Wednesday, July 7, 2010

saya terima nikahnya...

Dia duduk di depanku. Membelakangiku. Mengenakan baju warna putih gading dan peci dengan warna yang senada. Dia tak pernah setampan itu sebelumnya.

Walau terhalang beberapa ibu-ibu, aku bisa melihat gerak-geriknya yang gelisah. Aku yakin dia sangat gugup di pagi hari ini. Dalam beberapa hitungan menit ke depan, seluruh hidupnya akan berubah.

Tak lama, perempuan itu masuk ke dalam masjid. Perempuan ayu yang mengenakan kebaya dengan warna senada, putih gading, dan dengan rambut yang di sanggul. Kemudian perempuan itu duduk disampingnya. Menunduk. Mungkin dia juga merasakan kegelisahan yang sama dengan lelaki di sampingnya.

Aku terpaku menatap ke depan. Pusaran waktu di sekitarku seakan berhenti. Oksigen di sekitarku rasanya menghilang entah kemana.

Dan acara pun dimulai. Penghulu mulai membacakan syarat-syaratnya. Tapi aku sama sekali tak bisa mendengar apa yang dia katakan. Entah apa yang merasukiku, dalam hati aku berdoa mati-matian agar acara ini batal. Kalau Tuhan bisa mengabulkan satu permintaanku, aku ingin acara ini tidak dilaksanakan. Aku berharap ada keajaiban yang bisa menghentikan ini semua sebelum terlambat. Aku ingin dan akan melakukan apapun supaya bisa menghalangi acara ini agar jangan sampai terjadi. Tapi tubuhku kaku. Mataku tak bisa melepaskan padangan darinya. Dia, yang sekarang sedang membelakangiku tanpa sadar aku ada disana.

Mati-matian aku berharap dia berbalik ke belakang dan menatapku, kemudian sadar bahwa apa yang dia lakukan saat ini semuanya adalah suatu kesalahan. Ya, disaat ini, aku yang mungkin sedang kerasukan, berharap dia membatalkan semuanya, meninggalkan perempuan itu dan kemudian memilihku untuk duduk di sampingnya.

"...saya terima nikahnya Shiffa binti Nugroho..." suasana mendadak hening. Kedua telingaku tidak bisa mendengar apa-apa lagi. Dan ketika kata 'sah' itu terucap pertama kali, aku tak bisa menyembunyikan tangisku. Air mata itu meluncur tanpa bisa kutahan.

Seluruh tubuhku seakan mati rasa. Hanya satu yang bisa kudengar. Detak jantungku yang berdetak. Dan entah kenapa, aku merasa detak jantungku ikut menangis bersamaku. Menangisi kebahagiaannya.

2 comments:

rinella said...

huaaa mameeett
selesai baca gue langsung merindiiiing! (cozy)

Poooffy said...

Muahahaha... Untung cuman fiksi ye mpok (okok)