Gambar diambil dari sini
- Pukul 03.00 pagi. Tiga jam lagi menuju jatuhnya meteor yang akan menabrak bumi
Aku mendekap erat ranselku dan juga tongkat besi yang sudah menjadi sahabat baikku selama dua hari ini.
Nafasku terhenti ketika mereka semakin mendekat.
Lima langkah...
Tiga langkah...
Dua langkah...
Selangkah..
Dan kemudian mereka berhenti. Berbalik, kemudian menjauh.
Aku mengatur nafasku. Dan kemudian kembali berlari. Melanjutkan perjalananku untuk bertemu dengannya.
***
Dengan berat, saya paksakan kedua mata saya untuk membuka. Hari ini jauh lebih tenang dibanding beberapa hari kemarin, dimana semua orang berteriak histeris menyebut nama Tuhan ketika pemerintah tiba-tiba mengumumkan akan ada meteor sebesar negara ini yang akan menabrak ke bumi.
5 jam lagi kami akan musnah. Semua akan mati. Dan saya bahkan tidak merasa gentar sedikit pun. Aneh? Tidak. Karena sudah sejak 2 tahun lalu dokter memvonis saya akan mati pada saat itu. Dan sudah sejak 5 tahun lalu saya sudah merasa ingin mati saja. Saya lelah.
Tuhan... kalau Engkau memang ada... sungguh, bolehkan saya minta meteor itu datang lebih cepat dibandingkan prediksi orang-orang ini?
Dan saya kembali menutup mata
- Pukul 15.00. Tiga hari sebelum Presiden memberi pengumuman tentang meteor.
Aku duduk di bawah pohon, di sebuah taman, di dekat rumah sakit. Menunggu dia yang selalu duduk disini sambil menikmati angin sore. Sudah cukup lama aku menunggu, tapi dia belum juga datang.
Dari kejauhan, mendadak aku melihat seorang lelaki berbadan besar mendorong sebuah kursi roda. Dia datang. Dengan senyuman khasnya, melambai dari kursi roda yang sedang di dorong lelaki besar itu.
"Udah lama nunggu ya?" Aku menggeleng sambil tersenyum lebar. Dia datang juga. Akhirnya.
"Tinggal aja. Nanti sejam lagi jemput saya." katanya pada pria berbadan besar itu. Pria berbadan besar itu sekilas menatap ke arahku. Tak peduli sudah beberapa kali kami bertemu, mukanya tampak selalu muak ketika melihatku.
Setelah sedetik menatapku dengan tatapan menghina, dia kemudian berbalik dan pergi menjauh. Meninggalkan kami berdua, seperti biasa.
Aku melihat ke arahnya. Dia, yang duduk di kursi roda. Tubuhnya tampak semakin kurus. Sweeter coklat muda kesayangannya itu semakin terlihat kebesaran. Kedua pipinya semakin cekung, kantong matanya terlihat semakin menggantung dan menghitam. Topi wol krem juga terlihat semakin kebesaran menutupi kepala botaknya.
Tapi raut wajah dan tatapan matanya ketika tersenyu tidak berubah. Tetap ramah seperti biasa.
"Saya bawa ini buat kamu" katanya sambil memberikanku kantung kresek berisi makanan yang dipangkunya sedari tadi. Cukup banyak. Aku menggeleng sambil tersenyum.
"Kamu belum makan kan?" aku kembali menggeleng dan tersenyum.
"Nggak usah, makasih."
"Hmmm..." dia terlihat berpikir. "Oke, kita main monopoly. Kalau saya menang, kamu ambil makanan-makanan ini. Kalau saya kalah, kamu ambil makanan ini." Aku terdiam. Agak lama. Dan kemudian kedua alisku bertaut.
Dia tertawa. Aku tertawa. Dan kemudian kami mulai main monopoly.
- Pukul 05.00
Saya kembali membuka mata saya. Tampaknya meteor belum juga jatuh.
Saya mendudukkan diri di sofa dan kemudian melihat sekeliling. Kosong. Hanya tinggal saya yang ada di rumah besar ini. Sendiri.
Semua orang mendadak panik tiga hari lalu, dan langsung berhamburan keluar. Mencoba pergi menyelamatkan diri entah kemana. Meninggalkan saya terkapar disini sendiri.Orang-orang bodoh itu belum juga sadar mereka tidak akan bisa melarikan diri kemana-mana. Ah, biarkan saja...
Dasar orang-orang bodoh. Ya, orang-orang bodoh yang mengaku saudara saya, yang mengaku sanak saudara saya dan berkata akan menjaga saya di depan makam orang tua saya. Tanpa saya harus ke ruang keluarga pun, saya tahu isi brankas Papa sudah menghilang semua dibawa orang-orang bodoh itu.
Saya berdiri dan mencoba berjalan ke arah kulkas, tapi kedua lutut saya mendadak gemetar dan saya terjatuh ke lantai. Dengan sekuat tenaga, saya berusaha untuk mendudukkan diri saya. Brengsek. Bahkan untuk duduk saja saya sudah kepayahan. Kanker jahanam ini benar-benar sudah merenggut semua kekuatan saya. Rambut saya. Hidup saya.
Saya melihat sekeliling. Gelap. Saya lapar. Saya haus. Saya merasa sepi.
Mendadak rasa gemetar hebat menyelimuti tubuh saya. Senyuman itu akan hilang dalam satu jam ke depan. Suara gelak tawa yang suka sekali saya dengar dari bibir mungilnya itu tidak akan ada lagi. Sekelibat, mendadak terbayang di benak saya tubuh mungilnya yang kaku dan hancur.
Tuhan, kalau Engkau benar-benar ada, bolehkah saya mengganti permintaan dan tolong kabulkan permintaan saya yang baru?
Tuhan, bisakah tolong biarkan dia tetap hidup dan bahagia?
***
Saya mendudukkan diri di sofa dan kemudian melihat sekeliling. Kosong. Hanya tinggal saya yang ada di rumah besar ini. Sendiri.
Semua orang mendadak panik tiga hari lalu, dan langsung berhamburan keluar. Mencoba pergi menyelamatkan diri entah kemana. Meninggalkan saya terkapar disini sendiri.Orang-orang bodoh itu belum juga sadar mereka tidak akan bisa melarikan diri kemana-mana. Ah, biarkan saja...
Dasar orang-orang bodoh. Ya, orang-orang bodoh yang mengaku saudara saya, yang mengaku sanak saudara saya dan berkata akan menjaga saya di depan makam orang tua saya. Tanpa saya harus ke ruang keluarga pun, saya tahu isi brankas Papa sudah menghilang semua dibawa orang-orang bodoh itu.
Saya berdiri dan mencoba berjalan ke arah kulkas, tapi kedua lutut saya mendadak gemetar dan saya terjatuh ke lantai. Dengan sekuat tenaga, saya berusaha untuk mendudukkan diri saya. Brengsek. Bahkan untuk duduk saja saya sudah kepayahan. Kanker jahanam ini benar-benar sudah merenggut semua kekuatan saya. Rambut saya. Hidup saya.
Saya melihat sekeliling. Gelap. Saya lapar. Saya haus. Saya merasa sepi.
Saya melihat jam tangan saya. Pukul 05.00. Hanya tinggal satu jam lagi sebelum meteor menabrak bumi.
Saya menghela nafas panjang dan merebahkan diri di lantai. Bayangan semua orang yang ada di sekitar saya semenjak saya masih kecil mendadak bermunculan. Ayah, Ibu... sebentar lagi kita akan bertemu...
Tiba-tiba saya teringat kepada gadis pemulung yang ada di dekat rumah sakit dan sering bermain monopoly dengan saya. Sedang apa dia sekarang?
Tiba-tiba saya teringat kepada gadis pemulung yang ada di dekat rumah sakit dan sering bermain monopoly dengan saya. Sedang apa dia sekarang?
Mendadak rasa gemetar hebat menyelimuti tubuh saya. Senyuman itu akan hilang dalam satu jam ke depan. Suara gelak tawa yang suka sekali saya dengar dari bibir mungilnya itu tidak akan ada lagi. Sekelibat, mendadak terbayang di benak saya tubuh mungilnya yang kaku dan hancur.
Tuhan, kalau Engkau benar-benar ada, bolehkah saya mengganti permintaan dan tolong kabulkan permintaan saya yang baru?
Tuhan, bisakah tolong biarkan dia tetap hidup dan bahagia?
***
Aku tetap berlari, tanpa mempedulikan kakiku yang sudah sakit berdarah tak karuan. Aku tak menyangka jembatan ini begitu panjang. Aku semakin mempererat ranselku. Aku harus mengembalikan Monopoly miliknya.
Pandanganku terfokus pada rumah besar yang sudah terlihat dari sini. Aku semakin mempercepat lariku. Hanya tinggal beberapa meter lagi. Tuhan, tolong jangan tabrakkan dulu meteor itu. Tolong biarkan aku bertemu dengannya dulu....
- Pukul 05.16
Dengan terengah, aku akhirnya sampai di rumah besar itu. Rumah yang gelap tanpa penerangan apapun. Rasa kelelahan langsung merayapiku dengan cepat. Aku terduduk lemas di depan rumah kosong itu. Aku terlambat...
Tangisku langsung meledak. Perjalananku selama dua hari dengan berlari dari kota seberang berakhir sia-sia. Mungkin dia sudah pergi mengungsi, entah kemana.
Tuhan... rasanya sakit sekali...
Tuhan... rasanya sakit sekali...
- Pukul 05.18
Saya terbangun kaget mendengar suara isak tangis kencang dari luar rumah. Perlahan, saya bangkit berdiri dan berjalan sambil meraba-raba ke arah pintu. Penasaran, saya membuka pintu rumah. Langit sudah tak segelap tadi malam. Agak samar, saya bisa melihat. Dan disanalah dia. Seorang perempuan duduk di halaman rumah dengan suara tangis kencang sambil memeluk ransel saya.
Dia langsung mendongakkan kepala ketika mendengar saya membuka pintu. Bahkan dalam pencahayaan yang minim, saya bisa melihatnya. Matanya membulat besar. Indah.
- Pukul 05.20
Aku mendongak kaget mendengar suara pintu terbuka. Dan disanalah dia. Berdiri kaget melihatku berada disini. Dia masih ada disini! Dia masih ada disini!
Aku langsung bangkit berdiri dan berlari ke arahnya.
- Pukul 05.25
Saya masih menatapnya kaget. Ini si gadis pemulung itu! Sedang apa dia disini?
Gadis itu mendadak berdiri dan berlari mendekati saya sambil terengah-engah sambil menyodorkan ransel yang saya berikan padanya ketika terakhir kali kami bertemu. Dia kemudian membuka resleting ransel dan mengeluarkan satu set monopoly yang sudah terbungkus rapi di plastik.
"Ayo kita main!" katanya dengan mata berbinar dan senyum lebarnya.
Hati saya mendadak terasa enteng. Serasa ada beban berat yang mendadak menghilang. Saya bisa merasakan senyuman lebar menghiasi wajah saya. Rasanya saya belum pernah sebahagia ini selama beberapa tahun ini.
Tapi kemudian pandangan saya beralih ke suara gemuruh kencang yang mendadak muncul dari langit. Dia pun berbalik, mendongak ke atas mengikuti pandangan mata saya dan.....
Kemudian kami berdua tidak merasakan apa-apa lagi.

No comments:
Post a Comment