Thursday, January 3, 2008

Lenggak-lenggok Jakarta....

Jakarta... kota yang congkak. Dan termasuk manusia-manusia di dalamnya. Mmm... sebenernya itu kata sodara gw sih. Tapi kalo dipikir2, bener juga. Kota yang propinsinya bersebelahan dengan kota yang gw tinggalin sekarang, Jakarta, adalah kota metropolis yang congkak.
Sodara gw nyang tinggal di bandung, waktu kmaren ke taman safari, agak kaget sama silver bird. Mmm... itu kan mercy dijadiin taksi. Kalo yang tinggal di kawasan sekitar jakarta sih udah biasa. Ato mungkin yang udah sering ke jakarta, mikir itu udah biasa banget. Dan pas gw bilang kalo ga salah, buka pintu aja tarifnya 20 rebo, keseleklah sodara gw itu. DAn stelah diselikidi, ternyata yang bener itu tarifnya 6 rebo. cuma naeknya cepet banget! Jadi ya, sama aja mnurut gw mah.

Sbenernya, memang sih. Standar yang tinggi, pas kalo di terapin di jakarta yang notabene adalah pusatnya indonesia. Tapi berkat itu, gw beranggapan bahwa sebagian orang jakarta (nggak semua), merasa agak sombong juga kalo ke kota kecil. Sumtimes kalo ada yang nggak sreg di pandangan kita, langsung aja ngomong dalem hati ”gila! Apaan nih? Tau kayak gini, mendingan ga usah dateng!”

Dan jujur, itu agak sering gw alamin. Dan temen2 gw juga kadang ngerasa gitu. Yah, walopun gue bukan orang jakarta, tapi dengan status kampus gw yang berada di daerah jakarta itu, jadi agak kebawa kali yah.

Dengan segala kemegahan dan kemewahan Jakarta yang agak sering gw cicipi, sumtimes gw juga mikir.... kalo misalnya suatu saat ada waktunya gw harus meninggalkan kota metropolis ini dan menetap di salah satu kota yang bahkan sbelumnya nggak terpikir sama gw, berapa lama gw bisa beradaptasi? Berapa lama gw baru bisa menerima bahwa disana nggak ada taksi?
Jakarta juga adalah salah satu tempat dimana menerima kaum yang menurut alquran di kutuk.

Disini, kaum gay dan lesbian udah nggak asing lagi. Mmm.. dan bersahabat dengan salah satu kaum itu. Eh, kedua-duanya malah. Yap!

Dan setelah lama dengan kebiasaan bersama mereka, lama2 gw jadi terbiasa dengan mereka disamping gw. Disatu sisi, gw kontra dengan mereka. Tapi disatu sisi, mereka teman yang baik. Sahabat yang mengerti gw. Tapi begitu gw keluar dari kawasan propinsi DKI itu, gw baru sadar. Ternyata kaum mereka masih amat sangat dianggap tabu di kota-kota lain. Agak ironis. Hanya dengan memasuki satu kota, kita bisa terkontaminasi dengan keadaan sekitar.

Dunia malam pun menjadi salah satu lifestyle. Well, mungkin bukan hanya di jakarta. Tapi sekarang sudah mulai ke bandung, yogya, surabaya. Bali sih jangan ditanya. Disana kan banyak bule.
Pergi jam 11 dan pulang pagi sudah bukan masalah lagi. Cuma have fun, begitu kata sebagian orang. Tapi sebagian lagi sudah amat sangat addict dengan dunia malam. Sehingga menjadi suatu kewajiban. Dan juga katanya, disana kita bisa mengenal lebih banyak orang. Membuat networking yang lebih luas.

Ya, Jakarta. Dimana nilai-nilai yang dulu diajarkan orang tua kita, perlahan mulai terlupakan dan mulai menghilang.

Dimana dulu, seorang wanita tabu untuk pulang malam. Sekarang? Bukan malam lagi. Tapi ketika fajar menyingsing, kita baru sampai di rumah. Melepaskan lelah yang menjalar karena telah bersenang-senang.

Dimana orang yang mencintai sesama jenis, mulai tidak tabu lagi. Dimana orang yang melakukan seks, dengan tenangnya melakukannya hanya demi kesenangan sesaat dan nafsu yang tertahankan.

Dimana hingar bingar Jakarta merupakan suatu yang harus dinikmati setiap orang. Mengumandangkan kebesarannya.


Jakarta... kota metropolis yang menawarkan sejuta keagungan dan kemewahan.

No comments: