang tau.
Satu-satunya tempat ketika gw bisa melepas topeng itu adalah ketika gw di kamar sendirian. Ditinggal di rumah sendiri pun, adalah salah satu hal yang bisa bikin gw merasa lega. Gw akhirnya bisa menghela nafas panjang dan bisa menangis sekeras-kerasnya tanpa harus takut didengar oleh orang tua atau pun adek gw. Gw bingung. Gw nggak punya siapa pun yang bisa gw ajak berbagi.
Sampai akhirnya, gw tiba-tiba tersadar. Ada yang mau dengerin semua keluh kesah gw tanpa membocorkan masalah ini. Gw langsung ambil air wudlu terus solat. Gw nangis. Gw luapin semua. Gw merasa sangat luar biasa bejat karena baru menyadari-Nya yang selalu ada di dekat gw. Gw merasa sangat brengsek karena baru ingat Dia ketika gw mendapat hal yang membuat gw jatuh sejatuh-jatuhnya. Gw tau selama ini Allah memang ada. Gw tau. Gw pun inget ketika gw ada masalah, gw hanya bisa mengadu ke Allah. Tapi, gw baru bisa merasakan kalau dia benar-benar ada, ketika gw akhirnya tersadar. Selama ini, gw tau, tapi gw nggak sadar.
Tiap malam akhirnya gw selalu mengeluh kepada-Nya. Walaupun gw tau Dia udah tau semua yang terjadi sama gw, hati dan mulut ini gak berhenti-berhenti mengeluh. Menceritakan semua hal yang membuat suatu perubahan besar dalam hidup gw dan sangat mempengaruhi mental gw. Gw mulai mencoba untuk mengenal-Nya lebih jauh. Gw perlahan-lahan, mulai merasakan-Nya di setiap shalat gw. Nggak kayak dulu. Yang gw cuma shalat karena itu adalah keharusan.
Dan perlahan, seperti ada yang menuntun gw untuk kembali ke rutinitas normal. Ada yang menuntun gw untuk melepas topeng "ceria" gw dan membantu gw untuk melepaskan beban berat yang ada di gw. Seperti ada yang berbisik "tenang... ini akan berlalu. Yang harus dilakukan, hanya bertahan dan terus berdoa"
Alhamdulilah, gw berhasil bertahan sampai menit ini, detik ini. Melihat postingan temen-temen dari blog yang gw telusurin barusan, gw cuman bisa berdoa. Mudah-mudahan mereka bisa "menyadari" bahwa ada tempat untuk mereka mengadu. Ada tempat dimana ketika mereka menemukan tempat itu, mereka nggak bakalan merasa sehancur itu. Tempat dimana ketika mereka menemukan tempat itu, beban mereka tidak akan terasa seberat itu. Gw pun bisa menyingkirkan topeng "ceria" itu. Kali ini, gw ceria karena gw memang merasa bahagia. Walaupun gw nggak memungkiri, kadang kejadian itu masih terus membayangi gw sampai sekarang. Dan gw masih bingung bagaimana akhir dari kejadian itu, karena sampai sekarang, permasalahannya belum selesai. Gw pun masih suka menangis memikirkan permasalahan itu. Gw masih suka down. Tapi setidaknya, masa-masa kehancuran gw dulu, nggak bersambung sampai sekarang.
Sunday, May 10, 2009
happy ending (?)
Gw lagi ngerasa muak sama kata-kata cinta yang terdengar seperti luar biasa hebat. Gw ralat perkataan gw barusan. Gw muak sama kata-kata happy ending. Gw muak sama akhir yang bahagia yang selalu diperlihatkan di film-film.
Dulu gw masih selalu berharap bahwa happy ending adalah hal yang pasti akan terjadi pada kita, mau bagaimana pun perjalanan yang kita lalui untuk mencapai "ending" itu. Tapi kenyataan dari orang-orang di sekitar gw, happy ending is just a bullshit.
Gw nanya ke orang-orang sekitar gw. Ada yang bilang happy ending itu adalah ketika lo merasakan kebahagiaan bersama orang-orang yang lo cintai. Ada yang bilang happy ending itu adalah ketika lo menikah dengan orang yang lo cintain dan kehidupan setelah happy ending alias menikah, adalah awal dari disaster (dan dia memutuskan ga bakalan mau menikah. Cuma mau having fun aja sama laki tanpa ada ikatan apa2). Ada yang bilang, happy ending itu omong kosong. Ada yang bilang happy ending itu cuman karangan Walt Disney supaya bikin anak-anak gampang di bodohin (dan kayaknya gw termasuk orang yang dibodohin). Ada yang bilang happy ending itu bukan ending tapi proses.
Dan sebenernya, happy ending tu apa sih? beneran ada apa nggak sih? Happy ending itu bener2 "akhir" dari perjalanan atau cuman "proses" menuju ke kebahagiaan yang kita inginkan? tapi kan namanya happy ending. Ending itu artinya akhir. Happy ending itu stucknya sampe mana? sampe nikah doang? Kalo udah nikah, itu akhirnya happy ending? atau kalo mereka akhirnya udah punya anak cucu, terus anak cucu mereka berhasil dan sukses, apa itu yang namanya happy ending?
Apa happy ending itu, cuma istilah yang dipakai untuk menyemangati orang bahwa akan ada "tujuan yang indah" yang akan di capai kalo misalnya kita sekuat tenaga berusaha untuk merealisasikan itu?
Apa mungkin karena gw ga percaya happy ending itu ada di kehidupan nyata, makanya gw suka banget sama film-film yang bisa bikin gw seneng di akhir filmnya karena akhirnya gw bisa lari dari kenyataan yang ga sebahagia di film?
Ah... lagi-lagi pikiran gw ngelantur kemana-mana. Udahlah. Gak usah mikinin happy ending itu ada apa nggak. Jalanin aja hidup ini. Ntar juga jawabannya ketemu. Mudah-mudahan... *cross fingers*
Dulu gw masih selalu berharap bahwa happy ending adalah hal yang pasti akan terjadi pada kita, mau bagaimana pun perjalanan yang kita lalui untuk mencapai "ending" itu. Tapi kenyataan dari orang-orang di sekitar gw, happy ending is just a bullshit.
Gw nanya ke orang-orang sekitar gw. Ada yang bilang happy ending itu adalah ketika lo merasakan kebahagiaan bersama orang-orang yang lo cintai. Ada yang bilang happy ending itu adalah ketika lo menikah dengan orang yang lo cintain dan kehidupan setelah happy ending alias menikah, adalah awal dari disaster (dan dia memutuskan ga bakalan mau menikah. Cuma mau having fun aja sama laki tanpa ada ikatan apa2). Ada yang bilang, happy ending itu omong kosong. Ada yang bilang happy ending itu cuman karangan Walt Disney supaya bikin anak-anak gampang di bodohin (dan kayaknya gw termasuk orang yang dibodohin). Ada yang bilang happy ending itu bukan ending tapi proses.
Dan sebenernya, happy ending tu apa sih? beneran ada apa nggak sih? Happy ending itu bener2 "akhir" dari perjalanan atau cuman "proses" menuju ke kebahagiaan yang kita inginkan? tapi kan namanya happy ending. Ending itu artinya akhir. Happy ending itu stucknya sampe mana? sampe nikah doang? Kalo udah nikah, itu akhirnya happy ending? atau kalo mereka akhirnya udah punya anak cucu, terus anak cucu mereka berhasil dan sukses, apa itu yang namanya happy ending?
Apa happy ending itu, cuma istilah yang dipakai untuk menyemangati orang bahwa akan ada "tujuan yang indah" yang akan di capai kalo misalnya kita sekuat tenaga berusaha untuk merealisasikan itu?
Apa mungkin karena gw ga percaya happy ending itu ada di kehidupan nyata, makanya gw suka banget sama film-film yang bisa bikin gw seneng di akhir filmnya karena akhirnya gw bisa lari dari kenyataan yang ga sebahagia di film?
Ah... lagi-lagi pikiran gw ngelantur kemana-mana. Udahlah. Gak usah mikinin happy ending itu ada apa nggak. Jalanin aja hidup ini. Ntar juga jawabannya ketemu. Mudah-mudahan... *cross fingers*
Sunday, May 3, 2009
Bu...
"Silakan diliat dulu dompetnya, bu.."
Gw yang lagi duduk manis di bis, langsung ngelirik kesel, tapi gw langsung narik nafas. Mas-mas itu nawarin dompet yang harganya 5 rebuan ke gw dan langsung naro di pangkuan gw.
"permisi bu" dan mas2 itu pun ngambil dompet itu lagi terus masukin ke kresek itemnya. Mulut gw manyun.
Pas turun di komdak, pata ojekers yang mangkal disana, langsung manggil2 "bu, ojeknya bu" makin manyun. Akhirnya gw naek metromini ampe dukuh atas.
Panggilan "Bu" itu sering gw denger. Ga tau karena faktor gw pake kerudungan, dan badan gw gede ato gimana.
Pernah pas di stasiun, gw nanya sama mas2 penjaga peronnya "mas, express bekasi lagi dimana?"
"Masih di manggarai bu" terus dia ngeliat muka gw, mukanya langsung panik "eh, mbak, bu... eh, mbak." dan gw ketawa. Bwahahahaha.... biasanya jarang tuh yang ngoreksi sapaan "bu" nya ke gw dengan diganti jadi "mbak". hahahaha...
Bisa dibilang, cukup jarang orang yang manggil gw dengan sebutan "mbak". gw sehari2 malah familiar sama panggilan "bu". yah, walopun gw sempet kesel, tapi lama2 jadi biasa. malah kadang gw kerjain. Ada mas-mas yang nanya "bu, bayarnya kurang nih." eh terus muka dia langsung bingung ngeliat gw. mungkin di pikirnya 'ini ibu2 apa mbak2?'
trus gw langsung pasang muka melas aja "anak saya belom bayaran sekolah mas..." sopir angkot itu keliatan kasian sama gw. Akhirnya dia ngangguk dan pergi? Gw? cekikikan ^_^;
Gw yang lagi duduk manis di bis, langsung ngelirik kesel, tapi gw langsung narik nafas. Mas-mas itu nawarin dompet yang harganya 5 rebuan ke gw dan langsung naro di pangkuan gw.
"permisi bu" dan mas2 itu pun ngambil dompet itu lagi terus masukin ke kresek itemnya. Mulut gw manyun.
Pas turun di komdak, pata ojekers yang mangkal disana, langsung manggil2 "bu, ojeknya bu" makin manyun. Akhirnya gw naek metromini ampe dukuh atas.
Panggilan "Bu" itu sering gw denger. Ga tau karena faktor gw pake kerudungan, dan badan gw gede ato gimana.
Pernah pas di stasiun, gw nanya sama mas2 penjaga peronnya "mas, express bekasi lagi dimana?"
"Masih di manggarai bu" terus dia ngeliat muka gw, mukanya langsung panik "eh, mbak, bu... eh, mbak." dan gw ketawa. Bwahahahaha.... biasanya jarang tuh yang ngoreksi sapaan "bu" nya ke gw dengan diganti jadi "mbak". hahahaha...
Bisa dibilang, cukup jarang orang yang manggil gw dengan sebutan "mbak". gw sehari2 malah familiar sama panggilan "bu". yah, walopun gw sempet kesel, tapi lama2 jadi biasa. malah kadang gw kerjain. Ada mas-mas yang nanya "bu, bayarnya kurang nih." eh terus muka dia langsung bingung ngeliat gw. mungkin di pikirnya 'ini ibu2 apa mbak2?'
trus gw langsung pasang muka melas aja "anak saya belom bayaran sekolah mas..." sopir angkot itu keliatan kasian sama gw. Akhirnya dia ngangguk dan pergi? Gw? cekikikan ^_^;
Subscribe to:
Posts (Atom)