Saturday, April 11, 2009

Hanyalah sepucuk surat

Sore itu, sinar matahari yang berwarna kemerahan, masuk melalui pintu yang sengaja dibuka. Di sofa yang saling berseberangan, hanya ada mereka berdua. Duduk menunduk. Entah apa yang ada di pikiran mereka.

"Kulihat, kamu sekarang berbeda. Jauh berbeda sama kamu yang dulu." Sang wanita mengangkat kepalanya. Tersenyum.

"Dalam artian baik atau buruk?"

"Dalam artian baik." senyum sang lelaki terkembang. Gigi putih sang laki-laki yang ada dihadapannya, yang berderet dan tersusun rapi, selalu membuat sang wanita iri. Dan kemudian, sang wanita kembali menunduk.

"Ada yang mau aku serahin ke kamu..." katanya sambil mengambil kertas dan kemudian memberikannya padaku. Sepucuk kertas yang terlipat rapi, diberikannya pada sang wanita. Kedua alisnya bertaut heran, dan kemudian menatap sang laki-laki bingung. Perlahan, sang wanita membuka lipatan kertas itu. Sejenak, wanita itu terhenyak. Dia tahu tulisan tangan itu. Dia mengenalinya dengan sangat baik. Dengan panik bercampur kaget, sang wanita kembali menatap sesosok laki-laki dihadapannya.

"Itu surat darinya." Dadanya seakan bergemuruh. Menghentak dengan hebatnya. Rasa sesak yang berusaha dihilangkannya selama beberapa bulan ini, kembali datang. Dengan tangan gemetaran luar biasa, sang wanita berusaha membaca kata demi kata dalam tulisan itu.

Aku harap, waktu kamu baca surat ini kamu dalam keadaan baik-baik aja. Aku tau kamu pasti marah sama aku karena kamu jadi orang terakhir yang tahu kalau aku sakit. Aku benar-benar minta maaf. Maaf kalo aku selalu bikin kamu kesel dengan sikap egois aku yang di luar batas kewajaran ini. Tapi aku suka ngeliat kamu kesel. Aku suka ngeliat kamu marah.

Aku bener-bener bersyukur karena Tuhan mempertemukan aku sama kamu di akhir hidupku. Hidupku berubah waktu aku ketemu kamu. Aku jadi punya semangat untuk berjuang. Aku memang selalu berdoa. Tapi tetap, semangat hidup itu malah berkurang. Atau mungkin, memang sudah hilang. Entahlah. Aku nggak punya semangat lagi untuk ngelanjutin hidup. Sampai akhirnya, aku ketemu sama kamu.

Kamu bikin aku harus terus hidup untuk esok, untuk esok, dan untuk esoknya lagi. Setiap malam, aku selalu berdoa agar Tuhan bisa terus memberikan aku nafas untuk bisa hidup. Biar aku bisa terus ketemu kamu. Biar aku bisa terus ketawa-ketawa terus sama kamu sampe perutku sakit. Biar aku bisa terus ngeliat kamu kesel. Biar aku bisa ngeliat muka kamu yang kemerahan kalo lagi pilek dan ngucek-ngucek idung kamu terus sampe meraaaahh banget. Dan aku ketawa ngakak. Biar kita bisa nyanyi-nyanyi lagi sambil teriak-teriak di mobil. Biar kita bisa ngerayain ulang tahun masing-masing di tahun depan. Biar kita bisa berantem lagi tentang tempat duduk di bioskop.

Jangan terlalu terpuruk. Aku cuma salah satu orang yang pernah singgah di hidup kamu. Perjalanan kamu masih panjang. Mungkin di luar sana, ada orang yang jauh lebih baik dari aku. Menunggu takdir untuk mempertemukan kalian.

Kenangan kita luar biasa indah. Dan aku bener-bener menikmatinya. Inget semua kenangan indah kita ya. Tapi, nggak papa kalau kamu mau buat kenangan baru lagi. Karena hidup kamu harus terus berjalan. Waktu kita memang cuma sebentar. Tapi aku bener-bener ngerasa luar biasa selama waktu yang hanya sebentar itu.

Sayang, kamu jangan terlalu sedih. Kamu kan tau aku paling nggak bisa ngeliat kamu nangis. Aku nggak suka ngeliat kamu nangis. Tenang aja. Aku akan selalu ada buat kamu. Kalau kamu kangen aku, aku selalu di samping kamu. Kalau kamu lagi sedih, aku pasti meluk kamu. Kamu tau itu kan? Aku selalu ada buat kamu... Jangan lupain itu ya...

For the first time in my life, kayaknya aku ngerti deh arti cinta. Dan coba tebak? Aku cinta kamu. Banget!


Air mata itu tanpa sadar turun setetes demi setetes, membasahi kertas yang dengan erat dipegang sang wanita. Rasa gemetaran itu tak henti-hentinya menghilang. Ketika kalimat terakhir, yaitu cinta, yang biasanya dia rasa hanyalah sebagai sebuah omong kosong dan kegombalan semata, hari itu membuatnya menyadari, bahwa cinta itu hadir dalam dirinya. Membuncah keluar tanpa bisa dihentikannya.

"Itu surat terakhir darinya. sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya..." perkataan laki-laki itu, membuat sang wanita tak bisa berkata apa-apa. Rasa itu keluar. Rasa marah, kesal, benci, sayang, cinta....

"Dia bahkan nggak bilang apa-apa sama aku.... Dia nggak cerita kalau dia sakit!"

"Karena dia nggak cukup kuat untuk melihat kamu mengetahui semuanya! Karena dia nggak cukup kuat untuk... untuk melihat kamu menangisi dia ketika nanti akhirnya dia ninggalin kamu!"

Sang wanita kembali terdiam dalam tangisnya. Tangis yang semakin kelam, dan pedih. Sang lelaki dihadapannya, kemudian beranjak dan memeluk wanita itu dalam dekapannya. Betapa berat tugasnya. Dia harus menyampaikan satu-satunya pesan dari almarhum saudaranya kepada wanita yang menjadi sahabatnya, sekaligus wanita yang sangat dicintai almarhum saudaranya itu.

"Kamu orang pertama dan terakhir yang dicintainya sebesar itu. Seumur hidupnya, aku tak pernah melihatnya begitu mencintai wanita seperti dia mencintaimu. Kumohon, maafkan dia atas semua yang telah dia lakukan padamu. Relakan dia pergi, agar dia bisa tenang di alamnya." Wanita itu tidak menjawab. Dia masih terus menangis. Dalam hati sang wanita, dia sangat sangat ingin memaafkan lelaki yang menjadi tumpuan hatinya itu. Wanita itu sangat ingin merelakan kekasihnya pergi dengan tenang.

Tapi satu hal yang membuat dia belum melakukan itu semua. Dia ingin semua kata-kata yang ada disurat itu, diucapkan sendiri oleh lelaki itu. Dia ingin mendengar kata-kata cinta itu diucapkan langsung padanya. Bukan hanya kata-kata yang dituangkan dalam tulisan. Bukan hanya tulisan yang ada dalam sepucuk surat.

Dan sore itu, seharusnya sama seperti sore-sore sebelumnya. Dengan cahaya sinar matahari senja yang masuk melalui pintu yang sengaja terbuka.

6 comments:

agyu said...

:((

Poooffy said...

;))

Nury said...

Wew.. It makes me cry when i read it.. Very touching...

*bsa jga lw biqn kta2 dalem, ketularan floren ya?!* huehehe

Poooffy said...

Nuri : xixixixixixi.... kata2 dalem ini gw temukan setelah bertapa di gunung kidul 3 hari 3 malem. Hahahaha....

Icha Sanusi said...

ini cerpen atau bukan meit?

Poooffy said...

Icha : ngiahahahaha.... cerpen cha